Selasa, 26 November 2013

Menahan Marah

Bismillahirrohmannirrohiim,

Tentunya teman-teman semua tau, jika sedang ada perseteruan antara seorang pengacara dan seorang artis. Di mana sang pengacara mengoceh di twitter, yang kemudian ditanggapi oleh anak laki-laki dari artis itu yang tidak terima ayahnya dilecehken. Timbul rasa ingin membela nama baik sang ayah, kedua anak laki-laki artis menantang duel di atas ring tinju. Masalah ini kemudian menjadi panjang karena si pengacara makin mengoceh tidak saja di twitter tapi juga di mass media. Makin menggelikan omongannya. Lebih lucu dari pada acara OVJ. Hihihi... kok malah jadi ngomongin infotainment sih. Bisa-bisa di protes nih kalau blog ini cerita gosip ^_^.

Ah si bunda, ngakunya jarang nonton TV tapi berita gosip kok paham gitu. Hehehe... Saking ramenya yang membicarakan, akhirnya kan jadi tau juga. Tapi... karena kasus itulah aku jadi ingin menulis tentang bagaimana seorang anak yang ingin membela kehormatan keluarga. Bukan karena dipengaruhi atau diminta oleh orang tuanya, tapi memang tumbuh dalam diri si anak. Peran orang tua perlu mengarahkan, agar pembelaan ini tidak menjadi perbuatan anarkis dan salah.

Di keluargaku, adalah Luthfan, si sulung yang selalu tampil di depan jika ada yang dia rasa tidak menghormati ayah bunda dan adik-adiknya. Kadang yang dilakukannya bisa dengan cara kasar, tapi kadang juga bisa dengan cara santun dan mengharukan. Jiwa mudanya memang harus selalu dibimbing agar tidak meluap.

Waktu aku masih mengelola kantin, Luthfan sedang bantu-bantu di kantin (waktu itu dia masih SMP, sekarang sudah SMA kelas XII). Tiba-tiba dia melihat ada karyawan kantin yang besikap dan berkata tidak sopan padaku. Luthfan langsung menghentikan pekerjaannnya, dan mendekati karyawanku dengan wajah yang tidak ramah, sambil berkata,"Bunda... Boleh nggak aku tonjok orang ini! Sembarangan nggak sopan gitu sama bunda."

Waahh.. tentu saja aku kaget dengan reaksi Luthfan. Aku malah jadi sibuk menenangkan emosi anakku itu. Terakhir dia mengancam," Lu begitu lagi sama bunda, lu ngadepin gua!" Tanpa ada rasa takut menghadapi karyawanku yang sudah pasti usianya jauh di atas Luthfan.

Akhirnya aku menyuruh Luthfan pulang supaya suasana kerja jadi tidak makin kacau. Dia sempat berbisik sebelum pulang,"Aku menghormati bunda, makanya aku nggak pukul dia. Tapi kalau dia ulangi lagi, jangan larang aku."

Aku usap kepalanya sambil mengucapkan terima kasih. Tak ada gunanya memberikan nasehat pada saat dia emosi begitu. Setelah di rumah barulah aku dekati Luthfan dan menasehati untuk tidak membiasakan diri menyelesaikan sesuatu dengan emosi apalagi adu fisik. Nasehat ini memang harus selalu diulang dan diulang terus sepanjang gejolak remajanya belum stabil. Tapi memang tetap harus memperhatikan waktu. Tidak pada saat dia sedang panas, supaya dia tidak merasa disalah-salahkan atas niat baiknya.

Siakpnya akan sama kalau ada temannya atau teman adiknya yang memakai nama ayah bundanya sebagai olok-olok/senda gurau.

"Lu ngeremehin ayah bunda gua, berarti lu ngeremehin gua. Gua nggak suka nama orang tua gua buat candaan gitu." Itu yang pernah aku dengar sendiri waktu temannya main ke rumah dan bercanda.

Atau bisa juga sikapnya mengharukan seperti yang pernah aku tulis dalam Kisah Sebuah Dompet. Membantu Hilman menyelesaikan masalah dengan temannya dengan cara baik sekali.

Begitulah... Menurutku wajar kalau seorang anak ingin membela orang tua yang dihormatinya. Seperti juga anak-anak artis itu. Yang perlu diarahkan adalah caranya. Jangan sampai, niatnya membela kebenaran tapi caranya salah, nantinya malah jadi berubah posisi menjadi pihak yang bersalah. Ini namanya konyol. Tak perlu adu fisik segala. Apalagi sampai ada yang terluka.

Sampai saat ini memang belum pernah terjadi Luthfan berantem dengan alasan apapun. Alhamdulillah. Tapi aku akui, anakku itu memang harus selalu diusap, dibelai, dipeluk, didengarkan, dinasehati, agar tidak lepas kontrol. Dan yang paling penting, tetap mendekatkan dia pada agama, terutama dalam menasehati. Bahwa kekuatan fisik bukanlah menandakan bahwa orang itu kuat di mata Alloh, tapi lebih kepada perlunya menahan hawa nafsu dari amarah itu sendiri.




Sudah banyak contoh, jatuh kehormatan seseorang justru karena tidak bisa menahan marahnya. Mengendalikan hawa nafsu pada saat marah memang tidak mudah, tapi perlu dibiasakan. Itu makanya kemampuan menahan marah dikatakan sebagai sebuah kekuatan. Diperlukan kesabaran dan pikiran positif, yang memang lebih membutuhkan pasukan tangguh.

Untuk bisa mendidik anak-anak bisa menahan marahnya, tentunya kita selaku orang tua yang harus terlebih dahulu memiliki sikap itu. Sebuah teladan memang selalu diperlukan. Insya Alloh.









Read more

Rabu, 06 November 2013

Delapan Hari Tanpa Internet

Bismillahirrahmannirrahiim,

Sore itu hujan cukup lebat. Karena pekerjaan rumah sudah beres, aku menyalakan komputer berniat mau blog walking. Ketika sedang asyik-asyiknya membaca tulisan sebuah blog, tiba-tiba petir menggelegar kencang, dan peettt...! Wifi dan komputer langsung mati. Mendadak cemas. Apanya nih yang kena? Setelah dicek, ternyata wifinya yang kena.


Keesokannya lapor ke ***dy. Tapi ternyata ditunggu tidak datang. Besoknya telpon lagi, juga tidak datang. Sampai empat kali telpon, tak kunjung datang juga. Galau dan mangkel sudah menumpuk jadi satu. Apalagi aku harus mengikuti #30HariBlogChallenge yang sudah memasuki week 2 waktu itu. Terpaksa nebeng membuat postingan di rumah teman. Yang namanya numpang, kan tetap harus menjaga dari kenyamanan pemilik rumah dan keluarganya. Apalagi harus kerepotan karena harus berbagi waktu dengan urusan antar jemput sekolah dan les anak-anak. Alhamdulillah akhirnya blog challenge minggu ke-2 beres juga akhirnya.

Senin kemaren, suamiku kembali menelpon ke ***dy dengan nada kalimat yang cukup tinggi, Selasa baru petugas datang dan sebentar dikerjakan sudah beres. Perangkat modem wifinya diganti dengan yang baru. Kalau dihitung-hitung berarti ada delapan hari kami tanpa internet. Karena biasa ada wifi, paket BBku ambil yang minimalis, anak-anak juga nggak ambil paket internet dari hape mereka. Jadi otomatis kami semua terdiam, tak bisa melakukan aktifitas seperti biasanya.

Galau? Diakui memang ada. Anak-anak juga ada mengeluhkannya. Apalagi sekarang banyak tugas-tugas sekolah yang mengharuskan mereka menggunakan internet. Tapi tetap saja ada hikmah yang bisa diambil. Aku malah jadi bisa lebih banyak ngobrol dan bercanda sama anak-anak. Secara anak-anak juga jadi lebih ada dalam nyata. Hihihi... Bisa iseng gangguin Astri di kamarnya, ngobrol sama Luthfan, mendengar curhatan Hilman, gelitikin Fanni sambil rekam-rekam suaranya. Pokoknya tetap seru aja.

