Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2013

Menahan Marah

Bismillahirrohmannirrohiim,

Tentunya teman-teman semua tau, jika sedang ada perseteruan antara seorang pengacara dan seorang artis. Di mana sang pengacara mengoceh di twitter, yang kemudian ditanggapi oleh anak laki-laki dari artis itu yang tidak terima ayahnya dilecehken. Timbul rasa ingin membela nama baik sang ayah, kedua anak laki-laki artis menantang duel di atas ring tinju. Masalah ini kemudian menjadi panjang karena si pengacara makin mengoceh tidak saja di twitter tapi juga di mass media. Makin menggelikan omongannya. Lebih lucu dari pada acara OVJ. Hihihi... kok malah jadi ngomongin infotainment sih. Bisa-bisa di protes nih kalau blog ini cerita gosip ^_^.

Ah si bunda, ngakunya jarang nonton TV tapi berita gosip kok paham gitu. Hehehe... Saking ramenya yang membicarakan, akhirnya kan jadi tau juga. Tapi... karena kasus itulah aku jadi ingin menulis tentang bagaimana seorang anak yang ingin membela kehormatan keluarga. Bukan karena dipengaruhi atau diminta oleh orang tuanya, tapi memang tumbuh dalam diri si anak. Peran orang tua perlu mengarahkan, agar pembelaan ini tidak menjadi perbuatan anarkis dan salah.

Di keluargaku, adalah Luthfan, si sulung yang selalu tampil di depan jika ada yang dia rasa tidak menghormati ayah bunda dan adik-adiknya. Kadang yang dilakukannya bisa dengan cara kasar, tapi kadang juga bisa dengan cara santun dan mengharukan. Jiwa mudanya memang harus selalu dibimbing agar tidak meluap.

Waktu aku masih mengelola kantin, Luthfan sedang bantu-bantu di kantin (waktu itu dia masih SMP, sekarang sudah SMA kelas XII). Tiba-tiba dia melihat ada karyawan kantin yang besikap dan berkata tidak sopan padaku. Luthfan langsung menghentikan pekerjaannnya, dan mendekati karyawanku dengan wajah yang tidak ramah, sambil berkata,"Bunda... Boleh nggak aku tonjok orang ini! Sembarangan nggak sopan gitu sama bunda."

Waahh.. tentu saja aku kaget dengan reaksi Luthfan. Aku malah jadi sibuk menenangkan emosi anakku itu. Terakhir dia mengancam," Lu begitu lagi sama bunda, lu ngadepin gua!" Tanpa ada rasa takut menghadapi karyawanku yang sudah pasti usianya jauh di atas Luthfan.

Akhirnya aku menyuruh Luthfan pulang supaya suasana kerja jadi tidak makin kacau. Dia sempat berbisik sebelum pulang,"Aku menghormati bunda, makanya aku nggak pukul dia. Tapi kalau dia ulangi lagi, jangan larang aku."

Aku usap kepalanya sambil mengucapkan terima kasih. Tak ada gunanya memberikan nasehat pada saat dia emosi begitu. Setelah di rumah barulah aku dekati Luthfan dan menasehati untuk tidak membiasakan diri menyelesaikan sesuatu dengan emosi apalagi adu fisik. Nasehat ini memang harus selalu diulang dan diulang terus sepanjang gejolak remajanya belum stabil. Tapi memang tetap harus memperhatikan waktu. Tidak pada saat dia sedang panas, supaya dia tidak merasa disalah-salahkan atas niat baiknya.

Siakpnya akan sama kalau ada temannya atau teman adiknya yang memakai nama ayah bundanya sebagai olok-olok/senda gurau.

"Lu ngeremehin ayah bunda gua, berarti lu ngeremehin gua. Gua nggak suka nama orang tua gua buat candaan gitu." Itu yang pernah aku dengar sendiri waktu temannya main ke rumah dan bercanda.

Atau bisa juga sikapnya mengharukan seperti yang pernah aku tulis dalam Kisah Sebuah Dompet. Membantu Hilman menyelesaikan masalah dengan temannya dengan cara baik sekali.

Begitulah... Menurutku wajar kalau seorang anak ingin membela orang tua yang dihormatinya. Seperti juga anak-anak artis itu. Yang perlu diarahkan adalah caranya. Jangan sampai, niatnya membela kebenaran tapi caranya salah, nantinya malah jadi berubah posisi menjadi pihak yang bersalah. Ini namanya konyol. Tak perlu adu fisik segala. Apalagi sampai ada yang terluka.

Sampai saat ini memang belum pernah terjadi Luthfan berantem dengan alasan apapun. Alhamdulillah. Tapi aku akui, anakku itu memang harus selalu diusap, dibelai, dipeluk, didengarkan, dinasehati, agar tidak lepas kontrol. Dan yang paling penting, tetap mendekatkan dia pada agama, terutama dalam menasehati. Bahwa kekuatan fisik bukanlah menandakan bahwa orang itu kuat di mata Alloh, tapi lebih kepada perlunya menahan hawa nafsu dari amarah itu sendiri.




Sudah banyak contoh, jatuh kehormatan seseorang justru karena tidak bisa menahan marahnya. Mengendalikan hawa nafsu pada saat marah memang tidak mudah, tapi perlu dibiasakan. Itu makanya kemampuan menahan marah dikatakan sebagai sebuah kekuatan. Diperlukan kesabaran dan pikiran positif, yang memang lebih membutuhkan pasukan tangguh.

Untuk bisa mendidik anak-anak bisa menahan marahnya, tentunya kita selaku orang tua yang harus terlebih dahulu memiliki sikap itu. Sebuah teladan memang selalu diperlukan. Insya Alloh.









Read more

Rabu, 06 November 2013

Delapan Hari Tanpa Internet

Bismillahirrahmannirrahiim,

Sore itu hujan cukup lebat. Karena pekerjaan rumah sudah beres, aku menyalakan komputer berniat mau blog walking. Ketika sedang asyik-asyiknya membaca tulisan sebuah blog, tiba-tiba petir menggelegar kencang, dan peettt...! Wifi dan komputer langsung mati. Mendadak cemas. Apanya nih yang kena? Setelah dicek, ternyata wifinya yang kena.


Keesokannya lapor ke ***dy. Tapi ternyata ditunggu tidak datang. Besoknya telpon lagi, juga tidak datang. Sampai empat kali telpon, tak kunjung datang juga. Galau dan mangkel sudah menumpuk jadi satu. Apalagi aku harus mengikuti #30HariBlogChallenge yang sudah memasuki week 2 waktu itu. Terpaksa nebeng membuat postingan di rumah teman. Yang namanya numpang, kan tetap harus menjaga dari kenyamanan pemilik rumah dan keluarganya. Apalagi harus kerepotan karena harus berbagi waktu dengan urusan antar jemput sekolah dan les anak-anak. Alhamdulillah akhirnya blog challenge minggu ke-2 beres juga akhirnya.

Senin kemaren, suamiku kembali menelpon ke ***dy dengan nada kalimat yang cukup tinggi, Selasa baru petugas datang dan sebentar dikerjakan sudah beres. Perangkat modem wifinya diganti dengan yang baru. Kalau dihitung-hitung berarti ada delapan hari kami tanpa internet. Karena biasa ada wifi, paket BBku ambil yang minimalis, anak-anak juga nggak ambil paket internet dari hape mereka. Jadi otomatis kami semua terdiam, tak bisa melakukan aktifitas seperti biasanya.

Galau? Diakui memang ada. Anak-anak juga ada mengeluhkannya. Apalagi sekarang banyak tugas-tugas sekolah yang mengharuskan mereka menggunakan internet. Tapi tetap saja ada hikmah yang bisa diambil. Aku malah jadi bisa lebih banyak ngobrol dan bercanda sama anak-anak. Secara anak-anak juga jadi lebih ada dalam nyata. Hihihi... Bisa iseng gangguin Astri di kamarnya, ngobrol sama Luthfan, mendengar curhatan Hilman, gelitikin Fanni sambil rekam-rekam suaranya. Pokoknya tetap seru aja.

Jadi ingat sama GA Iyha AmiOsar yang bertema sehari tanpa gadget. Kok ya pas. Di GA itu aku diminta Iyha menjadi juri, eehh... kok ya ngalami yang seperti ini. ^_^  Biar lebih menghayati peran sebagai juri kayaknya nih.

Tulisan ini memang bukan untuk diikutsertakan dalam GA tersebut, karena yang aku alami ini bukan tanpa gadget sama sekali. Tapi 8 hari tanpa internet, memang cukup merepotkan buat semua anggota keluarga. Sudah sedemikian menyatukah internet dengan kehidupan kita? Kalau mendengar keluhan anak-anak yang berhubungan dengan tugas sekolah mereka, kasihan juga mereka jadi harus menyelesaikannya dengan memanfaatkan wifi di sekolah mereka. Pulang sekolah jadi lebih sore.

Ada pengalaman sehari tanpa gadget? Atau berandai-andai apa yang akan dilakukan apabila sehari tanpa gadget? Tuangkan dalam tulisan untukmengikuti GA Sehari Tanpa Gadget yang sedang digelar oleh pemilik Little O Store.
http://advertiyha.blogdetik.com/2013/10/27/sehari-tanpa-gadget/







Read more

Senin, 21 Oktober 2013

Pertanyaan Untuk Anak-Anak

Bismillahirrahmannirrahiim,

Masih ingin menulis di blog ini, meski sebetulnya Lovely Little Garden sudah agak lama tidak update. Rasanya sedang senang bicara tentang anak-anak. Makin hari, makin ada saja yang membuatku tersenyum dari sikap dan perilaku anak-anak. Tak selamanya tersenyum sebetulnya, sebab dibalik tingkah laku manis anak-anak, selalu saja ada yang berbeda pendapat dengan ayah bundanya. But... so far so good-lah.

