Minggu, 31 Maret 2013

Kisah Sebuah Dompet

Bismillahirrahmannirrahiim.

Hari ini aku amat bangga pada Luthfan. Anak sulungku itu melakukan hal bijaksana dalam menyelesaikan sebuah masalah. Membuat terharu orang tua dan adik-adiknya, terutama buat Hilman. Aku dan ayahnya memang mencoba memberikan kesempatan bagi Luthfan untuk mencari jalan keluar bagi masalah ini. Sambil memantau dan memberikan nasehat.



Semua berawal dari hilangnya dompet Hilman dengan tiba-tiba. Dompet yang berisi uang Hilman yang dikumpulkan dari uang jajannya setiap hari. Uang yang rencananya akan dibelikan Hilman barang idamannya. Terakhir kali dompet itu masih ada hari Kamis, Hilman meletakkannya diatas meja komputer. Semua sudah bantu mencari keberadaannya, mungkin terselip atau lupa meletakkan. Tapi tidak ketemu.

Luthfan dan Hilman mencurigai teman Hilman yang main ke rumah dan main game di komputer. Anak itu datang hari tiap hari sejak Kamis sampai Ahad. Aku mengingatkan untuk tidak asal menuduh. Terlihat sekali kalau Luthfan gusar, apalagi setelah Hilman cerita kalau anak itulah yang suka iseng kepadanya di sekolah. Sering mengganggu dan menghilangkan alat tulis Hilman, suka meledek Hilman dengan membawa-bawa nama orang tua. Sebuah candaan yang amat anti bagi Luthfan.

Aku khawatir sekali kalau-kalau Luthfan lepas kendali dengan mengintimidasinya. Khawatir masalah akan jadi panjang dan berkembang menjadi masalah antar keluarga, padahal tidak ada bukti nyata bahwa memang dia yang mengambil dompet Hilman, walau kalau diusut-usut kejadian dan tiba-tiba dia jadi bisa membeli karakter game online, bisa saja pelakunya dia. Apalagi kata Hilman, waktu Kamis dia main game, dia sempat bertanya dompet milik siapa yang ada di atas meja.

Luthfan serius sekali ingin menyelesaikan masalah ini dan ingin membela Hilman dari kenakalan temannya itu. Baginya kejadian di rumah sendiri harus diselesaikan. Tapi Luthfan juga kuatir kalau anak itu tidak terima dan lapor kepada orang tuanya. Luthfan berpikir keras, cara apa yang akan dia pakai. Aku menasehati dia agar tidak memakai kekerasan. Soal uang, ikhlaskan saja. Di dompet itu ada kartu pelajar, kalau anak itu mau mengaku dan mengembalikan kartu pelajarnya, sudah cukup. Soalnya pertemanan Hilman di sekolah harus dijaga. Mereka teman sebangku, jangan sampai Hilman yang jadi sasaran nantinya.

Luthfan akhirnya membawa masalah ini ke halaqahnya. Minta nasehat pada guru halaqahnya, bagaimana sebaiknya sikap yang diambil kepada anak itu. Agaknya Luthfan memang hati-hati menjaga Hilman, sehingga tidak mau salah langkah. Dari bu Hani, Luthfan mendapat nasehat untuk bertanya baik-baik tanpa emosi. Menyambungkan semuanya kepada Allah. Mulai dengan pendekatan yang membuat anak itu nyaman bicara dengan Luthfan, dan jangan lupa untuk berdoa minta ketenangan dan minta petunjuk Allah. Malah akan lebih baik kalau nantinya dia jadi mau halaqah bersama.

Aku dan ayahnya ada di kamar waktu Luthfan bicara kepada teman Hilman itu. Sekilas aku dengar mereka ngobrol soal game online. Nyambung dan terdengar menyenangkan. Tapi lama kelamaan malah suara obrolan mereka tak lagi aku dengar. Rupanya Luthfan memelankan suaranya saat mulai masuk ke pokok masalah.

"Aku berdoa dulu, bunda. Trus aku bilang sama dia supaya jujur. Aku ajak ngobrol baik-baik. Akhirnya dia ngaku memang dia yang ambil dompet Hilman. Dompetnya ada di rumahnya. Kartu pelajar Hilman masih disimpannya. Tapi uangnya udah habis dia pakai beli karakter game online, untuk main ke warnet dan jajan."

"Subhanallah, Alhamdulillah, mas Luthfan pakai cara yang bijaksana sekali. Tidak mengancam bahkan terpancing emosi, " kataku.

