Selasa, 07 Mei 2013

Serba-serbi Remajaku

Bismillahirrahmannirrahiim,

Sulungku sedang kolokan. Biasalah, kalau sedang tidak enak badan Luthfan selalu minta perhatian lebih dari bundanya. Tadi bahkan terang-terangan berkata," Bunda, aku nggak enak badan nih. Bunda jangan sibuk nulis ya." Hehehe... Maksudnya, bundanya diminta nemani dia berbaring di tempat tidur, mengusap kepalanya, dan ngobrol. Dari semua anakku, Luthfanlah yang paling terbuka padaku. Mudah sekali mengajaknya ngobrol macam-macam. Seperti biasa, aku selalu mengambil kesempatan buat menyelip-nyelipkan nasehat. Atau mengorek-ngorek hal-hal yang ingin aku tahu dari dirinya. Maklum, remaja kan "urusan"nya banyak. Harus pandai-pandai mengarahkan pembicaraan supaya dia terbuka.

Hari Ahad kemaren, Luthfan terlalu memforsir tubuhnya dengan berolah raga. Setelah lomba lari 5 km pada pagi hari, dia langsung ke Senayan untuk latihan Parkour. Susah dilarang kalau sudah niat latihan atau olah raga. Aku sering mengingatkan agar dia tidak over training. Jadwal olah raga Luthfan dalam seminggu adalah, malam Rabu latihan Free Run. Jum'at pulang sekolah (Jum'atan) Futsal, Sabtu pagi Badminton, Sabtu malam Free Run, Ahad pagi Parkour. Itu saja sudah meninggalkan Silat dan Kempo karena sedang fokus di Free Run dan Parkour.

Invitasi Beladiri Sorinji Kempo se DKI 

pertandingan SHO DKI SMP


Ganti warna sabuk ke biru (SMP kelas 9)

Sulungku itu akan berada di baris paling depan kalau ada yang menyakiti anggota keluarganya, terutama bundanya. Luthfan pernah minta ijin padaku untuk menonjok wajah karyawan kantinku karena menurutnya si karyawan tidak sopan padaku. Tentu saja aku larang. Dia sering protes mengapa ayah bundanya memilih sikap diam terhadap orang yang menurutnya meremehkan kami.

"Sabar sih boleh, Bun. Tapi mosok yang kayak gitu juga didiemin? Jangan mau dong." Begitu protesnya.

Kemudian aku dan ayahnya akan "sibuk" menenangkannya. Menjelaskan alasan-alasan yang kami punya. Luthfan sudah tidak bisa diberi penjelasan yang bukan sebenarnya. Karena kebiasaannya akan memberikan pertanyaan-pertanyaan sampai dia merasa semua jelas. Jadi lebih baik menjelaskan dengan hal yang sebenarnya, sepanjang memang dia pantas mendengarnya. Kalau untuk hal-hal yang Luthfan belum pantas tahu, maka kami akan terus terang mengatakan,

" Maaf mas Luthfan, ayah dan bunda belum bisa menjelaskan masalah sebenarnya karena ini bukan porsi kamu untuk mengetahuinya. Tapi yang perlu mas Luthfan ketahui, masalah tidak akan selesai dengan emosi. Bahkan mungkin akan timbul masalah baru, dst."

Mengapa dst? Karena selanjutnya, sang bunda akan lagi-lagi mengambil kesempatan untuk memberikan "ceramah". Kadang suasana malah jadi lucu karena Astri akan nimbrung mengatakan,

"Naaah, Bunda mulaaaiiiii...!" Atau akan dihitung, " Satu... Dua... Tiga... Mulaiii!!" #Diiiih, unyel-unyel Astri.

Hihihi... Anak-anak hafal kebiasaan bundanya. Habisnya gimana doong. Kan aku harus menenangkan jiwa remaja Luthfan yang begitu bergejolak dengan emosi. Cara yang paling jitu adalah dengan menyambungkannya dengan nilai-nilai keagamaan. Selalu menghubungkan segala persoalan kepada Allah.