Melihat-lihat galery hape Astri sering dapat yang lucu dan unik aja. Tentu saja ini aku lakukan atas ijinnya. Kalau tidak, ya mana bisa aku buka hapenya, secara bunda satu ini kan gaptek. Salah pencet aja teriak-teriak dulu biar bisa kembali ke menu sebelumnya. Hihihi...

Galery hapenya banyak berisi quote, coretan-coretan tangannya, foto-foto diri dan teman-temannya, foto-foto benda, pemandangan atau apa saja yang nantinya bisa dia jadikan background quote. Dan... lagi-lagi aku tertarik pada sebuah tulisan tentang ibu dalam bahasa Inggris. Membacanya, aku tersenyum tipis dan tak tahan untuk memanggil dan bertanya pada Astri.

tulisannya sudah aku edit sendiri

"Astri, tulisan yang ini, menurut Astri, Mom-nya bawel nggak?"

"Bawel sih, tapi no problem."

"Maksudnya?"

"It's mean, their mom don't care with their kids."

"So...?"

"So... I prefer you ask me some question."

"Are you sure?"

"Iya Bundaaaa... Ditanya-tanya begitu kan artinya my mom perhatian. Nggak masalah, malah suka."

"Tapi kan ada yang merasa selalu diawasi, ibunya cerewet, kepo, mau tau aja, dan... banyak lagi."

"Ahhh.. anak-anak itu aja yang lebay. Kalau dicuekin baru tau rasa deh ntar. Bunda ingat nggak kemaren waktu aku ijin mau pergi malah minta bunda tanya-tanya persiapanku. Kuatir ada yang kelupaan. Aku malah pengennya bunda tau aku pergi sama siapa aja. Aku jadi lebih merasa aman."

"Alhamdulillah... Bener begitu, Nak?"

"Iya Bundoooo... Believe me."

"Tapi pertanyaan bunda beda dengan yang ada di tulisan itu."

"Ya harus beda doong... Because I'am special... Am I, Mom?"

"Hahaha... Of course, dear. Remember the list?"

"Ingaaaatt....! Pertanyaan wajib beserta pertanyaan tambahan sesuai dengan situasi dan kondisi. Hahaha...... I love you, Mom."

Apa lagi selanjutnya kalau bukan peluk dan cium buat gadisku itu.

Inilah pertanyaan wajib bunda buat Astri 

Kalau menurut teman-teman semua, bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyertai anak-anak bila minta ijin pergi? Perlukah? Atau malah tidak, dengan maksud melatih kemandirian dan tanggung jawab anak. Sebatas mana kita bisa bertanya kepada anak-anak? Kita sharing yuk... ^_^







Read more

Sabtu, 19 Oktober 2013

Pelukan Ibu

Bismillahirrahmannirrahiim



Sebuah pelukan yang diberikan dengan penuh kasih sayang akan membawa efek yang dahsyat. Aku ingin bercerita tentang efek dahsyat sebuah pelukan dari seorang ibu kepada anak laki-lakinya. Mengapa aku katakan dahsyat? Sebab efeknya tidak saja dirasakan oleh mereka berdua yang berpelukan, tapi juga oleh seorang anak gadis yang melihatnya. Seorang adik dari anak laki-laki itu. Dan gadis itu adalah... Aku.

Aku masih kuliah waktu itu, dan mas Yoyok sudah bekerja di Kalimantan, di sebuah perusahaan tambang batu bara. Aku lupa berapa bulan mas Yoyok tidak pulang, yang jelas aku sudah amat merindukannya, begitupun ibu dan bapak. Mas Yoyok memang tak perlu waktu lama mencari pekerjaan sejak lulus kuliah. Alloh memudahkan hanya dengan sekali melamar, bisa diterima bekerja di perusahaan batu bara yang cukup besar itu. Kami semua tentu dengan bahagia mendukungnya, walaupun itu berarti harus rela berbulan-bulan tak bertemu dengannya.

Hari itu... Mas Yoyok akan pulang untuk pertama kalinya. Aku dan ibu sibuk menyiapkan masakan kesukaannya. Ingin menyambutnya dengan hangat. Aku semangat sekali membayangkan idolaku itu akan pulang. Maka... Kalau ada yang amat berkesan dari kepulangannya itu, amatlah dalam maknanya.

Aku sudah sering melihat ibu memeluk masku. Adalah pemandangan biasa buatku melihat ibu mendekap masku. Tapi... hari itu beda. Ibu menyambut kedatangan masku dengan kedua tangan terbuka, begitu masku dekat dengan ibu, segera pelukan erat dari ibu rekat di tubuh mas. Yang aku tahu, itu pelukan rindu, pelukan bahagia, pelukan harapan, pelukan sayang. Ahh... Pelukan dengan segenap perasaan yang tak sanggup diungkapkan dengan kata-kata oleh ibu kepada mas. Semua rasa yang ada dihati ibu, tumpah ruah dalam ungkapan berwujud pelukan dan airmata yang tak sanggup dibendungnya. Tangan ibu melingkar pada leher mas, wajah ibu terbenam pada dada mas, tak ada kata-kata.... hanya airmata yang bicara. Bicara banyaaak sekali. Lama ibu tak melepas pelukan itu. Mungkin sebetulnya ibu ingin merangkaikan kata-kata indah buat mas. Mengemas isi hatinya dengan ungkapan-ungkapan yang menenangkan mas. Tapi ibu tak sanggup. Mas terdiam dalam haru. Menerima dan menikmati semua ungkapan rasa ibu dengan kedamaian.

Subhanallah... Ya Rabb! Dadaku bergetar menyaksikannya. Bukan karena aku iri atau tidak suka. Tapi aku seolah bisa merasakan kebahagiaan masku mendapat pelukan itu. Seakan aku merasakan langsung pelukan ibu itu. Sepertinya aku mengerti mengapa ibu sampai mencurahkan semua rasanya pada sebuah pelukan hangat dan dalam kepada anak sulungnya itu. Aku bersyukur dapat menyaksikan moment itu, memahami maknanya, merasakan kebahagiaannya, dan merekamnya dalam memori yang kuat. Menyimpannya dalam ingatan yang lekat. Hingga saat ini. Meskipun itu sudah berlalu hampir 20 tahun yang lalu. 

Ibuku memang terbiasa memeluk anak-anaknya. Tapi bahasa kasih ibu kepada kami anak-anaknya memang berbeda-beda. Sepertinya ibu begitu memahami bagaimana menyelami anak-anaknya. Kepadaku yang mempunyai sifat sama kerasnya dengan ibu, berbeda dengan kepada mas dan adik-adikku. 

Mengapa aku katakan efek sebuah pelukan bisa menjadi dahsyat? Karena semakin hari aku semakin mengerti apa arti sebuah pelukan, bagi ibu dan bagi anaknya. Setelah menjadi ibu dari 5 orang anak, aku kini bisa merasakan makna sebuah pelukan dari sisi seorang ibu. Kalau dulu aku seolah bisa membayangkan kebahagiaan mas ku (anak) menerima pelukan ibu. Kini aku mengerti kebahagiaan ibu waktu memeluk mas. Aku kini merasakan sendiri perasaan ibu memeluk anak sulungnya. Harapan dan doa pada seorang anak laki-laki paling besar selalu terselip dalam pelukanku. Maka wajar bukan kalau aku katakan efeknya dahsyat.

Maha Pengasih dan Penyayang Allah yang memberikan kebahagiaan dan kedamaian lewat sebuah sentuhan sederhana. Ternyata sebuah pelukan yang dilakukan dengan tulus dengan melafaskan Asma Allah mampu memberikan kekuatan seorang ibu menghadapi hari-harinya. Mudah sekali bagi Allah memberi kehangatan dan kedekatan hati ibu dan anaknya. 
Ternyata bukan hanya anak yang butuh pelukan dari ibunya, tapi sang ibu juga membutuhkan pelukan dengan anaknya. 
Jadi kalau kita berfikir, kita memeluk anak karena ingin sekedar membahagiakan dan menenangkan anak, rasanya tidak terlalu benar (meski juga tidak salah). Coba rasakan apa yang kita butuhkan pada saat kita lelah dengan segala persoalan hidup, pada saat harapan-harapan berguguran satu demi satu, pada saat keresahan bagai tak mampu kita teriakkan, saat galau datang, memeluk anak mampu memberikan energi tersendiri - tentu saja memohon petunjuk dan kekuatan tetaplah pada Allah semata . Jadi kalau kita butuh anak-anak untuk membantu kita menumbuhkan energi dan semangat, mengapa kita enggan memeluknya....? 


*Efek kangen bunda pada Luthfan. Tiga hari aja kok rasanya lama banget ya, Nak.







Read more

Senin, 23 September 2013

Luthfan Adalah Abangku

Bismillahirrahmannirrahiim,

Di rumah, aku masih berusaha untuk mengenalkan lagu anak-anak. Lumayan banyak lagu anak yang masih aku ingat, apalagi waktu aku ikut Bina Musika dulu, untuk latihan sering memakai lagu anak. Alhamdulillah, anak-anakku tak pernah ikut-ikutan menyanyikan lagu yang hanya asal mengikuti trend saja sekalipun syair lagunya bukan untuk anak.