Jadi ingat sama GA Iyha AmiOsar yang bertema sehari tanpa gadget. Kok ya pas. Di GA itu aku diminta Iyha menjadi juri, eehh... kok ya ngalami yang seperti ini. ^_^  Biar lebih menghayati peran sebagai juri kayaknya nih.

Tulisan ini memang bukan untuk diikutsertakan dalam GA tersebut, karena yang aku alami ini bukan tanpa gadget sama sekali. Tapi 8 hari tanpa internet, memang cukup merepotkan buat semua anggota keluarga. Sudah sedemikian menyatukah internet dengan kehidupan kita? Kalau mendengar keluhan anak-anak yang berhubungan dengan tugas sekolah mereka, kasihan juga mereka jadi harus menyelesaikannya dengan memanfaatkan wifi di sekolah mereka. Pulang sekolah jadi lebih sore.

Ada pengalaman sehari tanpa gadget? Atau berandai-andai apa yang akan dilakukan apabila sehari tanpa gadget? Tuangkan dalam tulisan untukmengikuti GA Sehari Tanpa Gadget yang sedang digelar oleh pemilik Little O Store.
http://advertiyha.blogdetik.com/2013/10/27/sehari-tanpa-gadget/







Read more

Senin, 21 Oktober 2013

Pertanyaan Untuk Anak-Anak

Bismillahirrahmannirrahiim,

Masih ingin menulis di blog ini, meski sebetulnya Lovely Little Garden sudah agak lama tidak update. Rasanya sedang senang bicara tentang anak-anak. Makin hari, makin ada saja yang membuatku tersenyum dari sikap dan perilaku anak-anak. Tak selamanya tersenyum sebetulnya, sebab dibalik tingkah laku manis anak-anak, selalu saja ada yang berbeda pendapat dengan ayah bundanya. But... so far so good-lah.

Melihat-lihat galery hape Astri sering dapat yang lucu dan unik aja. Tentu saja ini aku lakukan atas ijinnya. Kalau tidak, ya mana bisa aku buka hapenya, secara bunda satu ini kan gaptek. Salah pencet aja teriak-teriak dulu biar bisa kembali ke menu sebelumnya. Hihihi...

Galery hapenya banyak berisi quote, coretan-coretan tangannya, foto-foto diri dan teman-temannya, foto-foto benda, pemandangan atau apa saja yang nantinya bisa dia jadikan background quote. Dan... lagi-lagi aku tertarik pada sebuah tulisan tentang ibu dalam bahasa Inggris. Membacanya, aku tersenyum tipis dan tak tahan untuk memanggil dan bertanya pada Astri.

tulisannya sudah aku edit sendiri

"Astri, tulisan yang ini, menurut Astri, Mom-nya bawel nggak?"

"Bawel sih, tapi no problem."

"Maksudnya?"

"It's mean, their mom don't care with their kids."

"So...?"

"So... I prefer you ask me some question."

"Are you sure?"

"Iya Bundaaaa... Ditanya-tanya begitu kan artinya my mom perhatian. Nggak masalah, malah suka."

"Tapi kan ada yang merasa selalu diawasi, ibunya cerewet, kepo, mau tau aja, dan... banyak lagi."

"Ahhh.. anak-anak itu aja yang lebay. Kalau dicuekin baru tau rasa deh ntar. Bunda ingat nggak kemaren waktu aku ijin mau pergi malah minta bunda tanya-tanya persiapanku. Kuatir ada yang kelupaan. Aku malah pengennya bunda tau aku pergi sama siapa aja. Aku jadi lebih merasa aman."

"Alhamdulillah... Bener begitu, Nak?"

"Iya Bundoooo... Believe me."

"Tapi pertanyaan bunda beda dengan yang ada di tulisan itu."

"Ya harus beda doong... Because I'am special... Am I, Mom?"

"Hahaha... Of course, dear. Remember the list?"

"Ingaaaatt....! Pertanyaan wajib beserta pertanyaan tambahan sesuai dengan situasi dan kondisi. Hahaha...... I love you, Mom."

Apa lagi selanjutnya kalau bukan peluk dan cium buat gadisku itu.

Inilah pertanyaan wajib bunda buat Astri 

Kalau menurut teman-teman semua, bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyertai anak-anak bila minta ijin pergi? Perlukah? Atau malah tidak, dengan maksud melatih kemandirian dan tanggung jawab anak. Sebatas mana kita bisa bertanya kepada anak-anak? Kita sharing yuk... ^_^







Read more

Sabtu, 19 Oktober 2013

Pelukan Ibu

Bismillahirrahmannirrahiim



Sebuah pelukan yang diberikan dengan penuh kasih sayang akan membawa efek yang dahsyat. Aku ingin bercerita tentang efek dahsyat sebuah pelukan dari seorang ibu kepada anak laki-lakinya. Mengapa aku katakan dahsyat? Sebab efeknya tidak saja dirasakan oleh mereka berdua yang berpelukan, tapi juga oleh seorang anak gadis yang melihatnya. Seorang adik dari anak laki-laki itu. Dan gadis itu adalah... Aku.

Aku masih kuliah waktu itu, dan mas Yoyok sudah bekerja di Kalimantan, di sebuah perusahaan tambang batu bara. Aku lupa berapa bulan mas Yoyok tidak pulang, yang jelas aku sudah amat merindukannya, begitupun ibu dan bapak. Mas Yoyok memang tak perlu waktu lama mencari pekerjaan sejak lulus kuliah. Alloh memudahkan hanya dengan sekali melamar, bisa diterima bekerja di perusahaan batu bara yang cukup besar itu. Kami semua tentu dengan bahagia mendukungnya, walaupun itu berarti harus rela berbulan-bulan tak bertemu dengannya.

Hari itu... Mas Yoyok akan pulang untuk pertama kalinya. Aku dan ibu sibuk menyiapkan masakan kesukaannya. Ingin menyambutnya dengan hangat. Aku semangat sekali membayangkan idolaku itu akan pulang. Maka... Kalau ada yang amat berkesan dari kepulangannya itu, amatlah dalam maknanya.

Aku sudah sering melihat ibu memeluk masku. Adalah pemandangan biasa buatku melihat ibu mendekap masku. Tapi... hari itu beda. Ibu menyambut kedatangan masku dengan kedua tangan terbuka, begitu masku dekat dengan ibu, segera pelukan erat dari ibu rekat di tubuh mas. Yang aku tahu, itu pelukan rindu, pelukan bahagia, pelukan harapan, pelukan sayang. Ahh... Pelukan dengan segenap perasaan yang tak sanggup diungkapkan dengan kata-kata oleh ibu kepada mas. Semua rasa yang ada dihati ibu, tumpah ruah dalam ungkapan berwujud pelukan dan airmata yang tak sanggup dibendungnya. Tangan ibu melingkar pada leher mas, wajah ibu terbenam pada dada mas, tak ada kata-kata.... hanya airmata yang bicara. Bicara banyaaak sekali. Lama ibu tak melepas pelukan itu. Mungkin sebetulnya ibu ingin merangkaikan kata-kata indah buat mas. Mengemas isi hatinya dengan ungkapan-ungkapan yang menenangkan mas. Tapi ibu tak sanggup. Mas terdiam dalam haru. Menerima dan menikmati semua ungkapan rasa ibu dengan kedamaian.