Udah nggak mempan dengan mengatakan, "Kalau ayah bunda dulu" atau "kata ayah bunda juga apa" atau "dikasih tau kok ngeyel". Kalau dengan cara itu, diamnya Luthfan akan sambil penuh rasa tidak puas. Diamnya Luthfan hanya karena merasa tidak mau membantah orang tua. Bukan karena memang dia menerima atau mengerti. Tapi kalau memakai nilai-nilai agama atau bahkan menyebutkan dalil-dalil dalam Alqur'an, nasehat menjadi tak terbantahkan. Anak-anak akan menerimanya dengan baik. Mengerti bahwa tindakan orang tuanya memang seperti atau paling tidak mendekati yang ditetapkan Allah.

Itu sebabnya sebagai orang tua, kita harus terus belajar. Belajar yang utamanya adalah belajar Alqur'an. Kita sering mengambil pendapat orang-orang bijak, nasehat-nasehat parenting dari para pakar, tapi kita sering mengabaikan apa-apa yang ada dalam Alqur'an. Padahal nantinya pertanggungjawaban kita sama Allah, bukan berapa banyak buku yang sudah kita baca, tapi seberapa besar Alqur'an menjadi pedoman hidup kita.

Kalau waktu menjelang akil baligh aku menjelaskan tentang perubahan-perubahan fisik anakku. Maka dalam usia remaja ini, aku mulai membicarakan pendidikan seks yang lainnya. Aku pernah menyebutkan di tulisanku yang lalu - Pendidikan Seks Untuk Anak - apa-apa yang bisa mempengaruhi prilaku seks pada anak. Aku memang tidak merasa tabu membicarakan tentang seks kepada anak-anak. Karena pendapatku, lebih baik mereka tahu dari orang tuanya dari pada salah informasi.

Kita tidak perlu merasa "kecolongan" dengan menganggap anak-anak kita adalah anak-anak yang baik dan manis. Atau merasa bahwa anak-anak kita belum saatnya diajak bicara soal seks. Kita semua tahu bahwa serangan berbagai media dan internet begitu gencar. Semoga anak-anak kita mampu menjaga diri.

Buatku pribadi, aku tak bisa berdiam diri tanpa membekali anak-anak dengan sedikit pengetahuan tentang seks. Aku bukan orang yang paham istilah-istilah yang biasa dipakai dalam ilmu seksologi. Aku hanya mencoba memakai bahasaku sendiri dalam menjelaskannya, dan menghubungkannya dengan nilai-nilai agama. Di sekolah Luthfan sudah mendapat pelajaran tentang alat reproduksi manusia, jadi tinggal ditambahkan kepada nilai moral agama. Akan berbeda rasanya antara guru yang menyampaikan dengan orang tua yang menyampaikan. Saling melengkapi adalah kerja sama yang baik antara guru dan orang tua.

Contohnya, tentang (maaf) onani. Kepada Luthfan aku sebutkan apa yang dimaksud dengan onani, apa dampaknya, apa hukumnya dalam Islam. Juga tentang sperma, bagaimana sperma bisa membuahi sel telur dan menyebabkan kehamilan. Lebih lanjut bagaimana mengelola hati dan nafsu agar tidak terdorong atau terpengaruh pada hasrat melakukannya. Gairah remaja yang penuh gejolak butuh penyaluran yang tepat agar mampu menahan diri tak dikuasai nafsu.

Keimanan itu adalah hal yang pokok. Tingginya keimanan akan mampu membuat anak-anak (dan juga kita) mengendalikan hawa nafsu. Menundukkan hati pada Illahi akan mampu menjaga diri kita dari keinginan-keinginan yang mengotori jiwa. Belajar Alqur'an tidak hanya membacanya, tapi juga mengerti isinya. Orang tua belajar, anak-anak juga belajar. Sehingga akan ada kesamaan visi dan misi keluarga. Ingatlah, bahwa khatamnya belajar Alqur'an adalah saat kematian datang pada kita.