Anak-anak biasanya punya lagu kesukaan. Begitu juga dengan Fanni. Ketika aku bertanya padanya, jawabannya tentang lagu kesukaan tidak aku duga sebelumnya.

"Apa sih lagu kesukaan Fanni?"

"Ruri Abangku."

"Di sekolah sering nyanyi lagu itu ya?"

"Enggak kok, kan bunda yang sering nyanyi lagu itu, namanya diganti dengan Luthfan."

"Ooohhh... Jadi Fanni suka lagu itu karena nama Ruri diganti Luthfan?"

"Iya."

Untuk jelasnya aku tuliskan syair lagu Ruri Adalah Abangku yang sudah aku ganti dengan nama Luthfan, kakak Fanni yang sulung.
Luthfan adalah abangku
Rajin dan senang belajar
Dengan menyandang tas di bahu
Riang menuju sekolah
Berhitung menulis membaca
Tak lupa diulang di rumah
Ingin akupun demikian
Serajin Luthfan abangku
Aku mengajarkan lagu anak-anak terutama bila sedang sedang dalam perjalanan ke luar kota. Untuk menghilangkan kejenuhan anak-anak di mobil, lagu anak-anak semasa kecilku, yang aku ingat akan aku nyanyikan. Dari lagu Desaku, Awan Putih, Bunda Piara, Memandang Alam dari Atas Bukit, Ambilkan Bulan, Kapal Api, Ruri Abangku, dan lain-lain. Jangan disangka kalau lagu itu hanya akan dinyanyikan oleh Fanni dan Hilman. Luthfan dan Astri juga sering nimbrung menyanyikannya juga. Lumayanlah untuk seru-seruan di mobil. Dan karena kami cukup sering bepergian (walau sekedar ke Depok, hehehe....), jadinya cukup seringlah lagu anak itu didendangkan.

Rupanya lagu Ruri Abangku yang selalu aku nyanyikan dengan mengganti nama Ruri dengan Luthfan, berkesan di hati Fanni. Mengapa lagu itu jadi kesukaan Fanni tentu ada alasannya. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak jawaban Fanni.  ^_^

"Kenapa sih Fanni suka lagu Luthfan adalah Abangku?"

"Mas Luthfan kan memang rajin belajar, Bun."

"Mas Luthfan orangnya gimana sih, Nak."

"Mamas hebat."

"Hebat Gimana?"

"Suka belain aku kalau aku digangguin."

"Masak sih? Memangnya Fanni digangguin siapa?"

"Waktu di rumah eyang, ada anak situ yang nakal sama aku, mamas liat, trus anak itu dimarahi."

"Fanni suka dibelain mamas?"

(mengangguk)

"Terus apalagi?"

"Mamas jago silat, kuat gendong pundak, pinter bandminton, kayak ayah."

"Tapi aku takut ngadu sama mamas kalau ada temanku di sekolah yang nakal."

"Loh kenapa? Katanya suka dibelain mamas?"

"Ntar temanku dimarah-marahin di sekolah, kan kasian. Mamas galak kalau ada yang nakal sama aku."

Hihihihi... Fanni kuatir temannya dilabrak kakaknya, bisa-bisa heboh di sekolah. Luthfan memang selalu "pasang badan" kalau ada dengar ada yang mengganggu adiknya. Tidak hanya kepada Fanni, tapi juga Astri dan Hilman. Memang tidak selamanya hal ini baik. Aku dan ayahnya harus sering-sering menahannya agar tidak ikut campur masalah adik-adiknya, supaya adik-adiknya bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi itulah Luthfan. Pada dasarnya dia ingin membela kehormatan keluarga. Jangan sampai dia dengar nama ayah dan bundanya buat olok-olok, karena itu akan membuatnya tidak perduli siapa yang dihadapinya. Sekalipun belum pernah terjadi dia berantem gara-gara hal itu, tapi cara dia mengatakan ketidaksukaannya sudah cukup membuat temannya atau siapapun yang melakukan jadi tak pernah mengulanginya lagi.

"Aku kasian sama mamas."

"Kasian kenapa."

"Aku pernah ngerusak tugas sekolahnya. Mamas takut nggak dapat nilai."

"Oh yang itu, enggak kok, Nak. Mamas tetap dapat nilai. Fanni kan udah minta maaf."

"Udah sih, malah aku udah peluk mamas juga."

Aku ingat peristiwa malam itu. Luthfan begitu marah ketika tugas praktek IPAnya tanpa sengaja rusak oleh Fanni, padahal harus dikumpulkan keesokan harinya. Fanni ketakutan sekali melihat Luthfan marah dan merasa bersalah. Aku menenangkan Luthfan dan ayah menggendong Fanni ke kamar. Setelah Luthfan tenang, baru Fanni aku panggil. Fanni memeluk kakaknya sambil terisak dia berkata,

"Maafin aku, Mas. Aku nggak sengaja."

Semarah-marahnya Luthfan, mendapat pelukan adiknya dengan rasa sedih begitu, tentunya tidak akan tahan. Diusapnya kepala adiknya dan berkata kalau dia memaafkan Fanni.

Aiiih... manis sekali ending malam itu.

Fanni memang kelihatan merasa aman di dekat kakaknya.





Read more

Minggu, 25 Agustus 2013

Kemantapan Hati Fanni

Bismillahirrahmannirrahiim,

Tentang Fanni lagi. Si cantik yang selalu ceria dan membuat suasana rumah segar dengan segala canda dan tingkah lakunya. Fanni memang menyenangkan. Ditambah lagi dengan bahasa kasih Sentuhan Fisik, membuat ayah bundanya gemas untuk selalu memeluk dan menciumnya, dan Fanni-pun begitu menyerahkan dirinya untuk mendapat peluk cium itu. Hihihi... Menggemaskan banget. Gurauannya selalu mengundang tawa seluruh anggota keluarga. Walau tetap saja kadang muncul kerewelan darinya. Tapi masih wajar dan bisa segera ditenangkan.



Oktober nanti usianya 7 tahun. Dari sekarang dia sudah punya angan-angan ingin dibelikan mainan. Sudah menyebut dengan jelas mainan seperti apa yang dia inginkan. Lucunya, ketika Hilman berulang tahun belum lama ini dan dibelikan mainan, kebetulan mainan yang Fanni inginkan ada di toko itu. Fanni tetap tidak mau dibelikan, dia tetap mengatakan bahwa mainan itu buat kado miladnya.

Ada hal-hal yang ditunjukkan Fanni membuatku terharu dan bahagia. Sebagaimana aku ceritakan dalam Hidayah Untuk Anakku #2, dimana Fanni sudah mantap mengenakan jilbab ketika masuk SD, maka tulisan ini adalah bukti kemantapan hatinya dalam berbusana muslim, tidak sekedar asal ikut-ikutan bunda dan kakaknya (Astri).

Ramadhan lalu, ketika eyangnya datang dari Yogya, Fanni diajak menginap di rumah adikku di Ciganjur, Jakarta Selatan. Karena liburan lalu Fanni gagal liburan ke Yogya dan dia amat kangen dengan eyangnya, maka aku ijinkan dia menginap selama 1 minggu di Ciganjur.

"Fanni, ini semua keperluan Fanni sudah bunda siapkan di tas ini. Jilbab ada di sebelah sini. Alat mandi di sini," aku menjelaskan semua kebutuhannya selama seminggu.

"Ya, bunda...," Fanni hanya menjawab sekilas sambil asyik bermain.

"Fanni tetap puasa ya di sana."

"Iya dong. Kan biar bunda nggak liat, Allah liat."

"Alhamdulillah, anak bunda pinter."

"Aku mau dapat pahala yang banyak, bunda."

"Subhanallah... anak sholehah bunda...", peluk cium kembali kudekapkan padanya. Terharu banget.

Ketika dua hari Fanni menginap di rumah tantenya, aku dapat kiriman foto Fanni sedang diajak eyangnya jalan-jalan. Difoto itu tampak Fanni tetap mengenakan jilbabnya. Aku bertanya pada adikku, apakah Fanni berpakaian sendiri atau diurusi.

"Dia mandiri banget mbak. Semua diurusnya sendiri. Bahkan dia minta kantong plastik untuk baju kotornya, tapi aku cucikan kok. Jilbabnya dia pakai sendiri. Sahur juga gampang dibangunkan. Puasa tetap sampai maghrib. Padahal anakku nggak puasa (5 tahun). Salut deh sama Fanni. Nggak terpengaruh apa-apa." adikku menjelaskan.

Alhamdulillah, ya Allah. Rupanya mengijinkan Fanni menginap bisa sambil menjadikan ujian buatnya bagaimana kemandirian dan kemantapan hatinya.

Hal lain yang ditunjukkan Fanni dalam kemantapan hatinya berbusana muslim adalah hal lain yang melegakan. Fanni sekolah di SD negeri. Di kelasnya ada 2 anak yang memakai jilbab. Suatu hari Fanni pulang sekolah bercerita,

"Di kelasku ada yang pakai jilbab juga, bun. Tapi aneh deh bun... Masak kalau di kelas suka dia lepas. Ngapain dia pakai jilbab kalau dilepas-lepas gitu."

"Memangnya Fanni nggak pernah lepas jilbab kalau di sekolah?"

"Enggaklaah... ngapain pakai dilepas."

"Memangnya kenapa Fanni nggak mau lepas?" Bunda ngetes Fanni.

"Malu dong bunda, rambut kan aurat. Masak diliat-liatin."

"Nggak kepanasan?"

"Biarin aja kepanasaan."