Subhanallah... Ya Rabb! Dadaku bergetar menyaksikannya. Bukan karena aku iri atau tidak suka. Tapi aku seolah bisa merasakan kebahagiaan masku mendapat pelukan itu. Seakan aku merasakan langsung pelukan ibu itu. Sepertinya aku mengerti mengapa ibu sampai mencurahkan semua rasanya pada sebuah pelukan hangat dan dalam kepada anak sulungnya itu. Aku bersyukur dapat menyaksikan moment itu, memahami maknanya, merasakan kebahagiaannya, dan merekamnya dalam memori yang kuat. Menyimpannya dalam ingatan yang lekat. Hingga saat ini. Meskipun itu sudah berlalu hampir 20 tahun yang lalu. 

Ibuku memang terbiasa memeluk anak-anaknya. Tapi bahasa kasih ibu kepada kami anak-anaknya memang berbeda-beda. Sepertinya ibu begitu memahami bagaimana menyelami anak-anaknya. Kepadaku yang mempunyai sifat sama kerasnya dengan ibu, berbeda dengan kepada mas dan adik-adikku. 

Mengapa aku katakan efek sebuah pelukan bisa menjadi dahsyat? Karena semakin hari aku semakin mengerti apa arti sebuah pelukan, bagi ibu dan bagi anaknya. Setelah menjadi ibu dari 5 orang anak, aku kini bisa merasakan makna sebuah pelukan dari sisi seorang ibu. Kalau dulu aku seolah bisa membayangkan kebahagiaan mas ku (anak) menerima pelukan ibu. Kini aku mengerti kebahagiaan ibu waktu memeluk mas. Aku kini merasakan sendiri perasaan ibu memeluk anak sulungnya. Harapan dan doa pada seorang anak laki-laki paling besar selalu terselip dalam pelukanku. Maka wajar bukan kalau aku katakan efeknya dahsyat.

Maha Pengasih dan Penyayang Allah yang memberikan kebahagiaan dan kedamaian lewat sebuah sentuhan sederhana. Ternyata sebuah pelukan yang dilakukan dengan tulus dengan melafaskan Asma Allah mampu memberikan kekuatan seorang ibu menghadapi hari-harinya. Mudah sekali bagi Allah memberi kehangatan dan kedekatan hati ibu dan anaknya. 
Ternyata bukan hanya anak yang butuh pelukan dari ibunya, tapi sang ibu juga membutuhkan pelukan dengan anaknya. 
Jadi kalau kita berfikir, kita memeluk anak karena ingin sekedar membahagiakan dan menenangkan anak, rasanya tidak terlalu benar (meski juga tidak salah). Coba rasakan apa yang kita butuhkan pada saat kita lelah dengan segala persoalan hidup, pada saat harapan-harapan berguguran satu demi satu, pada saat keresahan bagai tak mampu kita teriakkan, saat galau datang, memeluk anak mampu memberikan energi tersendiri - tentu saja memohon petunjuk dan kekuatan tetaplah pada Allah semata . Jadi kalau kita butuh anak-anak untuk membantu kita menumbuhkan energi dan semangat, mengapa kita enggan memeluknya....? 


*Efek kangen bunda pada Luthfan. Tiga hari aja kok rasanya lama banget ya, Nak.







Read more

Jumat, 04 Oktober 2013

Menjadi Teman Anakku

Bismillahirrahmannirrahiim,

Sebagai seorang ibu, sudah barang tentu aku ingin bisa menjadi teman buat anak-anak, bahkan menjadi teman dari teman anak-anakku. Setiap ada teman anak-anak yang main ke rumah, aku selalu mencoba menyapa dan sedikit berbincang dengan mereka. Awalnya aku kuatir akan dianggap emak-emak usil oleh para remaja itu. Tapi rupanya tidak. Dengan berusaha membaur dengan mereka, aku jadi bisa ikut bersenda gurau dengan mereka. Tak usah berlama-lama, sebab nanti bisa-bisa mengganggu keperluan mereka datang ke rumah. Bagaimanapun, mereka tetap membutuhkan privacy dalam bercanda dan berbincang. Tanpa ada seorang emak kepo di antara mereka. Hihihi...

Yang seru adalah pertemananku dengan teman-teman Astri. Ada untungnya rumah kami dekat dengan sekolah Astri sejak SMP sampai SMA ini. Teman-teman Astri jadi sering kumpul di rumah baik untuk belajar bersama atau sekedar main saja. Astri kalau punya teman, biasanya cukup solid. Bahkan teman SDnya saja masih banyak yang suka datang ke rumah. Karena Astri sering bercerita tentang teman-temannya, akupun jadi hapal dengan nama mereka.


Lucunya, ada diantara mereka yang suka sekali baca tulisanku di Lovely Little Garden. Sampai-sampai Astri berpesan, "Bunda kalau mau nulis tentang aku di blog lain aja, jangan di Lovely Little Garden. Teman-temanku banyak yang baca. Ntar aku diledekin."

Astri punya grup WA dengan teman-temannya. Seringkali Astri bercerita topik apa yang sedang ramai mereka perbincangkan atau candakan. Aku sering ikut tertawa dan minta Astri menuliskan "celetukanku" di WA mereka. Bahkan nasehat kadang aku titipkan, dan bener-bener disampaikan sama Astri di grup. Aku jadi serasa jadi anggota grup itu.

"Bunda pesan, di SMA manapun kalian nanti diterima, itu adalah yang terbaik buat kalian. Alloh Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNya." Astri menulis persis apa yang aku katakan. Dan teman-teman Astri satu persatu menjawab,

"Iya, bunda. Terima kasih." Atau... "Doakan kami dapat yang terbaik." Atau..."Siap, Bunda."

Tapi kadang Astri bikin iseng,"Bunda gua pesen nih... Jangan nakal sama Astri, yang suka jajanin Astri."

Weeewww... Modusnya Astri memanfaatkan nama bunda. Kalau aku tertawa dibacakan isi WA teman-temannya, Astri akan menyampaikan," Wooi.... diketawain bunda nih...!"

Pernah aku bilang,"Kalau Astri kesulitan pelajaran, tolong dibantu ya."

Eeeh... besoknya mereka datang ke rumah untuk belajar bersama. Ahaaaiii... pada nurut bener ya. Mereka mengerjakan soal-soal, diselingi senda gurau khas remaja tentunya. Rumah jadi ramai.

Berikut ini ada beberapa foto yang menggambarkan pertemanan Astri. Hanya sedikit yang ada di fileku. Tapi tak apalah, hanya sekedar menggambarkan keceriaan remaja-remajaku.

awalnya Astri hanya bertanya soal yang tak bisa dikerjakan pada satu temannya
tiba-tiba yang lain nimbrung

 tugas kelompok plus main kartu UNO

Buka Puasa bersama Ramadhan lalu

Serba-serbi 

Lagi pada liat apa sih? 

bersahabatlah selamanya

Senang sekali rasanya bisa membaur dengan teman-teman Astri. Jadi berapa muda. #jauhin cermin ^_^ Tiap datang dan mau pulang, mereka selalu mencium tanganku sebagai tanda hormat. Ada yang belum kesampaian nih... Pengen main kartu UNO sama mereka, tapi takut kalah dan dicoret-coret bedak. Maluuuuu.... hihihi....

Ada tulisan lucu disimpan di hape Astri. Ternyata sampai seperti itu ya seorang ibu diibaratkan dalam perhatian anaknya. Waktu aku membaca tulisan ini, aku ketawa geli. Jadi aku minta Astri mengirim ka hapeku.

H





Read more

Selasa, 01 Oktober 2013

Jadilah Laki-Laki Yang Basthotan Fil Ilmi Wal Jismi

Bismillahirrahmannirrahiim,

Masih tentang anak sulungku, Luthfan. Belakangan memang Luthfan sedang menunjukkan perkembangan mental dan kedewasaan cara berpikir. Aku ingin mencatatnya di sini, sebagai bagian dari masa perkembangannya.


Di usia 17 tahun ini, Alloh memberikan banyak kenikmatan dan petunjuk untuk Luthfan. Alhamdulillah, pintu bagi ladang amalnya dibukakan Alloh tanpa disangka-sangka. Semua berawal dari sebuah sms yang aku terima pukul 04.00 WIB dari Ukhti Hani, guru halaqahku.