"Aku bilang sama dia kalau kita sudah ikhlaskan uangnya tapi jangan diulangi. Trus aku bilang juga kalau dia harus berhenti iseng sama Hilman di sekolah. Jangan bercanda bawa-bawa nama ayah bunda. Ayah bunda Hilman berarti juga ayah bundaku, jadi kalau meledek mereka berarti juga meledek aku. Aku nggak suka. Orang tua bukan untuk diledek-ledek, mereka harus dihormati."

"Aduh mas, bunda terharu sekali. Dia bilang apa?"

"Dia nangis, Bun. Minta maaf, mengakui semuanya dan janji tidak akan mengulangi lagi. Tidak akan iseng lagi sama Hilman. Aku dan Hilman udah maafin dia. Trus aku antar dia pulang supaya bisa minta kartu pelajar Hilman. Dompet juga dia kembalikan, dan memang uangnya udah habis."

Aku sampai menitikkan air mata mendengar cerita Luthfan.

Hilman mengiyakan semua yang disampaikan Luthfan. Dengan bangga dia bilang, "Mas Luthfan keren, udah mau belain aku pakai cara baik-baik. Makasih ya mas."

"Bunda, sebetulnya ada apa ya di keluarga teman Hilman itu. Kok sampai berani mencuri cuma buat main game dan jajan?" Luthfan keheranan.

"Sepertinya ada yang nggak pas di hubungan dan komunikasi mereka. Bunda juga nggak tau pasti, Nak. Yang jelas bunda bangga sekali dengan apa yang kamu perbuat hari ini. Bukan cuma belain Hilman, tapi juga bisa menyelesaikan masalah dan menjaga nama keluarga dengan cara yang mas Luthfan pakai. Bunda yakin teman Hilman itu menaruh hormat sama mas Luthfan. Makanya dia dengan tulus mengakui kesalahannya. Tidak mudah lho mas mengakui kesalahan seperti itu."

Belaian tanganku tak henti aku usapkan pada kepalanya. Memeluknya dengan bahagia. Luthfan Adli Wicaksono. Jadilah kau seadil dan bijaksana seperti namamu. Andai teman Hilman bisa berubah menjadi anak yang lebih baik melalui nasehat Luthfan, semoga itu bisa menjadi catatan amal buat Luthfan. Semoga ini jalan yang diberikan Allah untuk kebaikan bersama. Aamiin Ya Rabb.

Hilman makin tenang lagi setelah pada sorenya menerima sms dari temannya yang memberitahu kalau uangnya akan dikembalikan.
Beri kesempatan dan kepercayaan kepada anak untuk menyelesaikan masalah, sambil tetap dipantau caranya. Anak perlu belajar mengatasi persoalan-persoalan yang tidak ditemukan di sekolah formalnya. Pelajaran di sekolah kehidupan juga perlu mereka pelajari supaya mereka terbiasa memecahkan masalah.



41 komentar:

  1. Balasan
    1. Bundanya bersyukur kepada Allah diberi kesempatan untuk merasakan ini semua.

      Hapus
    2. sangat setuju, siapa dulu bundanya
      anak yang bijak cermin didikan orang tua yang bijak

      Hapus
    3. Bundanya ketularan dari teman-temannya yang juga bijak :)

      Hapus
  2. Luthfan sangat sayang sama adiknya. Alhamdulillah gak sampe lepas kendali. Slaut untuk Hilman )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi Luthfan, kalau adik-adiknya dicubit, dia juga merasakan sakit.

      Hapus
  3. Kereennn.... Mbk.. Luthfan ikut liqo'/halaqoh dmn?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...
      Halaqah di rumah aja. Ukhti Hani sekarang tinggal satu rumah dengan kami. Halaqah sama adik-adiknya.

      Hapus
    2. ukhti hani itu murobiyahnya?

      Hapus
    3. iya, ukhti Hani yang banyak mengajari anak-anak apa2 yang terkandung dalam Alqur'an.

      Hapus
  4. Iyaah, kadang sang anak kudu turun sendiri ke lapangan agar dia bisa punya skill personal.. Itu pun ujung-ujungnya agar si anak punya kekuatan untuk melindungi anaknya di masa depan kelak.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalah dalam kehidupan yang terbentang di depan mata begitu banyak, kalau anak tak dibiasakan untuk menghadapinya, kuatir nanti akan mempunyai mental yang lemah.

      Hapus
  5. subhanallah ya bun, smoga menjadi anak yg bijaksana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Bahagia bisa menyaksikan setiap proses perkembangan anak-anak.

      Hapus
  6. subhanalah ya mbak Niken, Allah menggerakan semua ini untuk bisa diambil hikmahnya, termasuk pelajaran penting juga buat aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah bisa menjadi hikmah buat kita semua. Saya sendiri bahkan belajar dari Luthfan.