"Nggak bikin Fanni terganggu belajarnya?"

"Enggak tuh. Biasa aja."

"Nggak merasa malu, kan teman-teman nggak pada pakai."

"Aaah... bundaaaa... yang malu itu kalau nggak pakai jilbab." Fanni menjawab ringan sambil berlalu.

Kali lain ketika sedang dalam perjalanan ke Depok. Aku lupa membawa minum untuk anak-anak di mobil. Maka ayahnya menghentikan mobil di sebuah swalayan untuk membeli air mineral dan sedikit snak buat anak-anak. Fanni dengan berteriak, berkata,

"Ayaaah...! Tunggu aku mau ikut turun. Pakai jilbab dulu Yaaah...!" Fanni di mobil berbaring di jok mobil jadi jilbabnya dilepasnya. Ketika hendak turun dari mobil, ingat dengan jilbabnya sekalipun dengan terburu-buru.

Subhanalah... Alhamdulillah... Allahu Akbar... Puji syukur padaMu ya Allah. Anakku sudah mantap berbusana muslim dengan pemahaman yang benar. Kuatkan hatinya, teguhkan imannya, lindungilah tiap langkahnya agar selalu berpetunjuk. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

Berbusana muslim memang harus dilakukan dengan sebuah pemahaman yang benar bahwa busana muslim adalah sebuah kewajiban yang menjadi ketetapan Allah kepada kaum wanita. Jika hanya karena ikut-ikutan dan mengikuti trend, maka akan tampak dari sikap dan tingkah lakunya. Banyak kita lihat anak-anak, remaja atau orang dewasa memakai pakaian muslin karena terpaksa mengikuti aturan yang berlaku di lingkungannya. Misalnya lingkungan sekolah atau tempat kerja. Bukan karena memang dengan keyakinan keimanan yang benar. Maka yang tampak adalah, begitu dia keluar dari lingkungan tersebut, dia akan melepas jilbabnya bahkan berganti dengan pakaian yang jauh dari kesan muslimah.

Saling mendoakan demi kebaikan bersama, semoga semakin banyak muslimah berbusana yang baik dan benar.




Read more

Senin, 15 Juli 2013

Ayo Sekolah

Bismillahirrahmannirrahiim.

Tak terasa, liburan sekolah sudah berakhir. Bisa dibilang liburan kali ini kami hanya "di rumah saja". Artinya kami tidak berlibur atau camping seperti yang biasa dilakukan pada saat liburan tiba. Padahal ayahnya sudah ancang-ancang mengambil cuti untuk liburan ini, tapi dibatalkan. Kesibukan pendaftarasan sekolah Astri yang masuk SMA dan Fanni yang masuk SD cukup membuat kagok jadwal. Apalagi Fanni baru dapat sekolah setelah mengikuti Jalur Lokal, karena umurnya kurang sedikit ketika mengikuti Jalur Umum tahap 1. Jadi batalah acara liburan yang semula kami rencanakan hendak ke Yogya sampai Bromo.

Tak apa. Memang sedang masanya. Yang penting Astri dapat SMA yang diafirmasikannya, dan Fanni dapat sekolah sesuai keinginan kami semua. Alhamdulillah.

Menjelang hari pertama sekolah, suasana rumah disibukkan dengan kegiatan menyampul buku dan mempersiapkan alat sekolah. Apalagi Astri harus menyelesaikan tugas-tugas untuk keperluan MOS (Masa Orientasi Siswa). Biasalah, ada saja hal-hal aneh dan sedikit menyusahkan dalam persiapannya. Mulai dari membuat name tag berbentuk Tugu Monas seukuran badan, membuat 8 buah pantun, membuat surat cinta, dan lain-lain. Seru juga membantu mengerjakan semua itu. Apalagi Astri sudah seperti teman kalau sama bundanya. Jadi dia cuek saja bercerita tentang kelucuan teman-temannya dalam mempersiapkan MOS dan membacakan surat cinta yang dibuatnya untuk kakak kelasnya.

Ayoo, kita sampul bersama-sama!

Menyampul buku juga kami kerjakan bersama-sama. Bahkan Fanni hanya perlu memperhatikan aku mengajari sekali, kemudian dia bisa ikut menyampul. Rapi juga loh hasilnya. Sepanjang menyampul bibir mungilnya selalu berceloteh, berangan-angan bagaimana dia akan menghadapi hari-hari SD-nya. Seragam SD tak luput dari perhatiannya. Beberapa kali dia coba, lengkap dengan jilbab, dasi, topi, kaos kaki dan sepatunya.  

"Aku nggak sabar mau SD, Bun." begitu selalu yang diucapkannya.

Sementara Astri dengan nada dan mimik wajah  dilebay-lebaykan berkata,"Bunda, I need you on my first day. Doakan aku, peluk aku, semoga aku lolos dari kerjaan iseng kakak kelas semasa MOS."

Adegan berikutnya adalah Astri dan Fanni pura-pura rebutan memeluk bundanya, merayu siapa yang akan ditemani di hari pertamanya sekolah. Hihihihi... sukaaaa deh dengan suasana rumah yang so sweet begitu. Tentu saja aku akan menemani Fanni, Astri hanya menggoda adiknya saja.

Daaaaan...

Hari pertama sekolah tiba. Fanni sudah tak mau tidur habis sahur. Oh ya, Alhamdulillah Fanni sudah kuat puasa full sejak hari pertama. Makin tak sabar dia memakai seragam SDnya. Suasana heboh antri kamar mandi pun mulai terasa kembali. Seru, lucu, walau ada sedikit teriakan, namun bukan dengan nada emosi. Aku memang fokus pada Fanni, kalau kakak-kakaknya sudah aku biarkan mengatur semua kebutuhannya sendiri.

Ayah bahkan ingin juga mengantar Fanni di hari pertamanya masuk SD. Kalau soal Fanni, ayah memang paling mantap deh.

"Asyiiik, aku diantar ayah sama bunda, mbak Astri jalan kaki aja sana," masih sempat menggoda kakaknya juga dia. Astri hanya membalas dengan senyum ledekan, kemudian berpamitan. Dia berangkat nomor satu. Luthfan seperti biasa berangkat sekolah naik motor sambil mengantar Hilman.

Sekolah Astri hanya berjarak sekitar 200m dari rumah, dan sekolah Fanni sedikit lebih jauh, kira-kira 300m dari rumah. Dekat khan, bisa jalan kaki. Alhamdulillah diberi kemudahan ini sama Alloh.

Duduk manis menunggu guru datang

Tentu saja seperti diduga, belum ada pelajaran di hari pertama. Baru perkenalan, dan beberapa pengumuman. Guru juga masih membuat susana kelas seperti layaknya di TK. Menyanyi, menggambar bebas, menyapa satu persatu muridnya. Lega rasanya melihat sikap guru Fanni kepada murid-muridnya. Terlihat sabar dan pengertian.

Fanni dan Nabila, teman TK-nya

Jam 09.00 sudah pulang. Karena pagi berangkat bareng ayah, maka kami pulang jalan kaki. Bukan Fanni kalau tidak berceloteh sepanjang jalan. Semua yang disampaikan gurunya lengkap disampaikan pada bundanya. Karena aku mendengarkan dari luar kelas dan membaca pengumuman di papan tulis, jadi aku tau bahwa apa yang Fanni ceritakan itu lengkap. Good job, sweety.

Pulang sekolah dengan ceria dan full cerita

Anak-anakku, harapan bunda semoga kalian bisa belajar dan menyerap semua ilmu yang kalian dapat dengan baik. Dan ilmu itu bermanfaat bagi hidup kalian sekarang dan nanti. Selamat menuntut ilmu, tetaplah membuat afirmasi-afirmasi dalam belajarmu.







Read more

Selasa, 18 Juni 2013

Hidayah Untuk Anakku #2

Bismillahirrahmannirrahiim,

Ada rasa bahagia, saat melihat dan mendengar Fanni membicarakan sebuah hal penting dalam hidup. Di usia  6 tahun, dia sudah mengerti sebuah kewajiban penting. Rasanya seperti mendengar nasehat dari bibir mungilnya. Dengan gayanya yang khas dan menggemaskan, Fanni mampu membuatku menitikkan air mata haru.

Beberapa hari lalu, Fanni dan Astri begitu kompak membongkar isi lemari pakaian mereka. Waktu aku tanya, untuk apa isi lemari dikeluarkan semua? Astri cuma menjawab, sedang dipilih-pilih yang bisa dipakai Fanni. Aku memang membiarkan mereka berdua dengan kekompakannya. Setelah selesai baru aku tanya lagi ke Fanni.

"Baju apa sih yang dicari tadi, Fanni?"

Sungguh diluar dugaanku, Fanni menjawab,"Yang bisa buat baju muslim aku. Kan aku mau pakai jilbab. Mbak Astri bilang, yang tangan pendek bisa dipakai, terus ditambah pakai jaket kaos."

Subhanallah, aku tidak mengira Astri melakukan itu untuk Fanni, dan Fanni dengan penuh kesadaran mau membantu. Aku memang sedang fokus menanamkan kepada Fanni tentang jilbab. Perlahan-lahan aku masuk pada pemahaman kewajiban berjilbab. Aku ingin saat Fanni memakai, itu sepenuhnya karena dia tahu bahwa itu adalah kewajibannya. Bukan sekedar ingin seperti bunda atau mbak Astri.

"Fanni tau kenapa harus pakai jilbab?"

"Tau dong, bunda."

"Kenapa coba? Apa alasan Fanni?"