"Bismillah... Mbak Niken, nanti jam 06.00 saya mau telpon, ada yang mau saya bicarakan tentang Luthfan. Saya juga perlu bicara dengan Luthfan."

"Bismillah... Iya, ukhti. Nanti saya beri tahu Luthfan."

Dalam hati aku bertanya-tanya, ada apa gerangan ukhti Hani ingin bicara dengan Luthfan. Tapi aku yakin, ini bukan sesuatu yang buruk, justru hatiku mengatakan, akan ada kabar baik untuk Luthfan.

Benar saja. Ternyata Ukhti Hani memberikan tawaran untuk Luthfan mengajar les private matematika anak SD. Karena ukhti Hani pernah tinggal bersama kami selama 6 bulan, ukhti merasa Luthfan mampu mengajar. Sebetulnya ada juga permintaan untuk anak SMP, tapi karena baru pertama kali, jadi ukhti menyarankan untuk mengajar yang SD dulu. Bahkan orang tua anak itu minta hari ini juga langsung les karena sedang UTS (Senin, 30 Sep).

"Saya ada bimbel jam 16.30, bu Hani. Sedangkan pulang sekolah jam 15.00."

"Bisa tidak Luthfan usahakan sebelum bimbel mengajar Noval dulu (nama muridnya)?"

"Oke deh, saya minta nomor hape ibunya Noval, untuk tanya alamatnya."

Aku merasa surprise sekali mendengar obrolan telpon Luthfan dan Ukhti Hani. Sambil membayangkan Luthfan akan pergi sekolah jam 6.15 dan akan pulang ke rumah di atas jam 20.00. Tapi aku tetap mendukung kesempatan yang datang ini. Menyimak percakapan Luthfan dengan ibunya Noval pun membuatku tersenyum bahagia. Luthfan bisa begitu berbeda dari biasanya. Tenang dan berwibawa. Aaiiihhh... Peluk Luthfan...

"Bersyukur mas Luthfan, Alloh memberikan jalan buat mamas berbagi ilmu yang mamas punya. Yang ikhlas mengajar. Lakukan bukan semata-mata karena uang yang akan kamu dapat, tapi kamu sedang belajar di sekolah kehidupan yang tidak kamu dapat di sekolah formalmu."

"Doakan aku, Bunda." Luthfan mencium tanganku cukup lama. Aku membelai kepala dan kemudian menciumnya. Setelah itu Luthfan berangkat sekolah. Seharian itu aku sengaja tak menghubunginya untuk sekedar bertanya mengenai pengalaman pertamanya mengajar. Aku ingin mendengar langsung kalau Luthfan sudah tiba di rumah.

Menyambutnya pulang jam 20.20 serasa ingin langsung memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Tapi aku tahan untuk memberi kesempatan Luthfan istirahat, mandi, sholat Isa dan makan. Setelah itu barulah cerita mengalir dari bibirnya.

"Mamanya Noval cuma ngobrol sebentar tadi, tanya aku sekolah di mana, terus nyeritain kelemahan-kelemahan Noval. Oh ya... aku juga diminta ngajar ngaji Noval dan adiknya."

"Ngajar ngaji juga? Adiknya kelas berapa?"

"Kelas 1, Noval kelas 5."

"Kamu ngajar ngaji, gimana maksudnya?"

"Adiknya Iqro', Noval Qur'an. Tadi habis belajar sama Noval, ngaji sebentar. Trus aku langsung  ke bimbel."

"Subhanallah... Mas Luthfan bersedia juga ngajar ngaji?"

"Iya, nggak apa-apa kan Bunda?"

"Boleh-boleh saja. Bagus malah. Tapi bunda cuma mau mengingatkan, uang yang mas Luthfan terima, adalah bukan karena mengajar ngaji, tapi karena mengajar bidang studi atau pelajaran. Mas Luthfan tau kan, kita tidak boleh menerima bayaran karena mengajarkan Alqur'an. Luruskan niatmu ya Nak. Sudah pernah dapat ayatnya kan?"
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api , dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih." (Al-Baqarah:174)
"Atau engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka? Sedangkan imbalan dari Tuhanmu lebih baik, karena Dia Pemberi rezeki yang terbaik." (Al-Mukminun 72)
"Iya, Bunda. Aku paham kok soal itu. Makanya tadi aku oke aja adik Noval ikut belajar. Nggak masalah. Aku kan memang niat ke sana buat ngelesin Matematika. Tadi aku langsung dibayar untuk pertemuan hari ini. Mulai Oktober, dibayar bulanan. Aku udah bilang kok, kalau untuk ngajinya aku nggak mau dibayar."

"Bagus, Say. Kita selama ini begitu dimudahkan Alloh untuk belajar Alqur'an. Ditemukan dengan Ukhti Hani, Pak Umar (guru halaqah anak-anak sekarang), yang begitu ikhlas mengajarkan ilmu Alqur'an tanpa meminta imbalan apapun. Jadi itu juga yang harus mas Luthfan lakukan. Insya Alloh dapat balasan dari Alloh lebih besar. Anggap saja ini ladang amal buatmu. Subhanalloh, Nak. Jalan dari Alloh ini."

"Minggu depan aku mau rubah jadwal lesnya biar nggak sama dengan hari bimbelku. Supaya ngajarnya bisa lebih santai."

"Setuju! Mamas juga nggak terlalu capek. Tadi Ukhti Hani bilang kalau ada anak SMP juga yang mau les Matematika dan Fisika. Berani nggak?"

"Insya Alloh bisa. Tapi nanti dulu, Bun. Aku biar jalan dulu sama Noval ini. Aku kan harus bagi waktu sama belajarku sendiri. Takut sama tanggung jawabnya nanti."

Apakah aku tak boleh merasa bangga padanya? Luthfanku sudah bisa berpikir begitu bijaksana. Dia sudah kelas XII, jadi harus fokus pada persiapan ujian akhir dan persiapan masuk perguruan tinggi. Luthfan punya target cukup lumayan ke depannya, yang harus diupayakan dengan semangat dan giat belajar. Melihat kesehariannya, aku bisa melihat Luthfan serius ingin meraih apa yang dicita-citakan. Seperti biasa, ayah bunda mensupport dengan semampunya.

Anakku, jadilah kau laki-laki yang Basthotan fil ilmi waljismi (kuat ilmu dan fisik).






                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      
Read more

Senin, 23 September 2013

Luthfan Adalah Abangku

Bismillahirrahmannirrahiim,

Di rumah, aku masih berusaha untuk mengenalkan lagu anak-anak. Lumayan banyak lagu anak yang masih aku ingat, apalagi waktu aku ikut Bina Musika dulu, untuk latihan sering memakai lagu anak. Alhamdulillah, anak-anakku tak pernah ikut-ikutan menyanyikan lagu yang hanya asal mengikuti trend saja sekalipun syair lagunya bukan untuk anak.

Anak-anak biasanya punya lagu kesukaan. Begitu juga dengan Fanni. Ketika aku bertanya padanya, jawabannya tentang lagu kesukaan tidak aku duga sebelumnya.

"Apa sih lagu kesukaan Fanni?"

"Ruri Abangku."

"Di sekolah sering nyanyi lagu itu ya?"

"Enggak kok, kan bunda yang sering nyanyi lagu itu, namanya diganti dengan Luthfan."

"Ooohhh... Jadi Fanni suka lagu itu karena nama Ruri diganti Luthfan?"

"Iya."

