Selasa, 09 April 2013

Mejingku Hibiniu

Bismillahirrahmannirrahiim,



Kali ini aku ingin bercerita ringan tentang candaan dengan anak-anak. Ada geli, ada haru, ada bahagia. Semua itu mewarnai hari-hariku seindah mejingku hibiniu-nya pelangi.

Senin pagi, seperti biasa tour ke kamar anak-anak untuk membangunkan mereka beberapa saat sebelum kumandang bilal mengajak bersujud. Pertama-tama masuk ke kamar para gadis. Sasaran dimulai dengan membelai rambut Astri sambil membangunkannya.

"Selamat pagi, Cinta. Bangun yuk. Hari ini ada TUKPD kan?" sebuah ciuman mendarat di pipi Astri sambil tanganku menebarkan pesona dengan memancaran kehangatan di telapaknya. #hihihi, lebay.

"Hmmm, selamat pagi, Bunda. Iya... ini udah bangun," Astri sepertinya sengaja memasang badan untuk menikmati belaian bundanya. #yakin ini sih.

Kemudian terlintas isengku,"Astri tau nggak kepanjangan TUKPD?"

"Apaan sih, Bunda. Ya taulah, Tes Uji Kompetensi Peserta Didik," terlihat Astri mulai membaca kebiasaan iseng sang bunda.

"Salah, Say. Bukan itu. Bunda punya khusus buat Astri. TUh kan Kamu Pinter Deh...!" kembali sebuah ciuman mendarat di pipinya.

"Hahaha... Bunda ada-ada aja, makasih bun, bunda juga pinter deh!" Astri meraih tanganku dan menciumnya, kemudian bergegas bangun dan menuju kamar mandi.

Yess...! Pagiku diawali dengan senyuman manis Astri. Enteng banget rasanya memulai hari.

******



Hilman tidak sekolah karena batuk dan badannya demam. Sepertinya karena berenang di hari Sabtu, kehujanan. Jadi segala kolokannya pada saat sakit tumpah pada sang bunda. Anakku yang satu ini memang sensitif sekali. 

Siang hari, aku menyuruhnya untuk tidur, agar bisa istirahat. Hilman minta aku menemaninya di tempat tidur. Harusnya kesempatan buat bunda untuk tidur juga, tapi kok nggak bisa. Boro-boro tidur, pikiran malah kemana-mana. Setelah beberapa saat membelai rambutnya (aku hobi banget sama kegiatan yang satu ini), aku beralih ke BB. Sambil nemenin, sambil Bbm-an. Gitu maksudku. Hehehehe...

Rupanya, Hilman tidak suka dengan kegiatan baruku. Wajahnya menunjukkan kekesalannya dan hampir menangis. 

"Kenapa, Nak. Kok mau nangis gitu?" tanyaku masih belum menyadari kesalahanku. #terlalu!

Tanpa menjawab, Hilman malah meraih tanganku dan meletakkannya di kepalanya, dan memberi contoh supaya aku kembali mengusapnya. Hihihi... Rupanya yang hobi bukan cuma bundanya, tapi juga anaknya. Hilman cemburu dengan BBku. Segera aku letakkan sang BB dan kembali fokus pada Hilman. Maaf ya, Nak. Kalau diminta usap kepala sih dengan senang hati bunda laksanakan.

******



Sejak pagi aku mengganti Display Picture di BB-ku dengan fotoku berdua Astri. Statuspun aku buat tertuju untuk Astri, sebagai wujud perhatianku pada TUKPD yang dihadapinya mulai Senin kemaren.

"Bunda padamu, Astri." Ditambah emoticon hati dan pelukan. Begitu bunyi statusku.

Sore hari aku bercanda dengan Fanni. Kami saling ledek dan menggoda sambil berbaring di lantai depan TV. Sehingga waktu ada bbm masuk, Fanni sedang berbaring di atas tanganku yang merentang. Dia bisa melihat apa yang ada di bbku. Selesai aku membalas bbm yang masuk, bb diminta Fanni. Rupanya dia ingin melihat atau memastikan apa yang dilihatnya sekilas. Begitu mlihat Display Picture dan status bbku, tiba-tiba Fanni langsung menelungkupkan wajahnya di lantai. Aku belum paham benar apa yang terjadi, sehingga masih mencoba mengajaknya kembali bercanda seperti sebelumnya. 