Akan lebih baik lagi kalau ditambah dengan membawa pikiran anak-anak kita kepada hal-hal positif. Mencari kegiatan-kegiatan yang bisa menyibukkan anak-anak. Sehingga mereka tidak hanyut dengan nafsu yang selalu melintas. Bisa dengan menyibukkan mereka kepada ketrampilan yang disukainya, hobi yang digemarinya, atau olah raga.

Karena Luthfan suka dengan olah raga dan adventure, maka menyalurkan adrenalin remajanya bisa dengan hal-hal itu. Aku dan ayahnya membebaskannya memilih olah raga apa yang akan dia tekuni. Luthfan memilih jenis olah raga yang aku sebutkan di atas. Olah raga adalah hobinya. Selain itu, aku melihat kegiatan Luthfan itu mampu menyalurkan gejolak remajanya. Luthfan memang sifatnya cenderung temperamen. Masih harus banyak rem yang diinjak untuk bisa menahan dirinya.

Beberapa foto di bawah ini sebagai gambaran keringat-keringat Luthfan yang mengalir menyegarkan badannya. Prestasinya memang biasa-biasa saja, tapi dia sudah mampu membangun jiwa sportifitas, jiwa besar, tegar.

Lomba lari 10 km


turnamen badminton antar SMP se DKI


 outbond saat ujian kenaikan sabuk silat

 salah satu gerakan free run

 free run juga

 Nggak ngangka nafasnya kuat lama juga menyelam ke dasar laut

suka banget sama lompat flip begini


Jagoanku itu tetap suka dengan telapak tangan bundanya. Setangguh apapun dia di lapangan, dia akan tetap mencariku untuk membelainya. Pada saat hatinya dalam keresahan yang dalam, dia tetap menangis di pelukanku.

"Anakku, bukan bunda yang memberimu ketenangan, tapi Allah-lah sang Maha Pengasih dan Penyayang. Bunda hanya bisa membelai dan mengusap air matamu, tapi memohonlah ketenangan batinmu pada Allah. Bunda hanya bisa menemanimu di rumah, tapi Allah menyertai setiap langkahmu. Ingatlah anakku Allah berada lebih dekat dari urat lehermu sendiri."


52 komentar:

  1. ukhuk2, putra bunda yg satu ini keren juga ternyata. hihi

    ^_^

    BalasHapus
  2. bunda....
    aku selalu gak suka kalau baca postingan bunda yang macam ini. gak suka banget..... pake banget gak sukanya. bunda tau kenapa? bahasanya itu lho bund, bahasa ibuku banget. aku jadi inget ibu kalau sudah gini. pengen pulang, pengen nnton tv bareng ibu, pengen makan disupin (sampe sekarang kalau pulang aku masih sering manja minta suapin ibu makan, ada aja alasannya)

    aku gak suka karena hati ini jadi berdenyut denyut. jadi inget ibu, jadi pengen mewek (tapi aku empet). tapi kalau gak baca tulisan bunda, aku juga kangen. kangen kapan ada posting lagi. selama aku sempat, pasti aku baca, walau saat itu gak sempat komen. ada kata kata yang bernada sama dengan yang ibuku ucapkan bund. ibuku juga gitu, beliau kadang lebut, kadang juga bisa tegas. kadang marah, kadang membelai. bukan cuma sama aku dan adik2ku bund, sama anak orang, anak bapak, bahkan sama pasien di rumah sakit ibuku bisa seramah itu, bisa membangkitkan semangat dengan kelembutannya. ibuku itu.... tak ada duanya...

    tulisan bundalah yang selalu buat aku selalu kangen. inget kan waktu aku curhat tentang rumah yang mau di renov orang? aku resa saat itu yang bicara sama aku itu ibuku sendiri...

    aku pengen bunda berhenti posting, tapi aku pasti kangen. jadi....., terus posting ya bund. aku akan terus berkunjung....

    tentang lutfan. aku jadi inget dia waktu emosi gara gara temen si hilman waktu itu... hmmm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi panjang dah komennya, abis sambil curcol sih.... gigigigiigigigigigigi....

