Rabu, 02 Januari 2013

Anak Yang Unik


Bismillahirrahmannirrahiim...

       Tulisan kali ini bercerita tentang anak sahabatku. Aku ingin menjelaskan terlebih dahulu mengapa aku menceritakan tentang anak ini. Semata karena dia adalah contoh anak yang baik, pintar dan berbakti pada orang tuanya. Harapanku, kisahnya bisa menjadi masukan bagi kita orang tua tentang bagaimana mengarahkan anak-anak kita dengan baik dan benar.

       Sebuah komen di tulisanku yang berjudul Anak SMA: Sportifitas dan Berani, berhasil menarik perhatianku. Komen yang berkisah singkat tentang keberhasilan seorang anak laki-laki di usianya yang masih dini.





       Sejak itu, aku sering mendengar kisah tentang anak ini dari papanya. Aku memang belum pernah bertemu dengannya. Tapi cerita tentang dirinya, foto-foto yang dikirim sang papa padaku rasanya makin membuatku mengenalnya. Ditambah lagi dengan tulisan-tulisan tentang dirinya yang dibuat sang papa. Baik di blog yang khusus dibuat untuknya, ataupun di blog pribadi papanya.
         
       Dari papanya aku tahu kalau anak ini penggemar makanan pedaaaassss... Kalau makan tahu tek cabe rawitnya bisa 20 buah. Itupun sudah dibatasi. Kalau dibiarkan bisa lebih dari itu. Bayangin kalau yang beli tahu tek semua seselera dia, penjualnya bakal rugi cabe. Secara harga cabe kan mahal. Makan kalau ada sambel bisa nambah terus. Semoga ususnya kuat.

       Devondia Difa Indara. Nama yang unik. Seunik kemampuan dan hobinya. Putra semata wayang dari mas Insan Robbani alias Budhi Santosa Machida dengan mbak Fatma. Usianya baru 13 tahun. Kelas 2 SMP dengan bea siswa yang berhasil diraih karena prestasinya. Meski saat usia SD Devon sempat kesulitan mengikuti pelajaran karena belum menemukan metode belajar yang bagi dirinya. Di SMP akhirnya dia bisa tahu bagaimana dirinya bisa nyaman belajar. Maka beasiswapun tak sulit diraihnya. Dan sekalipun ketika SD secara akademis di sekolah prestasinya kurang gemilang, namun di luar itu, waktu Dev kelas 5 SD berhasil memenangkan juara membuat robot seJawa Bali yang diadakan oleh ITS Surabaya.

       Aku pernah ketawa ngakak sendiri waktu papanya cerita ulahnya waktu kecil ketika diajak makan ke Mc Donald. Devon mematikan saklar lampu yang membuat sebagian lampu disana padam. Pasti cukup menghebohkan suasana disana ketika itu.  Juga ketika diajak belanja ke swalayan, saat sedang antri di kasir tiba-tiba computer kasir mati, karena ulah Devon yang mematikan saklarnya. Hihihi... keren banget usilnya.

       Dan aku sering bengong kalau papanya cerita Dev membetulkan benda-benda elektronik yang rusak di rumahnya. Kegiatannya kalau libur selalu tidak jauh dari elektronik. Mulai dari AC, komputer papanya, TV, mengotak-atik blackberry papanya, dan lain-lain. Nggak perlu panggil tukang servis lagi. Semua beres di tangan Dev. Bahkan control panel listrik di rumah mereka pun dikerjakan oleh Dev. Kabel-kabel di rumah mereka diganti olehnya.

       Bukan hoax sebab papanya selalu mengirimkan foto Dev ketika bercerita tentang actionnya.  Ini beberapa foto saat Dev asyik dengan otak-atiknya. Selalu diambil dengan diam-diam sebab Dev tidak pernah mau difoto. Jadi sang papa selalu menjadi paparazi saat Dev serius dengan kerjaannya.


       Waktu papanya cerita Dev minta dibelikan alat las, yang terbayang olehku alat las yang biasa dipakai oleh tukang las. Yang harus memakai pelindung mata kalau sedang mengelas. Ternyata setelah dikirim fotonya, bentuknya hanya tabung begitu. Dipakai Dev untuk membetulkan outdoornya AC rumah.