Tak ada respon dari Fanni. Dia menahan diri untuk tidak membalas candaanku dan tetap menelungkup. Waktu aku balik badannya, ternyata dia sedang menangis...! Haaah! Kenapa?

"Fanni kenapa sayang. Kok tiba-tiba nangis?"

Bukannya menjawab, malah makin keras tangisannya. Langsung terpikir olehku soal bb yang tiba-tiba dia pinjam tadi. Sebagai bunda aku tentu saja kemudian aku mengerti apa yang dirasakan Fanni. Aku menggendongnya ke kamar.

"Fanni nggak suka bunda pasang gambar mbak Astri di BB? Juga status BB bunda, Fanni nggak mau tentang mbak Astri?"

Dia mengangguk! Oalaaah... My Fanni jealous.

"Maunya Fanni gimana?"

"Foto aku aja, trus bunda buat tulisannya juga tentang aku aja."

"Oh, gitu. Ya sudah yuk kita ganti. Tapi tadi maksud bunda pakai mbak Astri kan karena mbak sedang ada tes sekarang. Bukan nggak sayang sama Fanni. Gantian ya, Nak."

Akhirnya kami berdua memilih foto mana yang mau dijadikan DP dan statusnya menjadi, "Bunda padamu, Fanni." Juga dengan emoticon hati dan pelukan. Fanni kembali tertawa dan kami kembali bercanda. Hahaha... 

Padahal tak kurang ayah dan bunda menunjukkan sayang buat Fanni. Masih bisa cemburu aja sama kakaknya. Rupanya Fanni perlu juga belajar berbagi perhatian dengan kakak-kakaknya. Mungkin dia sedang dalam tahap segala sesuatu adalah milikku.

******



Senin kemaren mas Luthfan pulang sekolah telat. Katanya ada belajar bersama dulu. Sang bunda sudah merasa kangen sekali dari pagi nggak ketemu Luthfan. #lagi-lagi lebay. Makanya begitu mendengar sura motor mas Luthfan, bunda langsung tenang bukan kepalang.

Kebiasaan Luthfan kalau pulang sekolah adalah selalu mencariku keliling rumah untuk mencium tangan dengan maksud memberi tahu kalau dia sudah pulang. Jadi aku sengaja menunggu di kamar. Suka deh kalau dia mengetuk pintu kamar, membuka kamar dan menyapaku sambil cium tangan.

"Assalamu'alaikum, Bunda. Maaf aku pulang telat, tadi ngerjain tugas kelompok dulu di mushola sekolah," Luthfan duduk di pinggir tempat tidurku.

Lalu terjadilah obrolan singkat tentang sekolahnya. Ngobrol dengan jagoanku kalau pulang sekolah gitu, rasanya seperti menumpahkan rasa kangen seharian ngga ketemu. So far so good. Moment singkat, padat tapi amat berkesan. Seperti biasa, sesudah menemuiku, Luthfan segera ganti baju dan mengurus keperluan pribadinya. Remajaku itu sudah cukup bertanggung jawab dengan kewajibannya. Alhamdulillah.

*****

Merah jingga kuning hijau biru nila ungu... Warna-warni hariku. 
Pelangi selalu ada di dalam rumahku.


40 komentar:

  1. aduh Fanni kolokan gitu ya....
    Ayah Insan juga padamu deh...
    semua padamu Fanni...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fanni memang sedang kolokan banget sejak bundanya full day di rumah. Asyik lho mas Budhi kalau sedang manja gitu.

      Hapus
  2. Mungkin seperti itulah ibuku dengan empat orang anaknya. Bunda....jadi kangen sama ibuku, ketika kami kecil, sukaaaa banget bercanda sama ibu.

    Fanny lucu, rambutnya...
    Faiz juga getuuu, dia enggak rela aku dipeluk abinya, embaknya juga tidak boleh ngobrol dengan embak-embak yang lainnya...huhuuu

    Yang suka banget si..Hilman. Hihii, itu Faiz enggak suka dielus kepalanya, tapi emaknya malah pingin ngelus...jadilah kami berantem..hee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bercanda sama anak-anak itu awesome moment.
      Maju terus mbak Astin buat usap kepala Faiz... hehehe

      Hapus
  3. Haha! Aq juga dulu nunggu dibangunin Mami, Bun. Walau pun udah melek.
    Berarti bungsunya si Fanny ya Bun? Adik bungsuku juga kolokannya ampun2an. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tuh, anak-anak memang suka nunggu bundanya tur dari kamar ke kamar. Padahal udah pada terjaga cuma pengen dapat usapan kepala dulu.