"Kan itu perintah Allah, ada di Alqur'an. Perempuan itu harus pakai jilbab."

"Memangnya kenapa rambut juga harus ditutup?"

"Rambut itu aurat juga, bunda. Bener kan? Kan bunda sama bu Hani pernah kasih tau."

"Ihhh, pinter banget sih anak cantik bunda. Jadi Fanni mantap mau pakai jilbab?"

"Iya dong, pasti aku tambah cantik deh, iya kan?" (tetep aja keluar narsisnya)

"Pasti dong, Fanni bakal tambah cantik dengan berjilbab."

"Bunda, kalau di rumah eyang, aku boleh lepas jilbab nggak? Di dalam rumah aja kok."

"Boleh, sayang. Kalau di depan eyang boleh. Tapi hati-hati loh nak, rumah eyang kan ada warungnya, kalau di depan yang beli, Fanni harus pakai."

"Oh, iya. Oke bunda. Bunda juga jangan lupa."

"Apa nak?"

"Nanti kalau beli seragam SD buat aku, belin yang panjang-panjang."

"Subhanallah, Fanni pinter. Nanti Fanni ikut bunda ya kalau beli seragam SD."

"Asyiiiiikkk...!"

Duuh, pelukan eratku untuknya, ciuman sayangku, belaian tanganku, cukupkah membuat Fanni tahu kalau aku amat bersyukur atas nikmat ini? Air mata yang menitik sedikit ini, merupakan wujud bahagiaku.

Semoga kau istiqomah, anakku.




Read more

Kamis, 30 Mei 2013

Pinjam Dong

Bismillahirrahmannirrahiim,

Postingan iseng aja. Gara-gara habis bercanda sama Astri, jadi ingat kisah ini.

Dulu sekali...

Ibuku pulang membawa beberapa kantong belanja. Dengan suka cita aku menyambutnya, berharap ada satu atau dua barang yang ibu belikan untukku. Setelah menjawab salam ibu dan mencium tangan beliau, tanganku langsuk sibuk membongkar belanjaan ibu dengan penuh harap.

"Aku dibeliin apa, Bu?" tanyaku tanpa mengalihkan perhatian pada isi kantong yang aku bongkar.

Belum sempat ibu menjawab, aku sudah menemukan yang aku kira menjadi jatahku.

"Waaahh, asyiiik...! Baju sama tas..."

"Tas nya memang iya buat kamu, Nak. Tapi bajunya punya ibu."

"Lho... kok ukurannya sama kayak punyaku."

Ibu tersenyum,"Ya kan memang sekarang kamu sudah besar, sudah hampir sama sama ibu."

"Oooo... ini baju ibu," Sedikit kecewa karena aku suka dengan model dan warnanya. Modelnya tidak terkesan baju emak-emak.  

Aku memang sering meminjam beberapa pakaian ibu yang aku suka. Tentu saja itupun kalau ibu anggap modelnya cocok untuk usia 17 tahunku. Bukan hanya pakaian, beberapa barang milik ibu seperti tas, sandal dan lain-lain juga sering aku pinjam.

Seperti pada hari itu ...

Lama aku terpaku di depan lemari pakaianku. Bingung mau memakai yang mana. Bosan rasanya memakai baju yang itu itu saja. Hari ini aku ada undangan ulang tahun teman sekelasku. Aku ingin tampil beda dari biasanya. Tapi isi lemariku sepertinya sudah lama tidak bertambah penghuni baru.

Tiba-tiba seketika muncul ide dalam otakku.

"Ahaaa.... aku tahu mau pakai baju yang mana."

Aku bergegas menuju lemari pakaian ibu. Mencari yang aku cari. Yess! Ini dia... Baju ibu yang baru dibeli kemaren. Yang aku suka model dan warnanya. Aku mengambilnya dan langsung mencobanya. Wah... pas sekali. Ternyata ibu benar. Tubuhku sudah sama besar dengan ibu. Ada sedikit longgar di bagian pinggang, tapi tak masalah. Tetap keren.

Setelah merasa yakin dengan pilihanku, barulah aku menghampiri ibu yang sedang membaca di ruang keluarga. Ibu menatapku sambil berkata,

"Heiii... itu kan baju ibu."

"Pinjam ya bu... Aku mau ke ulang tahun teman." dengan nada merayu aku meminta ijin.

(minta ijin kok udah dipakai duluan. Salah ya...)

"Anak ibu udah besar ya. Udah bisa join pakaian sama ibu. Iya boleh. Tapi lain kali minta ijin dulu ya. Jangan langsung pakai gitu. Yang namanya meminjam barang, sekalipun punya ibu atau saudara, tetap harus dengan ijin yang punya.."

"Maaf ya ibu sayaaang... Niken nggak akan ulangi lagi. Makasih." dengan girang aku memeluk dan mencium pipi kiri kanan ibu.

Aku anak perempuan satu-satunya, jadi bisanya ya pinjam barang-barang ibu. Kalau punya saudara perempuan pastinya bakal lebih seru lagi ya.

****



Waktu berputar begitu cepat.

Sampailah pada saat ini. Aku dan anak gadisku, Astri, pun punya perbincangan seperti ini:

"Bunda, aku pinjam jilbabnya dong".

"Sandal bunda boleh nih kalau aku pinjam."

"Rok bawahan bunda bisa aku pakai juga nih, pinjem ya."

"Sepatu kets bunda dipakai nggak? Aku pinjam buat jogging ya."

"Aku pinjam tas bunda dong".

Sepanjang memang pantas dan bisa Astri pakai, aku ijinkan saja. Mana tahan menghadapi cium dan pelukannya yang bertubi-tubi kalau sedang merayu. Hihihi, bundanya meleleh deh sama rayuan Astri.

Cuma gamis dan pakaianku yang kebesaran buat Astri tidak bisa joinan memakainya. Sebab tubuhnya tidak sebesar tubuhku. Hehehehe. Kalau rok, karena selalu pakai karet, Astri masih bisa pinjam. Kan kami sama-sama berpakaian muslimah, jadi tak perlu full press body kan.

Ternyata soal pinjam meminjam ini malah makin mendekatkanku pada Astri. Bisa buat bahan bercandaan. Sebab tiap Astri mau pinjam barang-barangku, dia akan merayuku sedemikian rupa, dan aku akan pura-pura keberatan sampai dia bermanja-manja. Selalu ada cara buat sang bunda ini supaya mendapat pelukan mesra dari anaknya.

Punya pengalaman yang sama, teman-teman?


Read more

Minggu, 19 Mei 2013

Prinsip-Prinsip Komunikasi dalam Islam

Bismillahirrahmannirrahiim,


Gambar dari sini


Rasanya banyak yang sepakat kalau komunikasi dalam keluarga itu penting. Buktinya banyak yang membahas tentang betapa pentingnya komunikasi ini. Rasanya kita semua mengangguk setuju membaca tulisan-tulisan tentang komunikasi dua arah. Bukan yang satu arah. Teori-teori komunikasi begitu canggihnya mengungkapkan manfaat dan cara-caranya. Banyak buku dan literatur kita baca. Banyak seminar kita ikuti.

Tapi bagaimana prakteknya?

Seharusnya semua itu membuat kita jadi bisa menerapkannya minimal di dalam keluarga. Minimal? Ah, kenapa keluarga sering diletakkan pada level minimal. Padahal, bagaimana kita di luar sana sering kali ditentukan dengan bagaimana sikap dan perilaku kita di dalam keluarga. Bagaimana anak-anak membawa dirinya dalam masyarakat, juga amat dipengaruhi dengan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak-anaknya.

Sebetulnya, aku ingin cerita tentang obrolanku dengan Astri (anakku no 2). Sering sekali aku menemukan hal-hal yang membuatku mengerutkan dahi kalau ngobrol dengan anak-anak. Yang namanya ngobrol kan selalu melebar. Semula bicara tentang apa, cari merembet tentang topik yang lain.

Waktu itu kami membicarakan tentang handphone yang dimilikinya. Bukan hape canggih. Hanya Nokia E 63. Sejak selesai UN aku lihat Astri semakin sibuk dengan hapenya.  Padahal aku sedang mensupportnya untuk lebih giat menulis. Astri suka dengan cerpen. Mumpung waktunya sudah santai, kan bisa lebih produktif. Lha tapi kok malah sering "sibuk" dengan hapenya. Berikut ini jawaban Astri.

"Kalau bunda liat aku megang hape lama-lama, bunda jangan curiga dulu. Aku bukan main game atau kelamaan twitteran. Tapi ngetik cerpen yang tiba-tiba idenya muncul. Tapi ya masih pada nggantung gitu. Belum selesai. Lihat niiiih." Kata Astri sambil memperlihatkan beberapa tulisan di hapenya.

"Oooh, gitu. Bunda cuma kuatir, Astri jadi keasyikan dengan hape, berkurang deh ngobrol sama keluarga."

"Ya enggak dong, Bun. Tenang aja. Aku kan cuma memaksimalkan fasilitas hapeku aja." Santai bener Astri mengatakannya.

"Jangan sampai interaksi kita jadi tanpa suara, nak. Asyik dengan hape masing-masing. Apalagi kalau sampai perbincangan jadi lewat hape, internet. Hilang pula nanti kedekatan keluarga. Padahal suara bunda kan merdu."# Uhuuukk...

"Bundaaa, pede banget siih. Hahaha... Tapi bener juga sih, Bun. Bisa jadi nanti lama-lama begitu. Temanku malah sampai ngoceh di twitter tentang cara mamanya menyuruh dia."