Untuk jelasnya aku tuliskan syair lagu Ruri Adalah Abangku yang sudah aku ganti dengan nama Luthfan, kakak Fanni yang sulung.
Luthfan adalah abangku
Rajin dan senang belajar
Dengan menyandang tas di bahu
Riang menuju sekolah
Berhitung menulis membaca
Tak lupa diulang di rumah
Ingin akupun demikian
Serajin Luthfan abangku
Aku mengajarkan lagu anak-anak terutama bila sedang sedang dalam perjalanan ke luar kota. Untuk menghilangkan kejenuhan anak-anak di mobil, lagu anak-anak semasa kecilku, yang aku ingat akan aku nyanyikan. Dari lagu Desaku, Awan Putih, Bunda Piara, Memandang Alam dari Atas Bukit, Ambilkan Bulan, Kapal Api, Ruri Abangku, dan lain-lain. Jangan disangka kalau lagu itu hanya akan dinyanyikan oleh Fanni dan Hilman. Luthfan dan Astri juga sering nimbrung menyanyikannya juga. Lumayanlah untuk seru-seruan di mobil. Dan karena kami cukup sering bepergian (walau sekedar ke Depok, hehehe....), jadinya cukup seringlah lagu anak itu didendangkan.

Rupanya lagu Ruri Abangku yang selalu aku nyanyikan dengan mengganti nama Ruri dengan Luthfan, berkesan di hati Fanni. Mengapa lagu itu jadi kesukaan Fanni tentu ada alasannya. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak jawaban Fanni.  ^_^

"Kenapa sih Fanni suka lagu Luthfan adalah Abangku?"

"Mas Luthfan kan memang rajin belajar, Bun."

"Mas Luthfan orangnya gimana sih, Nak."

"Mamas hebat."

"Hebat Gimana?"

"Suka belain aku kalau aku digangguin."

"Masak sih? Memangnya Fanni digangguin siapa?"

"Waktu di rumah eyang, ada anak situ yang nakal sama aku, mamas liat, trus anak itu dimarahi."

"Fanni suka dibelain mamas?"

(mengangguk)

"Terus apalagi?"

"Mamas jago silat, kuat gendong pundak, pinter bandminton, kayak ayah."

"Tapi aku takut ngadu sama mamas kalau ada temanku di sekolah yang nakal."

"Loh kenapa? Katanya suka dibelain mamas?"

"Ntar temanku dimarah-marahin di sekolah, kan kasian. Mamas galak kalau ada yang nakal sama aku."

Hihihihi... Fanni kuatir temannya dilabrak kakaknya, bisa-bisa heboh di sekolah. Luthfan memang selalu "pasang badan" kalau ada dengar ada yang mengganggu adiknya. Tidak hanya kepada Fanni, tapi juga Astri dan Hilman. Memang tidak selamanya hal ini baik. Aku dan ayahnya harus sering-sering menahannya agar tidak ikut campur masalah adik-adiknya, supaya adik-adiknya bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi itulah Luthfan. Pada dasarnya dia ingin membela kehormatan keluarga. Jangan sampai dia dengar nama ayah dan bundanya buat olok-olok, karena itu akan membuatnya tidak perduli siapa yang dihadapinya. Sekalipun belum pernah terjadi dia berantem gara-gara hal itu, tapi cara dia mengatakan ketidaksukaannya sudah cukup membuat temannya atau siapapun yang melakukan jadi tak pernah mengulanginya lagi.

"Aku kasian sama mamas."

"Kasian kenapa."

"Aku pernah ngerusak tugas sekolahnya. Mamas takut nggak dapat nilai."

"Oh yang itu, enggak kok, Nak. Mamas tetap dapat nilai. Fanni kan udah minta maaf."

"Udah sih, malah aku udah peluk mamas juga."

Aku ingat peristiwa malam itu. Luthfan begitu marah ketika tugas praktek IPAnya tanpa sengaja rusak oleh Fanni, padahal harus dikumpulkan keesokan harinya. Fanni ketakutan sekali melihat Luthfan marah dan merasa bersalah. Aku menenangkan Luthfan dan ayah menggendong Fanni ke kamar. Setelah Luthfan tenang, baru Fanni aku panggil. Fanni memeluk kakaknya sambil terisak dia berkata,

"Maafin aku, Mas. Aku nggak sengaja."

Semarah-marahnya Luthfan, mendapat pelukan adiknya dengan rasa sedih begitu, tentunya tidak akan tahan. Diusapnya kepala adiknya dan berkata kalau dia memaafkan Fanni.

Aiiih... manis sekali ending malam itu.

Fanni memang kelihatan merasa aman di dekat kakaknya.





Read more

Jumat, 20 September 2013

In Action

Bismillahirrahmannirrahiim,


LUTHFAN ADLI WICAKSONO
30 Juni 1996


Berlari... berlari dan melompatlah, anakku.
Buatlah sebuah putaran di lompatanmu agar saat kau kembali pada pijakan,
kau dapat meletakkan kakimu pada posisi yang benar.
Hingga kau dapat kembali berlari dengan lebih kencang.







Sportiflah pada segala sikap dalam lakumu.
Jajaki langkah demi langkah selayak kau menghitung skor pada lagamu.
Saat kau rasakan gempitanya tepuk tangan, itulah prestasimu.   
Dan saat kau terima kekalahan, itulah kemenanganmu









Read more

Jumat, 30 Agustus 2013

Oleh-Oleh Yang Berkesan

Bismillahirrahmannirrahiim,

Beberapa bulan yang lalu, waktu mas Muhamad Furqon Abdullah pemilik Capek Ma berkunjung ke rumahku, membawa oleh-oleh seekor kura-kura kecil berwarna hijau, yang sebenarnya ditujukan untuk Fanni. Mas Furqon membawa kura-kura itu dengan kandang kecil, dari Yogyakarta naik travel langsung menuju ke rumahku. Waktu itu mas Furqon hendak pulang ke Pontianak, naik pesawat dari bandara Soekarno Hatta. Jadi sambil menunggu jadwal keberangkatan pesawatnya, mas Furqon main ke rumah. Kopdar kedua dengannya setelah kopdar pertama di Yogya waktu itu.


Ternyata yang lebih antusias dengan kura-kura itu adalah Hilman, kakak Fanni. Pulang sekolah begitu melihat ada tamu membawa oleh-oleh yang tak lazim buatnya, langsung tertarik dan bermain-main dengan si kura-kura, yang kemudian diberi nama KUJO alias kura-kura ijo. Hihihihi...

Sejak itu, Hilman begitu perhatian kepada si Kujo ini. Semula hanya diletakkan dikandang kecil pemberian mas Furqon, tapi kemudian dipindah ke akuarium. Tapi sayang, akuarium yang sudah tidak baru lagi itu kemudian bocor. Jadilah sekarang Kujo menghuni ember besar yang diberi bebatuan oleh Hilman.


Rajin sekali Hilman menyikat cangkang Kujo, bahkan pernah dicuci pakai sampho segala. Hahaha... untungnya si Kujo nggak mabok tuh sama samponya. Ayah sampai tertawa geli waktu Hilman sampai membawa si Kujo ke atas tempat tidur. Ya memang kemudian dilaranglah. Masak iya sampai dibawa ke tempat tidur. Kalau pas buang kotoran kan lumayan walau masih kecil.

 sudah lebih besar dari pada ketika baru datang



Terima kasih sekali lagi mas Furqon buat oleh-oleh yang amat berkesan buat anak-anak, terutama Hilman. Semoga bisa terus dirawat sampai si Kujo besar. Sepertinya Hilman berkhayal bahwa si Kujo bisa menjadi sebesar penyu kering yang ada di rumah eyangnya di Yogya.

Penyu dan kura-kura itu beda, nak. Tapi rawatlah Kujo dengan baik.
Dia akan tumbuh bersama denganmu.







Read more

Minggu, 25 Agustus 2013

Kemantapan Hati Fanni

Bismillahirrahmannirrahiim,

Tentang Fanni lagi. Si cantik yang selalu ceria dan membuat suasana rumah segar dengan segala canda dan tingkah lakunya. Fanni memang menyenangkan. Ditambah lagi dengan bahasa kasih Sentuhan Fisik, membuat ayah bundanya gemas untuk selalu memeluk dan menciumnya, dan Fanni-pun begitu menyerahkan dirinya untuk mendapat peluk cium itu. Hihihi... Menggemaskan banget. Gurauannya selalu mengundang tawa seluruh anggota keluarga. Walau tetap saja kadang muncul kerewelan darinya. Tapi masih wajar dan bisa segera ditenangkan.