      Hapus
  7. meskipun gue belum punya anak, gue musti belajar dari pengalaman orang laen. terimaksih

    RT: follow back nya ditunnggu bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setidaknya bisa dijadikan catatan, bahwa menyelesaikan masalah tidak perlu dengan kekerasan.

      Hapus
  8. Duh, seneng banget pastinya Bun

    Dulu adik keponakan celengannya juga pernah dicuri sama teman sepermainannya
    Padahal anak itu tiap hari main ke rumah
    Alhamdulillah kembali walau gak utuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahagianya tuh karena Luthfan ada rasa tanggung jawab terhadap adik dan keluarga. Sebagai anak sulung, rasa ingin melindungi keluarga sudah terlihat.

      Hapus
  9. senangnya punya kakak yang perhatian ya, udah ganteng sholeh pula

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... Luthfan memang ganteng ya tante Lidya.. hehehe... Allah Maha Sempurna dalam mencipta :)

      Hapus
  10. kereeen :D
    satu-satunya solusi dalam menghadapi masalah adalah ketenangan dalam menghadapi masalah tersebut, jika tidak tenang bukan hanya tidak memecahkan masalah, namun membuat masalah baru. karena emosi yg meluap-luap itu adalah masalah bagi kita ^_^

    kisah yg bagus bu ;)
    mohon bantuan kritik dan saran untuk blog saya juga ya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju sekali Trias. Cara kekerasan malah akan menimbulkan penyesalan. Itulah yang Luthfan jaga, mengingat sebenarnya watak dia mudah emosi.

      Ke TKP aahh...

      Hapus
  11. Alhamdulillah ya mba, Luthfan bijaksana sekali. Semoga Allah SWT senantiasa menuntun dan meningkatkan kedewasaan, kecerdasan dan kebijaksanaan dalam sikap dan langkahnya. Aamiin. Siapa dulu ayah bundanya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabb...
      Semoga demikian mbak Al...
      Bundanya ketularan temannya yang cantik dan cerdas ini... hehehe

      Hapus
  12. Memang buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya hehehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga jangan sampai jatuh sudah bisa dipetik.. hehee...

      Hapus
  13. Bun, aku bangga banget kenal Bunda. Luthfan itu mendapat ilmu dari keluarga, memang dari keluarga lah yang pertama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga bangga kenal mbak Astin yang begitu ulet berbagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. :)

      Hapus
  14. Subhanallah ...
    Ini luar biasa Bu Niken ...
    Mas Luthfan ini punya kecerdasan interpersonal dan intrapersonal yang sangat baik dan mature/matang ...

    Saya yakin ini karena Mas Luthfan juga berkaca pada Orang Tuanya ... teladan dari orang tuanya ...

    Mengenai teman Mas Hilman itu ...
    mmmm ... ? Perhatian ... !!!
    hanya itu yang dia perlukan ...
    mudah-mudahan orang tuanya bisa segera memberikannya dengan baik dan bijaksana ...

    Salam saya Bu Niken

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallah... om trainer menyimpulkan Luthfan mempunyai kecerdasan sedemikian rupa. Semoga ini bisa menjadi bekal Luthfan kelak.

      Saya dan ayahnya hanya menikmati peran kami menjadi orang tua. Menyadari bahwa kami membutuhkan anak-anak untuk mencurahkan kasih sayang kami.

      Sepertinya memang teman Hilman itu perlu perhatian yang serius dr ortunya.
      Salam kembali om Nh... :)

      Hapus
  15. ibu adalah sekolah yang pertama bagi anak2nya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah anak-anak bisa mendapat sekolah pertama dengan baik :)

      Hapus
  16. Pendidikan dalam keluarga memang kunci pembentukan karakter anak ya, Mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengarkan anak-anak. Belajar bersama mereka. Bukan cuma belajar ttg pelajaran sekolah, tapi lebih utama tentang nilai2 kehidupan yang didasarkan pada agama.

      Hapus
  17. mba....masya Allah, anak sulungnya mba bs dewasa seperti itu, sy jd ikut nangis nih +_+; ndidiknya spt apa mba? anaknya sekolah dimana? huaaa...jd terharu lg deehh.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sulungku SMA di salah satu SMA negeri di Jakarta Barat.
      Mendidiknya?
      Gunakan telapak tangan untuk selalu membelai anak-anak.

      Hapus
  18. ya Alloh bunda niken.lha kae aq nangis lho bca postingan ini.. pengen bisa didik anak2 nanti seperti bunda niken..

    BalasHapus
    Balasan
    1. #sodorin tissue :D
      Saya belajar dari pengalaman teman2 juga kok mbak :)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Pena Bunda © 2008. Design By: SkinCorner