      Hapus
    2. Waahhh... ternyata ada yang ga suka sama postinganku. Tapi ga suka kok disuruh posting terus. Memang labil nih mas Rd. wkwkwk.
      Nah mosok aku harus usap-usap kepala mas Rd jugak? Halaaah... bisa berabe entar. hahaha...

      Syukurlah kalau bisa seperti ibu mas Rd. Ada emak yang perhatian dengan dirimu, ada bunda yang bikin hati berdenyut-denyut, ada bu (lupa namanya) yang menangisi kepindahanmu. Ternyata, mas Rd memang melow ya orangnya. hehehe.

      Banyak cerita yang sudah saling kita ceritakan ya mas. Satu nasehatmu yang betul2 menohok hati. Itu juga ga akan aku lupa.

      La Ranta juga terus posting ya. Aku ga mau ada yang menggeser urutan pertamaku di sana. hihihi...

      Hapus
    3. haih, malah dibilang melo akunya... :D
      agk gitu juga kali bund... kalau bunda yang usap kepalaku, apa kata dunia? biarlah ibuku yang di rumah aja yang manjain aku... wagagagagagag... berasa masih belasan tahun kayak luthfan.
      apa itu yang bener bener nemplok?
      La-RanTa insyallah akan terus posting bund. suppotnya ya...

      Hapus
    4. Aku masih ada di urutan pertama, itu kan support buat La Ranta dan Fiksiqu. Makanya jangan ngilang lagi. :D

      Hapus
    5. datang kerumahku tak suapin...
      Tak suapin pake centong, udah gitu mimik cucu, cuci kaki trus bobok ya..

      Nina bobok oh nina bobo...
      kaalo tidak bobok disudut obat nyamuk

      Hapus
    6. Hahahha...galak amat beh. Mosok nyupain pakai centong. Kemaren waktu ke rumah malah makan pakai sendok kecil tuh #sok imut.

      Hapus
    7. haih, babeh galak amat... :D
      takut ah mau kerumah babeh lagi.... TT

      Hapus
    8. Gampang mas... Kalau ke rumah babeh bawa centong sendiri aja. Jamin ga galak deh. wkwkwk.

      Hapus
  3. Aku banyak belajar disini Bun, semakin aku belajar menjadi orangtua, semakin aku merasa betapa kurang-ajarnya aku dulu sm ortu. Setiap ortu pastilah ingin memberikan yg terbaik buat putra putrinya ya bun, sayangnya aku dl mgkin termsk putra pembangkang..ya skrg hrs giat belajar agar bisa memberi contoh yg baik buat anak2ku...-̶̶-̶̶̸ϟ̸thankyou̸ϟ̸-̶̶-̶ ya Bun, sungguh meng-inspirasi. Salam hanagt buat klg (.̮)‎​​ђёéђё

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kesalahan kita di masa lalu justru bisa kita jadikan pelajaran untuk mendidik anak2 kita. Asalkan jangan jadi ajang "balas dendam" yang kita lampiaskan kepada anak2.

      Salam kembali buat keluarga mas Anton :)

      Hapus
  4. sangat suka dengan pragraf terakhir.. sangat menyejukkan..

    aah.. semoga saya bisa belajar banyak dari mbak Niken...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga suka tulisan2 Ummu. Selalu ada ibrah yang bisa diambil.
      Sama-sama saling menasehati dalam kebenaran ya Ummu :)

      Hapus
  5. Waaaa ...
    anak Bu Niken yang satu ini memang luar biasa ...

    "manly" sekali ...
    Anak-anak sekarang bilang ... hobbynya laki banget ...