Oktober nanti usianya 7 tahun. Dari sekarang dia sudah punya angan-angan ingin dibelikan mainan. Sudah menyebut dengan jelas mainan seperti apa yang dia inginkan. Lucunya, ketika Hilman berulang tahun belum lama ini dan dibelikan mainan, kebetulan mainan yang Fanni inginkan ada di toko itu. Fanni tetap tidak mau dibelikan, dia tetap mengatakan bahwa mainan itu buat kado miladnya.

Ada hal-hal yang ditunjukkan Fanni membuatku terharu dan bahagia. Sebagaimana aku ceritakan dalam Hidayah Untuk Anakku #2, dimana Fanni sudah mantap mengenakan jilbab ketika masuk SD, maka tulisan ini adalah bukti kemantapan hatinya dalam berbusana muslim, tidak sekedar asal ikut-ikutan bunda dan kakaknya (Astri).

Ramadhan lalu, ketika eyangnya datang dari Yogya, Fanni diajak menginap di rumah adikku di Ciganjur, Jakarta Selatan. Karena liburan lalu Fanni gagal liburan ke Yogya dan dia amat kangen dengan eyangnya, maka aku ijinkan dia menginap selama 1 minggu di Ciganjur.

"Fanni, ini semua keperluan Fanni sudah bunda siapkan di tas ini. Jilbab ada di sebelah sini. Alat mandi di sini," aku menjelaskan semua kebutuhannya selama seminggu.

"Ya, bunda...," Fanni hanya menjawab sekilas sambil asyik bermain.

"Fanni tetap puasa ya di sana."

"Iya dong. Kan biar bunda nggak liat, Allah liat."

"Alhamdulillah, anak bunda pinter."

"Aku mau dapat pahala yang banyak, bunda."

"Subhanallah... anak sholehah bunda...", peluk cium kembali kudekapkan padanya. Terharu banget.

Ketika dua hari Fanni menginap di rumah tantenya, aku dapat kiriman foto Fanni sedang diajak eyangnya jalan-jalan. Difoto itu tampak Fanni tetap mengenakan jilbabnya. Aku bertanya pada adikku, apakah Fanni berpakaian sendiri atau diurusi.

"Dia mandiri banget mbak. Semua diurusnya sendiri. Bahkan dia minta kantong plastik untuk baju kotornya, tapi aku cucikan kok. Jilbabnya dia pakai sendiri. Sahur juga gampang dibangunkan. Puasa tetap sampai maghrib. Padahal anakku nggak puasa (5 tahun). Salut deh sama Fanni. Nggak terpengaruh apa-apa." adikku menjelaskan.

Alhamdulillah, ya Allah. Rupanya mengijinkan Fanni menginap bisa sambil menjadikan ujian buatnya bagaimana kemandirian dan kemantapan hatinya.

Hal lain yang ditunjukkan Fanni dalam kemantapan hatinya berbusana muslim adalah hal lain yang melegakan. Fanni sekolah di SD negeri. Di kelasnya ada 2 anak yang memakai jilbab. Suatu hari Fanni pulang sekolah bercerita,

"Di kelasku ada yang pakai jilbab juga, bun. Tapi aneh deh bun... Masak kalau di kelas suka dia lepas. Ngapain dia pakai jilbab kalau dilepas-lepas gitu."

"Memangnya Fanni nggak pernah lepas jilbab kalau di sekolah?"

"Enggaklaah... ngapain pakai dilepas."

"Memangnya kenapa Fanni nggak mau lepas?" Bunda ngetes Fanni.

"Malu dong bunda, rambut kan aurat. Masak diliat-liatin."

"Nggak kepanasan?"

"Biarin aja kepanasaan."

"Nggak bikin Fanni terganggu belajarnya?"

"Enggak tuh. Biasa aja."

"Nggak merasa malu, kan teman-teman nggak pada pakai."

"Aaah... bundaaaa... yang malu itu kalau nggak pakai jilbab." Fanni menjawab ringan sambil berlalu.

Kali lain ketika sedang dalam perjalanan ke Depok. Aku lupa membawa minum untuk anak-anak di mobil. Maka ayahnya menghentikan mobil di sebuah swalayan untuk membeli air mineral dan sedikit snak buat anak-anak. Fanni dengan berteriak, berkata,

"Ayaaah...! Tunggu aku mau ikut turun. Pakai jilbab dulu Yaaah...!" Fanni di mobil berbaring di jok mobil jadi jilbabnya dilepasnya. Ketika hendak turun dari mobil, ingat dengan jilbabnya sekalipun dengan terburu-buru.

Subhanalah... Alhamdulillah... Allahu Akbar... Puji syukur padaMu ya Allah. Anakku sudah mantap berbusana muslim dengan pemahaman yang benar. Kuatkan hatinya, teguhkan imannya, lindungilah tiap langkahnya agar selalu berpetunjuk. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

Berbusana muslim memang harus dilakukan dengan sebuah pemahaman yang benar bahwa busana muslim adalah sebuah kewajiban yang menjadi ketetapan Allah kepada kaum wanita. Jika hanya karena ikut-ikutan dan mengikuti trend, maka akan tampak dari sikap dan tingkah lakunya. Banyak kita lihat anak-anak, remaja atau orang dewasa memakai pakaian muslin karena terpaksa mengikuti aturan yang berlaku di lingkungannya. Misalnya lingkungan sekolah atau tempat kerja. Bukan karena memang dengan keyakinan keimanan yang benar. Maka yang tampak adalah, begitu dia keluar dari lingkungan tersebut, dia akan melepas jilbabnya bahkan berganti dengan pakaian yang jauh dari kesan muslimah.

Saling mendoakan demi kebaikan bersama, semoga semakin banyak muslimah berbusana yang baik dan benar.




Read more

Minggu, 28 Juli 2013

Senjata-Senjata Hilman

Bismillahirrahmannirrahiim,

Mengenali sifat dan perilaku masing-masing anak, sebagai ibu rasanya seperti harus bisa menjadi psikolog keluarga. Bagaimana bersikap kepada anak yang satu tentu saja berbeda dengan anak yang lain, apalagi dengan usia dan perbedaan laki-laki dan perempuan. Pada intinya, sebagai orang tua tentu saja aku mencintai semua anak-anakku.

Hilman Zata Amani adalah anakku yang nomor tiga. Laki-laki, sekolah kelas 6 SD. Kami sekeluarga sepakat bahwa Hilman mempunyai sifat paling unik dibandingkan saudara-saudaranya. Dengan Luthfan yang satu-satunya saudara laki-laki, amat beda sekali segalanya. Apalagi dengan Astri, Fanni ataupun Kayla. Memahami sifatnya adalah hal yang paling sulit. Banyak hal yang bila aku terapkan kepada saudara-saudaranya yang lain bisa berlaku, tapi pada Hilman tidak. Aku harus mencari cara lain untuk menerapkan sebuah aturan, atau hal baru kepadanya untuk membuat hasil yang kurang lebih sama dengan saudara-saudaranya.

Seru dan makin menantang rasanya tugasku sebagai seorang bunda dengan hal-hal tersebut. Perlu kreatifitas sambil tetap memperhatikan perasaan anak-anak semua. Tidak selamanya aku berhasil. Kadang terjadi juga kesalahan dalam bersikap yang membuat Hilman sedih dan kecewa. Aku bahkan pernah memeluknya sambil menangis minta maaf atas kelalaian yang aku buat. Hilman hanya mengangguk-angguk tanda memaafkanku sambil menghapus air matanya.