       Masih asyik dengan AC juga. Paparazi beraksi hanya berhasil mengambil foto punggung saja. Kalau ketahuan bisa ngamuk Dev nya.


       Yang ini kalau tidak salah sedang mengganti kabel-kabel rumah. Bajunya kotak-kotak terus yaaa... qiqiqi... padahal kejadiannya beda hari.


       Lagi-lagi AC rumah. Punya berapa sih sebetulnya mereka itu. Kayaknya kok banyak betul yang diotak-atik Devon. Ngga ada kamus lem biru. Lempar beli baru... Dev selalu pantang menyerah kalau sudah bertekad membetulkan alat.


       Kalau ini bukan Devon, pasti aku mengira dia sedang betulin genteng bocor. Tapi ternyata Dev sedang membetulkan atau merapikan kabel rumah. Ada-ada saja ya kelakuannya. Baginya naik turun genteng sudah biasa. Makanya jangan gemuk-gemuk badanmu Dev... biar ngga susah naik turunnya.


       Foto ini dicuri waktu Dev sedang membetulkan CPU komputer. Ciamik banget daaah kemampuannya. Sampai komputer saja papanya nggak perlu ke tukang service. Ngirit banget yaak...



     
       Yang terakhir diceritakan sang papa adalah ketika Dev membetulkan TV mereka yang hilang gambar. Setelah diteliti dan disolder entah apanya, gambar bisa muncul kembali. Sesuatu banget deeeh...!

Ada cerita lagi. Devon masuk ke dalam loteng rumah, memasang ground supaya listrik tidak nyetrum. Dan itu semua atas inisiatif Dev sendiri. Papanya hanya menungguinya, menyaksikan dan diam-diam memfoto. Orisinil idenya Devon. Dan Devon pun mengendalikan listrik rumah dari kamarnya. Ck...ck..ck...


ini anak bisa begini ya? 

Pernah suatu ketika PC papa Devon rusak. Sudah dicoba diotak-atik tapi belum beres juga. Mau belum baru belum ada budgetnya. Devon mengusulkan untuk membeli motheboard, proccesor dan RAM, dan kemudian dia yang memasang semuanya. Dan taraaaaa!! Beres! Sang papa bisa ngeblog dan beraktifitas lagi.

biasa bongkar pasang CPU, bisa memperbaiki PC komputer papanya

    
       Untuk anak seusia Dev, kemampuannya patut diacungi jempol. Pastinya dari hobi itu bisa membuahkan hasil yang amat bagus. Sementara anak-anak seusianya lebih suka dengan hura-hura, Dev bisa memanfaatkan waktunya dengan baik. Kalau anak-anak seusianya sering minta dibelikan pakaian, mainan, gadget, atau minta uang buat main ke mall atau nonton, maka Devon lebih suka minta dibelikan alat bor, kabel dan alat elektronik lain penunjang hobinya itu.

       Devondia tidak hanya pandai dalam elektronik. Tapi dia juga mempunyai empati yang tinggi dalam hal berbagi rejeki. Ketika Idul Qurban lalu, Dev dan temannya membeli kambing dengan uang patungan. Dev minta tambahan dari papanya, tapi setidaknya dalam hati Dev ada rasa ingin berbagi dengan sesama.

       Papa Devon pernah ditawari oleh atasannya, akan membiayai study Dev ke luar negeri. Bisa memilih ke Jepang, Jerman atau Australia. Tapi papanya menolak karena tidak mau Dev akan terikat dengan kompensasinya kelak. Menurutku itu keputusan yang benar, sebab keberhasilan anak bukan tergantung dimana dia sekolah. Luar negeri tidak menjamin. Mengingat usia Dev yang masih belia, masih membutuhkan perhatian orangtuanya. Baguslah papa mamanya tidak tergiur dengan penawaran seperti itu.
      
       Devon juga sering belajar bagaimana mencari uang. Sering dia membantu mamanya yang sibuk dengan pekerjaan meriasnya atau pekerjaan rumahnya agar mendapatkan uang dari hasil kerjanya. Dengan demikian Dev jadi lebih menghargai uang yang diperolehnya dengan usahanya. Dan sekarang Dev suka menabung dengan minta dibukakan rekening di bank atas namanya sendiri. 