    Semoga ini bisa semakin menambah kemantapan ananda Luthfan dalam menapaki hidup di masa yang akan datang ...

    Free Run ... Parkour ... Aaahhh ini susah banget ... Perlu badan yang "elastis", ketrampilan prima, keseimbangan bak kucing ... dan nyali yang dobel ...

    Salam saya Bu Niken

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manly, tapi kalau sama bundanya masih kolokan. Hehehe...
      Bundanya suka juga sih kalau anaknya kolokan. Jadi saling membutuhkan deh tuh, Om.

      Free Run, Parkour latihannya kadang berat sekali. Udah kayak latihan militer aja. Jangan tanya bagaimana legamnya warna kulit Luthfan sekarang.
      Ga bisa liat tembok nganggur. Pasti dipanjat dan dilompati. Hahahaha..

      Salam kembali Om Nh.

      Hapus
  6. Luthfan semangatnya luar biasa ya..
    tapi ingat Luthfan kemampuan ada batasnya
    istirahat juga sangat diperlukan untuk menambah fokus...
    sepertinya dari sekarang luthfan musti memilih mana yang harus dipioritaskan, futsal, bela diri, bulu tangkis atau lainnya. agar lebih fokus dan berprestasi, memang harus ada yang dikorbankan

    tetap jaga semangat ya Luthfan dan jaga bundanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itulah mas. Aku suka wanti2 supaya jangan over training.
      Kalau disuruh fokus dengan 1 atau 2 olah raga aja, katanya aku olah raga nyari sehat, bukan nyari juara. Kalau ikut turnamen atau tanding cuma buat ukur kemampuan aja. Biar tetep semangat latihan. Gitu katanyaaa.

      Insya Allah Luthfan jaga bunda. Sudah terlihat kok sejak lama.

      Hapus
  7. Kalo udah sabuk hitam bisa jaga Bunda dari segala bentuk kejahatatan.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari sejak belum berwarna sabuknya, Luthfan sudah tau bagaimana jaga bunda. Contoh kecil, kalau mau nyebrang jalan, dia selalu mengambil posisi arah datang kendaraan, menggandeng bunda, membawakan belanjaan dan masih byk lagi.

      Hapus
    2. wah suka ikut belanja ya Bund,,,,,,,, biasanya kalo aku di ajak belanja aku suka nunggu di motor aja hehehee
      wah aku kurang begitu berbakti -__-

      Hapus
    3. Kalau ke pasar tradisonal, Luthfan yang bawain belanjaan. Kalau tangannya penuh, dia akan antar belanjaan ke kendaraan, trus masuk lagi nyari bundanya ke dlm pasar.

      Hapus
  8. Mba, Parkour n Freerun itu apa? Latihannya dimana? Scr anak sulungku juga doyan banget sm olahraga. Apalagi skrg masa2 UN yg bikin dia jenuh tingkat tinggi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Parkour dan free run itu seperti yang dipakai oleh stunt man di film2. Lompat gedung, pagar, pull up, pull down. Keduanya mmg perlu kelenturan tubuh dan keberanian krn sering hrs berada di ketinggian. Latihannya di Senayan. Ada komunitasnya.
      Kalau mau jelas buka you tube aja cari parkour dan free run. Banyak kok yg sdh upload.

      Hapus
  9. banyak sekali ya kegiatan olah raganya Luthfan. mbak parkour itu apa?
    Kalau Pascal kegiatan olah raganya baru renang sama main sepeda aja:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hilman juga olahraganya masih sama dengan Pascal. Parkour itu spt yang dipakai sama stunman film, mbak Lid. Kalau mau jelas, buka you tube aja mbak.

      Hapus
  10. Mindset tentang seks yang tabu untuk dibicarakan harus diubah. Lebih baik diberi penjelasan oleh orang tua daripada salah mendapatkan informasi itu malah sangat tidak bagus buat anak. Ane dukung sekali kawan untuk merubah cara berpikir orang tua yang kolot kalau sudah bebricara soal sek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepanjang kita menjelaskannya dgn bahasa yang baik, rasanya tak ada masalah.
      Trimakasih dukungannya, kawan.