"Kok sampai ke twitter segala, memangnya mamanya kenapa?"

"Mamanya punya kebiasaan nyuruh dia mandi, makan, sholat, pokoknya banyak deh... lewat sms. Padahal mereka sama-sama sedang di rumah. Cuma beda ruangan. Temanku ngetwet bilang, Gaya emak-emak jaman sekarang. Apa-apa pakai sms." Astri mengatakannya sambil geli dan geleng-geleng kepala.

"Sering atau sekali-sekali tuh?"

"Katanya sering. Apalagi kalau mereka sama-sama pegang BB atau hapenya bisa buat Watshap. Bakalan makin sering deh tuh."

Pernah atau seringkah teman-teman melakukannya?

Kalau melihat cara Astri mengatakannya juga melihat teman Astri mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap perbuatan mamanya, rasanya bisa terbaca, bahwa anak-anak sebetulnya lebih suka kalau kita menyentuh, mendatangi, berbicara, bersuara kepada mereka. Kalau tidak sedang di rumah, bolehlah melakukan itu. Tapi kalau sama-sama di rumah, bukankah malah menjauhkan hubungan antara ibu dan anaknya?

Padahal dalam Islam, jelas-jelas sudah disebutkan di dalam Alqur'an prinsip-prinsip komunikasi yang baik dan benar. Ada 6 prinsip komunikasi dalam Islam, kesemuanya harus bisa kita terapkan agar komunikasi baik di dalam keluarga maupun di masyarakat, menjadi interaksi yang positif, yaitu:

1. Qaulan sadida (perkataan yang benar). 

Dalam berbicara kita harus jujur, sehingga kita menjadi orang yang bisa dipercaya. Menjauhkan diri dari perkataan-perkataan bohong. Hal ini juga menjadi contoh untuk anak-anak. Kita tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anak dengan jawaban bohong hanya karena kita tidak mau pusing menjelaskan sesuatu. Sebagaimana Firman Allah:

QS. Al-Ahzab 70: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.
QS. Annisa ayat 9: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
2. Qaulan Ma'rufa (perkataan yang baik). 

Tutur kata kita yang baik kepada siapapun, baik kepada yang lebih tua maupun kepada yang muda. Baik kepada atasan maupun bawahan. Sebagaimana Firman Allah:
QS. Annisa ayat 5: Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.
3. Qaulan Layyinan (perkataan yang lemah lembut).

Dengan berkata lemah lembut akan membuat lawan bicara kita bersedia mendengarkan kita. Anak-anak akan merasa direngkuh dan dihargai. Apa yang ingin kita sampaikan bisa lebih diterima oleh mereka. Hati kita pun bisa lebih lapang dalam menyampaikan sesuatu. Sebagaimana Firman Allah:
QS. Thaha 44: Maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut...
4. Qaulan maisura (perkataan yang pantas)

Dalam berkomunikasi kita tidak boleh merendahkan orang lain. Terutama kepada orang yang lebih tua, sekalipun dia adalah orang yang bekerja kepada kita. Tidak tergantung pada status sosial seseorang, atau tinggi rendahnya pangkat seseorang. Sebagaimana Firman Allah:
QS. Al-Isra 28: Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas. .
5. Qaulan baligha (perkataan yang efektif/membekas jiwa)

Kita berbicara tak perlu berbelit-belit. Kadang dengan begitu oarang lain malah tidak memahami yang ingin kita sampaikan. Terutama pada anak-anak. Pemahaman mereka masih terbatas, kalau kita tidak efektif dalam menyampaikan nasehat, mereka malah bingung menangkapnya. Membiasakan berkata-kata efektif akan lebih mengena pada sasaran dan membekas di hati mereka. Sebagaimana Firman Allah:
QS. An-Nisa 63: Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa pada jiwa seseorang. Dalam keluarga komunikasi mereka.
6. Qaulan Karima (perkataan mulia dan penuh penghormatan)

Anak diwajibkan untuk bicara dengan mulia kepada orang tuanya, dan tentu saja orang tua harus memberi contoh kepada anakknya. Dalam berkomunikasi kita harus menghargai perasaan orang lain. Sekalipun kita sedang membicarakan sebuah kesalahan, sampaikanlah dengan pengertian.
QS. Al-Isra 23: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Luar biasa bukan Islam menata kehidupan kita. Bahkan dalam kita bertutur kata saja diberi petunjuk oleh Allah. Kesemuanya itu kalau selalu kita upayakan dan tanamkan, akan menjadi sebuah sikap dan perilaku yang baik, benar dan membawa kadaiman. Insya Allah.

Kembali kepada topik pembicaraan aku dan Astri di atas, alangkah tidak bijaksananya jika kita berbicara kepada anak-anak dengan cara seperti itu. Karena komunikasi dalam keluarga, di dalamnya terkandung nasehat dan contoh-contoh yang nantinya akan terekam dalam memori anak-anak, dimana semua itu bisa mempengaruhi kepribadian mereka. Suara kita jangan sampai tergantikan dengan kecanggihan teknologi. Komunikasi membutuhkan inetraksi, dan interaksi yang baik antara orang tua dan anak adalah dengan sentuhan dan suara. Manfaatkan teknologi dengan tepat, jangan sampai merusak dan mengurangi kehangatan keluarga.


Read more

Selasa, 07 Mei 2013

Serba-serbi Remajaku

Bismillahirrahmannirrahiim,

Sulungku sedang kolokan. Biasalah, kalau sedang tidak enak badan Luthfan selalu minta perhatian lebih dari bundanya. Tadi bahkan terang-terangan berkata," Bunda, aku nggak enak badan nih. Bunda jangan sibuk nulis ya." Hehehe... Maksudnya, bundanya diminta nemani dia berbaring di tempat tidur, mengusap kepalanya, dan ngobrol. Dari semua anakku, Luthfanlah yang paling terbuka padaku. Mudah sekali mengajaknya ngobrol macam-macam. Seperti biasa, aku selalu mengambil kesempatan buat menyelip-nyelipkan nasehat. Atau mengorek-ngorek hal-hal yang ingin aku tahu dari dirinya. Maklum, remaja kan "urusan"nya banyak. Harus pandai-pandai mengarahkan pembicaraan supaya dia terbuka.

Hari Ahad kemaren, Luthfan terlalu memforsir tubuhnya dengan berolah raga. Setelah lomba lari 5 km pada pagi hari, dia langsung ke Senayan untuk latihan Parkour. Susah dilarang kalau sudah niat latihan atau olah raga. Aku sering mengingatkan agar dia tidak over training. Jadwal olah raga Luthfan dalam seminggu adalah, malam Rabu latihan Free Run. Jum'at pulang sekolah (Jum'atan) Futsal, Sabtu pagi Badminton, Sabtu malam Free Run, Ahad pagi Parkour. Itu saja sudah meninggalkan Silat dan Kempo karena sedang fokus di Free Run dan Parkour.

Invitasi Beladiri Sorinji Kempo se DKI 

pertandingan SHO DKI SMP


Ganti warna sabuk ke biru (SMP kelas 9)

Sulungku itu akan berada di baris paling depan kalau ada yang menyakiti anggota keluarganya, terutama bundanya. Luthfan pernah minta ijin padaku untuk menonjok wajah karyawan kantinku karena menurutnya si karyawan tidak sopan padaku. Tentu saja aku larang. Dia sering protes mengapa ayah bundanya memilih sikap diam terhadap orang yang menurutnya meremehkan kami.

"Sabar sih boleh, Bun. Tapi mosok yang kayak gitu juga didiemin? Jangan mau dong." Begitu protesnya.

Kemudian aku dan ayahnya akan "sibuk" menenangkannya. Menjelaskan alasan-alasan yang kami punya. Luthfan sudah tidak bisa diberi penjelasan yang bukan sebenarnya. Karena kebiasaannya akan memberikan pertanyaan-pertanyaan sampai dia merasa semua jelas. Jadi lebih baik menjelaskan dengan hal yang sebenarnya, sepanjang memang dia pantas mendengarnya. Kalau untuk hal-hal yang Luthfan belum pantas tahu, maka kami akan terus terang mengatakan,

" Maaf mas Luthfan, ayah dan bunda belum bisa menjelaskan masalah sebenarnya karena ini bukan porsi kamu untuk mengetahuinya. Tapi yang perlu mas Luthfan ketahui, masalah tidak akan selesai dengan emosi. Bahkan mungkin akan timbul masalah baru, dst."

Mengapa dst? Karena selanjutnya, sang bunda akan lagi-lagi mengambil kesempatan untuk memberikan "ceramah". Kadang suasana malah jadi lucu karena Astri akan nimbrung mengatakan,

"Naaah, Bunda mulaaaiiiii...!" Atau akan dihitung, " Satu... Dua... Tiga... Mulaiii!!" #Diiiih, unyel-unyel Astri.

Hihihi... Anak-anak hafal kebiasaan bundanya. Habisnya gimana doong. Kan aku harus menenangkan jiwa remaja Luthfan yang begitu bergejolak dengan emosi. Cara yang paling jitu adalah dengan menyambungkannya dengan nilai-nilai keagamaan. Selalu menghubungkan segala persoalan kepada Allah.