      Hapus
  4. Sebuah istana yang hangat dan ceria, gambaran sepasang raja dan ratu yang piawai mengelola dan memerintah 'negeri' kecilnya.
    Ikut bahagia dan merasakan keceriaan yang ada di istanamu, Mba Nik! Salam sayang untuk semuanya yaa. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kerajaan keciiiil ya mbak Alaika. hehehe...
      Makasih cantik, semoga kita semua dalam lindungan Allah.

      Hapus
  5. senangnya hidup penuh warna seperti itu ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, anak-anak memang sebuah keindahan.

      Hapus
  6. Selalu ada suara kesibukan di pagi hari ya Bun, dan hal ini akan menjadi kenangan tersendiri bagi anak-anak di saat besar nantinya.

    Sukses selalu
    Salam Wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah begitu mas Indra.
      Makasih ya.

      Hapus
  7. Hilman cemburu yaa sama BB bunda.. sini sini BBnya bunda kasih aku aja heheheh......klo Kanaya langsung diambil BBnya dan dilempar...*tepok jidat

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh, dilempar? Sini lempar buat Hilman. hehehe...

      Hapus
  8. hal yang sederhana kadang bisa menjadi besar dampak'a, jika kita sadari itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sederhana bukan berarti tak ada makna.
      Makasih mas Andi.

      Hapus
  9. semoga hilman cepat sehat kembali ya :-)

    BalasHapus
  10. saya punya 2 anak aja berasa bgt pelanginya, Bun. Apalagi Bunda, ya. Hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. meriah terus tiap hari. Apalagi kalau sedang berantem.. wow! Indah sekali. :D

      Hapus
  11. canda dan berantem memang bumbu penyedapnya keluarga ya mbak, klo ga ada canda atau berantem mana sedap keluarga, krn biasanya setelah canda ada senyum dan setelah berantem ada rindu setuju ga mbak? hehhehehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget tuh Lisa :)
      Bikin hidup jadi luar biasa.

      Hapus
  12. Hilmaaaaan.. awas mbledos meriamnya

    BalasHapus
  13. Dari tadi nyekral nyekrol ke atas ke bawah... Sambil mikir, anak2 bunda berapa, sih?

    Astri, hilman, fanni, luthfan, eksak, ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. qiqiqi, nambah 1 lagi ya. Bisa diatur tuh mas Eksak. Jadi anak mbarem atau bungsu ya? #mikir

      Hapus
    2. Jadi anak ragil aja, Bu! Hehehe #sok imyut

      Hapus
    3. Hahaha, anak Ragil jangan mbeling lho ya.

      Hapus
  14. Wah... beruntung sekali mereka punya bunda yang hangat dan penuh cinta :)
    Salam sayang utk semua buah hatinya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Allah memberi rasa sayang dalam keluarga kami. Bunda juga beruntung dianugrahi anak2 seperti mereka.

      Hapus
  15. hangatnya suasana barang anak2 ya mbak... asyiknya bisa bersayang-sayangan seperti itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik banget mas. Amat rugi rasanya melewatkan candaan barang sehari saja.

      Hapus
  16. wah rame ya blognya :-)
    Salam kenal ya...
    di tunggu kunjungan baliknya + komentarnya juga hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga.
      Kunjungan balasan segera dilakukan.

      Hapus
  17. indahnya pagi bersama anak anak ya Bund...
    Dija juga pernah cemburu dengan tablet saya, hingga hampir dibanting. hehheee..salah saya sih....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang kita bisa khilaf dengan keasyikan kita sampai membuat anak merasa diabaikan. Semoga kita tak berlarut dalam kondisi demikian. :)

      Hapus
  18. Waaha keren, pengen juga bisa nulis kayak gitu :D
    Mampir ke blog ana ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nulis kayak apa sih mbak? Ini cuma cerita sehari2 aja kok.
      Ke TKP ya.. :)

      Hapus
  19. senangnya ya bund... Punya keluarga lengkap..., jadi wanita dan ibu yang sempurna

    ;(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, mbak Nova. Semoga demikian pula dengan dirimu :)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Pena Bunda © 2008. Design By: SkinCorner