Hilman anak yang kreatif. Dia suka memanfaatkan barang-barang bekas untuk membuat apa saja yang melintas dalam ingatannya. Walau belumlah hal-hal yang luar biasa, tapi buat kami apa yang dibuatnya adalah sebuah kemampuan yang besar yang terpendam pada dirinya. Semoga aku dan ayahnya bisa mengarahkannya dengan baik supaya kemampuan Hilman bisa berkembang.

Belakangan, Hilman suka sekali membuat berbagai jenis senjata dari kertas bekas yang digulung-gulung. Awalnya, Hilman minta dibelikan tembak-tembakan yang berpeluru bulat-bulat kecil. Aku tidak membelikannya karena kuatir kena saudaranya atau benda-benda lain di rumah. Ternyata hal itu malah memancing kreatifitasnya untuk membuat sendiri tembakan.

Bahannya adalah:
Kertas HVS bekas, sedotan, cotton bud, karet dan isolasi.

Dan inilah beberapa karya Hilman:






Proses membuatnya:
Ambil 3 lembar kertas kemudian gulung kecil dan padat. Bentuk dan relatkan dengan isolasi, kemudian dikencangkan dengan karet. Sedotan dan cotton bud digunakan sebagai senjata jadi tidak sakit kalau kena orang.

Walau kelihatannya sederhana, tapi daya lontar semua senjata-senjata itu cukup jauh dan keras. Kalau senjata diganti benda tajam, bisa bahaya loh. Hilman juga membuat video bagaimana memainkan salah satu tembakan buatannya. Semoga bisa disetel nih videonya.




Nah, Hilman anakku... semoga makin kreatif dalam berkarya ya. Bunda senang lihat Hilman rajin memanfaatkan barang-barang bekas yang ada untuk dibuat menjadi sesuatu.

Read more

Senin, 15 Juli 2013

Ayo Sekolah

Bismillahirrahmannirrahiim.

Tak terasa, liburan sekolah sudah berakhir. Bisa dibilang liburan kali ini kami hanya "di rumah saja". Artinya kami tidak berlibur atau camping seperti yang biasa dilakukan pada saat liburan tiba. Padahal ayahnya sudah ancang-ancang mengambil cuti untuk liburan ini, tapi dibatalkan. Kesibukan pendaftarasan sekolah Astri yang masuk SMA dan Fanni yang masuk SD cukup membuat kagok jadwal. Apalagi Fanni baru dapat sekolah setelah mengikuti Jalur Lokal, karena umurnya kurang sedikit ketika mengikuti Jalur Umum tahap 1. Jadi batalah acara liburan yang semula kami rencanakan hendak ke Yogya sampai Bromo.

Tak apa. Memang sedang masanya. Yang penting Astri dapat SMA yang diafirmasikannya, dan Fanni dapat sekolah sesuai keinginan kami semua. Alhamdulillah.

Menjelang hari pertama sekolah, suasana rumah disibukkan dengan kegiatan menyampul buku dan mempersiapkan alat sekolah. Apalagi Astri harus menyelesaikan tugas-tugas untuk keperluan MOS (Masa Orientasi Siswa). Biasalah, ada saja hal-hal aneh dan sedikit menyusahkan dalam persiapannya. Mulai dari membuat name tag berbentuk Tugu Monas seukuran badan, membuat 8 buah pantun, membuat surat cinta, dan lain-lain. Seru juga membantu mengerjakan semua itu. Apalagi Astri sudah seperti teman kalau sama bundanya. Jadi dia cuek saja bercerita tentang kelucuan teman-temannya dalam mempersiapkan MOS dan membacakan surat cinta yang dibuatnya untuk kakak kelasnya.

Ayoo, kita sampul bersama-sama!

Menyampul buku juga kami kerjakan bersama-sama. Bahkan Fanni hanya perlu memperhatikan aku mengajari sekali, kemudian dia bisa ikut menyampul. Rapi juga loh hasilnya. Sepanjang menyampul bibir mungilnya selalu berceloteh, berangan-angan bagaimana dia akan menghadapi hari-hari SD-nya. Seragam SD tak luput dari perhatiannya. Beberapa kali dia coba, lengkap dengan jilbab, dasi, topi, kaos kaki dan sepatunya.  

"Aku nggak sabar mau SD, Bun." begitu selalu yang diucapkannya.

Sementara Astri dengan nada dan mimik wajah  dilebay-lebaykan berkata,"Bunda, I need you on my first day. Doakan aku, peluk aku, semoga aku lolos dari kerjaan iseng kakak kelas semasa MOS."

Adegan berikutnya adalah Astri dan Fanni pura-pura rebutan memeluk bundanya, merayu siapa yang akan ditemani di hari pertamanya sekolah. Hihihihi... sukaaaa deh dengan suasana rumah yang so sweet begitu. Tentu saja aku akan menemani Fanni, Astri hanya menggoda adiknya saja.

Daaaaan...

Hari pertama sekolah tiba. Fanni sudah tak mau tidur habis sahur. Oh ya, Alhamdulillah Fanni sudah kuat puasa full sejak hari pertama. Makin tak sabar dia memakai seragam SDnya. Suasana heboh antri kamar mandi pun mulai terasa kembali. Seru, lucu, walau ada sedikit teriakan, namun bukan dengan nada emosi. Aku memang fokus pada Fanni, kalau kakak-kakaknya sudah aku biarkan mengatur semua kebutuhannya sendiri.

Ayah bahkan ingin juga mengantar Fanni di hari pertamanya masuk SD. Kalau soal Fanni, ayah memang paling mantap deh.

"Asyiiik, aku diantar ayah sama bunda, mbak Astri jalan kaki aja sana," masih sempat menggoda kakaknya juga dia. Astri hanya membalas dengan senyum ledekan, kemudian berpamitan. Dia berangkat nomor satu. Luthfan seperti biasa berangkat sekolah naik motor sambil mengantar Hilman.

Sekolah Astri hanya berjarak sekitar 200m dari rumah, dan sekolah Fanni sedikit lebih jauh, kira-kira 300m dari rumah. Dekat khan, bisa jalan kaki. Alhamdulillah diberi kemudahan ini sama Alloh.

Duduk manis menunggu guru datang

Tentu saja seperti diduga, belum ada pelajaran di hari pertama. Baru perkenalan, dan beberapa pengumuman. Guru juga masih membuat susana kelas seperti layaknya di TK. Menyanyi, menggambar bebas, menyapa satu persatu muridnya. Lega rasanya melihat sikap guru Fanni kepada murid-muridnya. Terlihat sabar dan pengertian.

Fanni dan Nabila, teman TK-nya

Jam 09.00 sudah pulang. Karena pagi berangkat bareng ayah, maka kami pulang jalan kaki. Bukan Fanni kalau tidak berceloteh sepanjang jalan. Semua yang disampaikan gurunya lengkap disampaikan pada bundanya. Karena aku mendengarkan dari luar kelas dan membaca pengumuman di papan tulis, jadi aku tau bahwa apa yang Fanni ceritakan itu lengkap. Good job, sweety.

Pulang sekolah dengan ceria dan full cerita

Anak-anakku, harapan bunda semoga kalian bisa belajar dan menyerap semua ilmu yang kalian dapat dengan baik. Dan ilmu itu bermanfaat bagi hidup kalian sekarang dan nanti. Selamat menuntut ilmu, tetaplah membuat afirmasi-afirmasi dalam belajarmu.







Read more

Minggu, 30 Juni 2013

Lombok Impianku

Aku dan keluargaku termasuk yang senang rekreasi atau berlibur. Kebersamaan dengan keluarga menjadi semakin kental dengan bepergian bersama.Namun selama ini tempat liburan kami belumlah ke tempat yang jauh-jauh, paling sekitaran Jakarta, Bandung, Yogyakarta. Kami lebih suka berlibur ke wisata alam, seperti laut dan pegunungan. Rasanya bisa sekalian bertadabur alam dan mengajarkan kepada anak-anak untuk lebih mengagungkan kebesaran Illahi.