Udah nggak mempan dengan mengatakan, "Kalau ayah bunda dulu" atau "kata ayah bunda juga apa" atau "dikasih tau kok ngeyel". Kalau dengan cara itu, diamnya Luthfan akan sambil penuh rasa tidak puas. Diamnya Luthfan hanya karena merasa tidak mau membantah orang tua. Bukan karena memang dia menerima atau mengerti. Tapi kalau memakai nilai-nilai agama atau bahkan menyebutkan dalil-dalil dalam Alqur'an, nasehat menjadi tak terbantahkan. Anak-anak akan menerimanya dengan baik. Mengerti bahwa tindakan orang tuanya memang seperti atau paling tidak mendekati yang ditetapkan Allah.

Itu sebabnya sebagai orang tua, kita harus terus belajar. Belajar yang utamanya adalah belajar Alqur'an. Kita sering mengambil pendapat orang-orang bijak, nasehat-nasehat parenting dari para pakar, tapi kita sering mengabaikan apa-apa yang ada dalam Alqur'an. Padahal nantinya pertanggungjawaban kita sama Allah, bukan berapa banyak buku yang sudah kita baca, tapi seberapa besar Alqur'an menjadi pedoman hidup kita.

Kalau waktu menjelang akil baligh aku menjelaskan tentang perubahan-perubahan fisik anakku. Maka dalam usia remaja ini, aku mulai membicarakan pendidikan seks yang lainnya. Aku pernah menyebutkan di tulisanku yang lalu - Pendidikan Seks Untuk Anak - apa-apa yang bisa mempengaruhi prilaku seks pada anak. Aku memang tidak merasa tabu membicarakan tentang seks kepada anak-anak. Karena pendapatku, lebih baik mereka tahu dari orang tuanya dari pada salah informasi.

Kita tidak perlu merasa "kecolongan" dengan menganggap anak-anak kita adalah anak-anak yang baik dan manis. Atau merasa bahwa anak-anak kita belum saatnya diajak bicara soal seks. Kita semua tahu bahwa serangan berbagai media dan internet begitu gencar. Semoga anak-anak kita mampu menjaga diri.

Buatku pribadi, aku tak bisa berdiam diri tanpa membekali anak-anak dengan sedikit pengetahuan tentang seks. Aku bukan orang yang paham istilah-istilah yang biasa dipakai dalam ilmu seksologi. Aku hanya mencoba memakai bahasaku sendiri dalam menjelaskannya, dan menghubungkannya dengan nilai-nilai agama. Di sekolah Luthfan sudah mendapat pelajaran tentang alat reproduksi manusia, jadi tinggal ditambahkan kepada nilai moral agama. Akan berbeda rasanya antara guru yang menyampaikan dengan orang tua yang menyampaikan. Saling melengkapi adalah kerja sama yang baik antara guru dan orang tua.

Contohnya, tentang (maaf) onani. Kepada Luthfan aku sebutkan apa yang dimaksud dengan onani, apa dampaknya, apa hukumnya dalam Islam. Juga tentang sperma, bagaimana sperma bisa membuahi sel telur dan menyebabkan kehamilan. Lebih lanjut bagaimana mengelola hati dan nafsu agar tidak terdorong atau terpengaruh pada hasrat melakukannya. Gairah remaja yang penuh gejolak butuh penyaluran yang tepat agar mampu menahan diri tak dikuasai nafsu.

Keimanan itu adalah hal yang pokok. Tingginya keimanan akan mampu membuat anak-anak (dan juga kita) mengendalikan hawa nafsu. Menundukkan hati pada Illahi akan mampu menjaga diri kita dari keinginan-keinginan yang mengotori jiwa. Belajar Alqur'an tidak hanya membacanya, tapi juga mengerti isinya. Orang tua belajar, anak-anak juga belajar. Sehingga akan ada kesamaan visi dan misi keluarga. Ingatlah, bahwa khatamnya belajar Alqur'an adalah saat kematian datang pada kita.

Akan lebih baik lagi kalau ditambah dengan membawa pikiran anak-anak kita kepada hal-hal positif. Mencari kegiatan-kegiatan yang bisa menyibukkan anak-anak. Sehingga mereka tidak hanyut dengan nafsu yang selalu melintas. Bisa dengan menyibukkan mereka kepada ketrampilan yang disukainya, hobi yang digemarinya, atau olah raga.

Karena Luthfan suka dengan olah raga dan adventure, maka menyalurkan adrenalin remajanya bisa dengan hal-hal itu. Aku dan ayahnya membebaskannya memilih olah raga apa yang akan dia tekuni. Luthfan memilih jenis olah raga yang aku sebutkan di atas. Olah raga adalah hobinya. Selain itu, aku melihat kegiatan Luthfan itu mampu menyalurkan gejolak remajanya. Luthfan memang sifatnya cenderung temperamen. Masih harus banyak rem yang diinjak untuk bisa menahan dirinya.

Beberapa foto di bawah ini sebagai gambaran keringat-keringat Luthfan yang mengalir menyegarkan badannya. Prestasinya memang biasa-biasa saja, tapi dia sudah mampu membangun jiwa sportifitas, jiwa besar, tegar.

Lomba lari 10 km


turnamen badminton antar SMP se DKI


 outbond saat ujian kenaikan sabuk silat

 salah satu gerakan free run

 free run juga

 Nggak ngangka nafasnya kuat lama juga menyelam ke dasar laut

suka banget sama lompat flip begini


Jagoanku itu tetap suka dengan telapak tangan bundanya. Setangguh apapun dia di lapangan, dia akan tetap mencariku untuk membelainya. Pada saat hatinya dalam keresahan yang dalam, dia tetap menangis di pelukanku.

"Anakku, bukan bunda yang memberimu ketenangan, tapi Allah-lah sang Maha Pengasih dan Penyayang. Bunda hanya bisa membelai dan mengusap air matamu, tapi memohonlah ketenangan batinmu pada Allah. Bunda hanya bisa menemanimu di rumah, tapi Allah menyertai setiap langkahmu. Ingatlah anakku Allah berada lebih dekat dari urat lehermu sendiri."


Read more

Selasa, 09 April 2013

Mejingku Hibiniu

Bismillahirrahmannirrahiim,



Kali ini aku ingin bercerita ringan tentang candaan dengan anak-anak. Ada geli, ada haru, ada bahagia. Semua itu mewarnai hari-hariku seindah mejingku hibiniu-nya pelangi.

Senin pagi, seperti biasa tour ke kamar anak-anak untuk membangunkan mereka beberapa saat sebelum kumandang bilal mengajak bersujud. Pertama-tama masuk ke kamar para gadis. Sasaran dimulai dengan membelai rambut Astri sambil membangunkannya.

"Selamat pagi, Cinta. Bangun yuk. Hari ini ada TUKPD kan?" sebuah ciuman mendarat di pipi Astri sambil tanganku menebarkan pesona dengan memancaran kehangatan di telapaknya. #hihihi, lebay.

"Hmmm, selamat pagi, Bunda. Iya... ini udah bangun," Astri sepertinya sengaja memasang badan untuk menikmati belaian bundanya. #yakin ini sih.

Kemudian terlintas isengku,"Astri tau nggak kepanjangan TUKPD?"

"Apaan sih, Bunda. Ya taulah, Tes Uji Kompetensi Peserta Didik," terlihat Astri mulai membaca kebiasaan iseng sang bunda.

"Salah, Say. Bukan itu. Bunda punya khusus buat Astri. TUh kan Kamu Pinter Deh...!" kembali sebuah ciuman mendarat di pipinya.

"Hahaha... Bunda ada-ada aja, makasih bun, bunda juga pinter deh!" Astri meraih tanganku dan menciumnya, kemudian bergegas bangun dan menuju kamar mandi.

Yess...! Pagiku diawali dengan senyuman manis Astri. Enteng banget rasanya memulai hari.

******



Hilman tidak sekolah karena batuk dan badannya demam. Sepertinya karena berenang di hari Sabtu, kehujanan. Jadi segala kolokannya pada saat sakit tumpah pada sang bunda. Anakku yang satu ini memang sensitif sekali. 

Siang hari, aku menyuruhnya untuk tidur, agar bisa istirahat. Hilman minta aku menemaninya di tempat tidur. Harusnya kesempatan buat bunda untuk tidur juga, tapi kok nggak bisa. Boro-boro tidur, pikiran malah kemana-mana. Setelah beberapa saat membelai rambutnya (aku hobi banget sama kegiatan yang satu ini), aku beralih ke BB. Sambil nemenin, sambil Bbm-an. Gitu maksudku. Hehehehe...

Rupanya, Hilman tidak suka dengan kegiatan baruku. Wajahnya menunjukkan kekesalannya dan hampir menangis. 

"Kenapa, Nak. Kok mau nangis gitu?" tanyaku masih belum menyadari kesalahanku. #terlalu!

Tanpa menjawab, Hilman malah meraih tanganku dan meletakkannya di kepalanya, dan memberi contoh supaya aku kembali mengusapnya. Hihihi... Rupanya yang hobi bukan cuma bundanya, tapi juga anaknya. Hilman cemburu dengan BBku. Segera aku letakkan sang BB dan kembali fokus pada Hilman. Maaf ya, Nak. Kalau diminta usap kepala sih dengan senang hati bunda laksanakan.

******



Sejak pagi aku mengganti Display Picture di BB-ku dengan fotoku berdua Astri. Statuspun aku buat tertuju untuk Astri, sebagai wujud perhatianku pada TUKPD yang dihadapinya mulai Senin kemaren.

"Bunda padamu, Astri." Ditambah emoticon hati dan pelukan. Begitu bunyi statusku.