      Hapus
  11. aku suka yang ini bun.. "Keimanan itu adalah hal yang pokok... Ingatlah, bahwa khatamnya belajar Alqur'an adalah saat kematian datang pada kita."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga selalu mengingatkan diri sendiri dengan kalimat itu.

      Hapus
  12. kerennyaaa.... Ya Allah, tuh olahraga atau hobi sih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hobi tuh Yanti. Sampai bingung ngikutinnya :)

      Hapus
  13. biasanya sich olahraga yang dipilih akan ikut mempengaruhi kejiwaan sang anak, kalo beladiri memang bisa membuat emosi sang anak bisa menjadi labil, apalagi kalo sang anak merasa skillnya sudah mumpuni, kalo tidak dikontrol bisa kebablasan, untunglah Luthfan memiliki ayah dan bunda yang bisa membimbingnya, apalalagi ada juga olahraga lain yang bisa menurunkan kadar emosi, salah satunya ya badminton....salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul pak Hari, bela diri kalau tak bisa menyadari apa esensi sebenarnya, malah bisa disalahgunakan.
      Dengan badminton, bisa lebih mengontrol diri. Apalagi kalau bermain double, jadi bisa belajar kerjasama dan memahami orang lain.

      Trimakasih pak Hari.

      Hapus
    2. sama-sama terimakasih juga ya bu :-)

      Hapus
  14. Kisahnya remajanya hampir sama seperti aku lo Mba. he....x9 jadi malu.

    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ya...? Bagian mananya nih? hehehe.

      Salam kembali

      Hapus
  15. Bisa menjadi contoh nih. Memang emosi remaja kadang tak terkontrol,maunya main hatam...buk plak buk...dikiranya beres urusannya. Olahraga mampu menyalurkan energi positif pada remaja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menyibukkan remaja dengan kegiatan positif, bisa mengalihkan dan menyalurkan keseharian mereka.
      Makasih mas.

      Hapus
    2. saya lagi pakai hape jadi belum bisa memfollow..,terimakasih juga. Salam sukses.

      Hapus
    3. Tak apa mas. Makasih berkunjung kembali.

      Hapus
  16. Bundaa.. ini kunjungan pertamaku..

    Terharu membaca tulisan bunda, kangen mama di rumah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Bunda Dzaky...
      Trimakasih kunjungannya. :)

      Hapus
  17. terharu bunda baca postingannya jadi ingat ibu yang selalu tulus menyayangi saya, ternyata bunda niken selain penulis juga ibu yang baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibu yang baik? Wah apa tidak berlebihan ya? Saya kuatir jadi terlalu berbangga hati bila dipuji demikian. Semoga Allah menjaga hati ini.

      Hapus
  18. bunda niken.. duh mas lutfi nya Subhanalloh yah.. dan terharu banget deh baca paragraf terakir.. jadi mengharu biru **

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang kita sendiri perlu diingatkan dengan hal itu mbak. Kita juga sering khilaf "melupakan" Allah.

      Hapus
  19. Wah, keren banget, mbak.
    Seneng sekali membaca aktivitas si sulung.
    Semoga kelak sulungku juga begitu. Amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, setidaknya anak2 masih berada di jalan yang positif.
      Trimakasih mbak Susindra

      Hapus
  20. saya jadi ingat masa saya esempe dulu.. inginnya ikut semua kegiatan, ini itu.. apa masa2 esempe itu masa aktifnya seorang manusia ya Bun?

    salut buat si sulung Luthfan :)
    semoga selalu bisa menjaga bunda ayah dan adik2 ya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Energi anak usia SMO dan SMA itu mmg tak ada matinya. Makanya harus dibantu mengarahkannya ke kegiatan positif.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Pena Bunda © 2008. Design By: SkinCorner