Aku dan anak-anak lebih suka laut dari pada pegunungan. Memandang laut lepas dengan panoramanya selalu membuat hati berdecak kagum pada keindahan ciptaanNya. Menikmati hamparan pasir dengan yang dibelai oleh ombak yang kadang lembut, kadang keras. Mengagumi keindahan dasar laut dengan menceburkan diri pada asinnya air laut, sungguh luar biasa rasanya. Aku selalu menikmati suasana pantai baik itu pagi, siang atau sore bahkan malam harinya. Selalu saja alam membawa keindahan dengan ciri khasnya. Ditambah lagi, karena Luthfan (sulungku) alergi dengan udara dingin, jadi kalau ke daerah pegunungan, sering alerginya kumat.

Sejak lama, aku selalu menarik nafas dan ber-Allahu Akbar bila melihat gambar-gambar pantai di LOMBOK. Begitu besar hasratku untuk bisa ke tempat itu. Panorama Lombok yang terlihat indah di foto-foto/gambar-gambar membuatku memendam hasrat yang besar untuk ke sana. Apalagi aku mempunyai teman yang bergerak di bidang wisata di sana, yaitu Wisata Lombok. Darinya aku banyak mendapat cerita dan gambar-gambar yang membuat kepalaku pusing saking pengennya ke sana.

Jika suatu saat aku bisa ke Lombok, pokoknya aku ingin mengunjungi berberapa lokasi di sana. Ubek-ubek panorama laut sampai puas. Menikmati asinnya hawa laut yang menerpa wajahku. Merasakan tiupan angin laut yang mengayunkan gelombang ombak. Allahu Akbar.

Tempat pertama yang ingin aku kunjungi dari wisata di Lombok adalah GILI NANGGU. 


Kok Gili Nanggu? Dari cerita temanku, aku mendapat keterangan kalau Gili Nanggu berada di Selat Lombok atau di pesisir barat Pulau Lombok. Secara administratif, pulau ini berada di wilayah Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Pulau ini hanya sekitar 12 hektar saja luasnya, dan di sana hanya ada satu cottage. Tempatnya lebih tenang dan kelestarian alamnya sangat dijaga. Tidak boleh menangkap ikan baik itu dengan jaring atau pancing, tidak boleh menginjak terumbu karang. Sehingga ikan-ikan di sana tidak takut didekati manusia. Waaahh, kalau snorkeling bisa asyik nih!

Cottage di sana juga bikin penasaran. Bentuknya seperti lumbung (Hug). Unik dan kesannya nature sekali. Suasananya lebih privacy. Di sana sudah ada fasilitas watersport, dan diving. Sepertinya GILI NANGGU cocok buat yang berhoney moon atau menyemai cinta bersama keluarga.

kamar berbentuk lumbung (hug)


sunrise di Gili Nanggu


sunset di Gili Nanggu


keindahan pantai Gili Nanggu


 Salah satu sisi pantai Gili Nanggu

Lokasi lainnya yang menjadi impianku adalah PANTAI PINK yang terletak di Tangsi. Disebut Pantai Pink karena pasirnya memang berwarna pink, yang merupakan percampuran antara pasir putih dan pasir merah (seperti cabai) yang berasal dari terumbu karang dengan warna merah. Rasanya tidak ada pasir berwarna pink seperti di tempat ini, makanya aku ingin sekali melihat panoramanya dan menginjakkan kakiku di sana.



Pantai Pink di Tangsi



Pantai Pink pada momen yang berbeda

Lombok juga terkenal dengan PANTAI SENGGIGI yang pasir putihnya bersih. Air lautnya jernih sekali, kayaknya bisa buat ngaca deh saking jernihnya. Ombaknya yang bersahabat membuat kita ingin segera menceburkan diri bermain dengan belaian ombaknya. Fasilitas yang tersedia cukup lengkap sehingga kita bisa menikmati suasana segar di Senggigi dengan lebih nyaman. Apalagi di Senggigi kita bisa melihat Pura Batu Bolong. Setengah jam kalau kita menyusuri pantai Senggigi, akan menemukan sebuah pura yang dibangun di atas karang yang terletak di pinggir pantai. Pura inilah yang oleh masyarakat sekitar diberi nama Pura Batu Bolong. Menurut legenda setempat, dahulu kala di pura ini sering diadakan pengorbanan seorang perawan, sebagai sajian makanan untuk Ikan Hiu yang tinggal di pantai. Legenda lain mengatakan, pura ini juga merupakan tempat para wanita menerjunkan dirinya ke laut karena patah hati.


Pantai Senggigi, gambar dari sini
Wooow!

Kalau ke Lombok, sudah tentu kurang lengkap jika tidak snorkeling melihat keindahan panorama dasar laut, yang konon di sana terkenal keindahannya. Atau sekalian saja mencoba diving-nya. Belum pernah dan ingin mencoba bagaimana rasanya menyelam dan menikmati pemandangan dasar laut dengan lebih dekat. Aahh, pasti menakjubkan dan mendebarkan.

Lokasi yang biasa dijadikan tempat snorkeling adalah di kawasan GILI TRAWANGAN, GILI MENO, GILI AIR, yang reputasinya telah mendunia. Terumbu karang, ikan-ikan hias yang berwarna warni, dan biota laut di Lombok terkenal sekali keindahannya. Sungguh tempat bertadabur alam yang amat mengesankan.


Snorkeling di Gili Trawangan


Diving di Gili Trawangan, gambar dari sini 

Ternyata Lombok memang dikelilingi oleh banyak lokasi indah. Selain tempat-tempat di atas masih ada lokasi indah lain yang menantang. Ada TANJUNG RINGGIT, TANGSI, EKAS DAN SURGA BEACH yang untuk mencapainya perlu persiapan fisik dan mental. Malah katanya lebih enak lagi kalau kemping di sana, sebab di sana masih minim fasilitas, dan kondisi jalan menuju ke sana belum mulus. Tapi jangan ditanya soal keindaan pemandangannya. Bakalan menjerit-jerit kagum deh. Keluargaku juga suka kemping, rasanya boleh juga mengunjungi tempat-tempat itu. Aku baru lihat fotonya saja sudah histeris. Lihat saja foto-foto di bawah ini. Rasanya menempuh perjalanan 3 jam, dengan kondisi jalan yang kurang baguspun terbayar setelah sampai ke lokasi.

ombak di Pantai Surga bisa untuk watersport (surfing)






Kalau berwisata ke suatu daerah, rasanya kurang lengkap bila tidak berwisata kuliner. Kuliner Lombok juga terbayang-bayang kelezatannya setelah diceritakan oleh teman. Kebetulan aku suka dengan masakan yang gurih dan pedas. Rasanya sangat ingin mencicipi cita rasa masakan di Lombok.

Sop Ikan Gurame


Sop Buntut yang punya rasa khas


Ayam Betutu


Kelak Bakik

Mantap nian panorama dan kuliner Lombok. Keindahannya bener-bener membuat mupeng deh. Sekarang ini baru bisa membayangkannya sambil memejamkan mata, atau melihat foto-foto/gambar-gambarnya saja. Kelak, suatu saat, aku harus bisa ke sana. Mewujudkan impianku untuk berlibur bersama keluarga ke Lombok. Menikmati tiap sudut Lombok sambil menyemai cinta keluarga.



Foto-foto diambil dari Wisata Lombokkecuali beberapa foto yang sudah disambungkan pada link asalnya. Terima kasih kepada mbak Enggar, yang sudah mengijinkan foto-fotonya dipinjam untuk keperluan lomba ini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog ZALORA Liburan Impianku yang diselenggarakan oleh ZALORA Indonesia dan Blog ZALORA Indonesia

Read more
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Pena Bunda © 2008. Design By: SkinCorner