Sore hari aku bercanda dengan Fanni. Kami saling ledek dan menggoda sambil berbaring di lantai depan TV. Sehingga waktu ada bbm masuk, Fanni sedang berbaring di atas tanganku yang merentang. Dia bisa melihat apa yang ada di bbku. Selesai aku membalas bbm yang masuk, bb diminta Fanni. Rupanya dia ingin melihat atau memastikan apa yang dilihatnya sekilas. Begitu mlihat Display Picture dan status bbku, tiba-tiba Fanni langsung menelungkupkan wajahnya di lantai. Aku belum paham benar apa yang terjadi, sehingga masih mencoba mengajaknya kembali bercanda seperti sebelumnya. 

Tak ada respon dari Fanni. Dia menahan diri untuk tidak membalas candaanku dan tetap menelungkup. Waktu aku balik badannya, ternyata dia sedang menangis...! Haaah! Kenapa?

"Fanni kenapa sayang. Kok tiba-tiba nangis?"

Bukannya menjawab, malah makin keras tangisannya. Langsung terpikir olehku soal bb yang tiba-tiba dia pinjam tadi. Sebagai bunda aku tentu saja kemudian aku mengerti apa yang dirasakan Fanni. Aku menggendongnya ke kamar.

"Fanni nggak suka bunda pasang gambar mbak Astri di BB? Juga status BB bunda, Fanni nggak mau tentang mbak Astri?"

Dia mengangguk! Oalaaah... My Fanni jealous.

"Maunya Fanni gimana?"

"Foto aku aja, trus bunda buat tulisannya juga tentang aku aja."

"Oh, gitu. Ya sudah yuk kita ganti. Tapi tadi maksud bunda pakai mbak Astri kan karena mbak sedang ada tes sekarang. Bukan nggak sayang sama Fanni. Gantian ya, Nak."

Akhirnya kami berdua memilih foto mana yang mau dijadikan DP dan statusnya menjadi, "Bunda padamu, Fanni." Juga dengan emoticon hati dan pelukan. Fanni kembali tertawa dan kami kembali bercanda. Hahaha... 

Padahal tak kurang ayah dan bunda menunjukkan sayang buat Fanni. Masih bisa cemburu aja sama kakaknya. Rupanya Fanni perlu juga belajar berbagi perhatian dengan kakak-kakaknya. Mungkin dia sedang dalam tahap segala sesuatu adalah milikku.

******



Senin kemaren mas Luthfan pulang sekolah telat. Katanya ada belajar bersama dulu. Sang bunda sudah merasa kangen sekali dari pagi nggak ketemu Luthfan. #lagi-lagi lebay. Makanya begitu mendengar sura motor mas Luthfan, bunda langsung tenang bukan kepalang.

Kebiasaan Luthfan kalau pulang sekolah adalah selalu mencariku keliling rumah untuk mencium tangan dengan maksud memberi tahu kalau dia sudah pulang. Jadi aku sengaja menunggu di kamar. Suka deh kalau dia mengetuk pintu kamar, membuka kamar dan menyapaku sambil cium tangan.

"Assalamu'alaikum, Bunda. Maaf aku pulang telat, tadi ngerjain tugas kelompok dulu di mushola sekolah," Luthfan duduk di pinggir tempat tidurku.

Lalu terjadilah obrolan singkat tentang sekolahnya. Ngobrol dengan jagoanku kalau pulang sekolah gitu, rasanya seperti menumpahkan rasa kangen seharian ngga ketemu. So far so good. Moment singkat, padat tapi amat berkesan. Seperti biasa, sesudah menemuiku, Luthfan segera ganti baju dan mengurus keperluan pribadinya. Remajaku itu sudah cukup bertanggung jawab dengan kewajibannya. Alhamdulillah.

*****

Merah jingga kuning hijau biru nila ungu... Warna-warni hariku. 
Pelangi selalu ada di dalam rumahku.


Read more

Rabu, 03 April 2013

Memetik Hikmah

Bismillahirrahmannirrahiim,

Selalu ada hikmah dari sebuah peristiwa. Itu adalah hal yang selalu aku yakini. Berusaha menjalani tiap babak kehidupanku dengan ikhlas. Kadang memang timbul keresahan, tapi seiring dengan perenungan dan pemahaman, satu persatu keresahan menjadi sebuah kemantapan hati yang membuat keyakinan bahwa Allah memang sudah mengatur segala apa yang paling baik untuk hidupku.

Ketika aku terpaksa menutup kantinku dengan berbagai alasan yang menguatkan keputusan itu, tetaplah ada rasa sedih dan kecewa. Usaha yang aku rintis hampir tiga tahun itu harus aku lepas karena berbagai kendala. Membayangkan perekonomian keluarga yang akan menurun drastis di tengah berbagai kenaikan barang, sempat membuatku tak nyaman. Bukan aku tak bersyukur dengan penghasilan suami yang cukup untuk membiayai kehidupan keluarga, tapi dengan adanya kantin kami bisa lebih leluasa dalam memenuhi kebutuhan anak-anak. Penyesuaian bukan hanya padaku, tapi juga pada anak-anak. Mereka harus memahami dan menerima keadaan yang sekarang ada.

 Fanni sering aku ajak ke kantin kalau kakak-kakaknya sekolah


Alhamdulilllah, ternyata tak sulit meminta pengertian anak-anak. Aku selalu terharu dengan sikap mereka. Terutama Luthfan dan Astri yang memang sudah bisa diajak diskusi. Mereka menyikapi keadaan dengan lebih banyak menabung uang jajannya, sehingga bisa membeli kebutuhan mereka sendiri. Yang dilakukan Luthfan dicontoh adik-adiknya. Kadang keluar pertanyaan haru seperti,

"Yakin nih Bun, aku dikasih segini? Bukan uang untuk kebutuhan bunda kan? Aku masih ada kok, Bun. Besok-besok aja nggak apa-apa," kata Luthfan kalau aku memberinya uang lebih.

Kalau mendengar Luthfan bicara begitu, mana aku bisa menahan untuk tidak mengusap wajah dan kepalanya.

"Santai, Nak. Uang belanja beres kok. Ini memang buat Luthfan. Kan mau futsal, badminton dan parkour. Kalau ada sisa simpan aja.


Belajar di kantin


Karena sekarang aku banyak waktu kosong, maka aku berkata kepada suamiku untuk mengambil alih tugas tukang ojek yang menjemput sekolah anak-anak, memberhentikan les privat Hilman dan juga mengambil alih mengaji tahsin anak-anak (guru ngaji anak-anak ada dua, guru tahsin dan tafsir/halaqah. Yang aku ambil alih hanya yang tahsin). Dengan begitu, selain mengurangi pengeluaran bulanan, utamanya adalah supaya aku lebih dekat dengan anak-anak. Sekalipun waktu ada kantin aku masih bisa mengawasi anak-anak, tapi tidak fokus. Perhatian tetap terbagi pada pekerjaan dan masalah kantin.


Begitulah cara Allah memberikan jalan untuk sebuah kebaikan yang sebenarnya untuk hidup kita. Sekalipun kita harus melaluinya dengan sebuah ketidaknyamanan, tapi kalau kita mau mengambil hikmahnya, maka kita akan menemukan kedamaian

Sekarang, justru aku merasakan kebahagiaan yang lebih sejak melepaskan kantin. Suasana rumah aku rasakan lebih damai. Lebih dekat dengan anak-anak. Jadi lebih memahami mereka. Bisa menyambut suami pulang dari kantor setelah sekian lama tak pernah aku lakukan. Waktu ada kantin, suami pulang kantor aku masih di kantin sebab kantin tutup pukul 21.00. Sampai rumah kira-kira pukul 21.30.

Dengan mengajar sendiri ngaji anak-anak, aku jadi tahu plus minusnya kemampuan mereka. Untuk Luthfan dan Astri tinggal memperbaiki tajwid, mereka berdua bisa dipegang bersamaan. Aku pakai buku  Pedoman Daurah Alqur'an sebagai acuan belajar, lalu aku minta mereka menguraikan tajwid dari satu halaman yang mereka baca. Ada hukum apa saja dari bacaan mereka. Mencari contoh hukum-hukum tajwid di dalam Alqur'an kemudian menulisnya.

Hilman aku mulai dengan menjelaskan apa isi buku Pedoman Daurah Alqur'an dengan lebih rinci. Dengan buku itu lebih mudah mempelajari ilmu tajwid, karena penjelasan dan contohnya mudah dicerna oleh anak-anak. Menulis contoh-contohnya supaya lebih paham.

Untuk Fanni aku tidak memakai buku iqra', tapi memakai Metode Utsmani yang terdiri dari tiga buku. Lebih simple dan mudah dipahami. Semula dia protes karena dengan pak ustad, dia sudah iqra' 4. Tapi karena menurutku Fanni belum bisa ada di iqra' 4, jadi aku ulang dengan metode Ustmani buku 1 dulu. Setelah diberi pengertian, Fanni nurut dan semangat. Supaya lebih fokus, Fanni aku ajar terpisah dari kakak-kakaknya.



Alhamdulillah, aku betul-betul merasakan nikmat yang luar biasa. Bayangkan... waktuku bercanda dan membelai anak-anak jadi bisa full day. Jadi bisa lebih sering diskusi, belajar bersama, aaahhh... Pokoknya lebih damai deh. Ditambah lagi waktu dengan suami jadi lebih banyak. Materi yang berkurang bukan apa-apa dibandingkan apa yang aku rasakan sekarang ini.
Yakin... amat yakin bahwa peristiwa yang kita alami dalam kehidupan selalu mengandung pesan moral andai kita mampu mengambil hikmahnya dengan keikhlasan.    





Read more
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Pena Bunda © 2008. Design By: SkinCorner