       Aku yakin, semua apa yang ada pada diri Devon saat ini adalah hasil kerja sama yang baik dari papa dan mamanya. Kedua orang tua Devon adalah contoh dari orang tua yang mampu mengarahkan anaknya sesuai minat dan bakatnya. Tidak saja dalam keilmuan, namun juga dalam akhlak perilaku. Rasa hormatnya kepada orang tua adalah bukti bahwa Dev tumbuh dalam kasih sayang yang baik.

       Kita memang tidak perlu membandingkan prestasi anak-anak kita dengan anak orang lain. Setiap anak itu unik dan punya kemampuan yang berbeda-beda. Tapi setidaknya ada poin yang bisa kita ambil. Bahwa setiap anak punya hak yang sama, yaitu mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya. Jika anak dibesarkan dengan perhatian dan kasih sayang, maka diapun akan tumbuh dengan sehat tidak saja  jasmani namun juga rohaninya.

       Buat Devondia, teruslah beranjak usia dengan nilai-nilai kebaikan yang ada sekarang. Dan semoga berkembang menjadi sebuah akhlakul kharimah yang istiqomah. Orangtuamu sudah menanamkan dasar-dasar keimanan yang baik. Tetaplah menjadi anak yang tawadhu dan hormat pada orangtuamu.
       
NB: Kalau ingin mengenal Devon lebih dekat, bisa mengunjungi blog Dev yaitu Media Techno. Disitu Dev menulis tentang segala informasi elektronik, gagdet dan lain-lain.

                  

96 komentar:

  1. Pertamax....
    sambil tersipu-sipu menutup wajah...
    Oalah Devon.. bisa masuk sini juga namamu nak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nutup wajah tapi ngintip khaaan....

      Jaga Dev ya mas... Potensinya bagus sekali. Mas Insan dan mbak Fatma lebih taulah apa yang harus dilakukan untuk Devon. Selamat ya sejauh ini berhasil mendidik Dev dengan baik.

      Hapus
    2. Jujur mbak, pagi ini saya sempat berkaca-kaca mata ini membaca tulisan ini, sebuah apresiasi yg tdk ternilai harganya. Bagaimanapun Devon tetap anak-anak yang kadang bandel butuh bimbingan dengan sabar. insya Allah masih panjang perjalanan Dev, masih banyak tahapan hidup yang harus dilalui. saya pernah mendatangi sebuah seminar parenting. Untuk level Balita sampai SD 90% yang diperlukan adalah edukasi tentang akhlak, untuk level SMP 75 % akhlak karena ini adalah masa transisi, Level SMA 50% karena dia sdh punya pola pikir mulai realistis dan dasar2 akhlak mulai terbangun dan untuk level selanjutnya 25%. Prosentase ini semata2 hanya untuk membangun pondasi yang kuat. balita dan anak2 lebih kuat daya serapnya terhadap input dari luar terutama orang tuanya. maka sangat benar sekali jika seorang anak bisa menjadi Nasrani, Yahudi dan Majusi bila kita tidak memberikan pendidikan akhlak yang baik dan benar

      Hapus
    3. Walaah.... sampai ada kaca gitu dimatanya... awas nyocok mata lho... hehehe...

      Makasih buat informasi ttg prosentase edukasinya. Semoga bisa menerapkan kepada anak-anakku.
      Kalau anak laki itu ada bandel-bandel dikit nggak apa-apalah. Dan mungkin sebetulnya itu bukan kebandelan, hanya cara berpikir saja yang berbeda antara ortu dan anak. Saya juga masih harus terus belajar mgn hal ini.
      Maklum anak banyak mas... beda2 sifatnya.

      Hapus
  2. wah hebat banget. sukses untuk Dev...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Atas nama Dev saya ucapin terimakasih..

      Hapus
  3. Aamiin...
    Iya ya mbak Rita... Masih SMP sdh punya kemampuan elektronik seperti itu.

    BalasHapus
  4. Hobi atau ktrampilan seperti ini selayaknya ditumbuhkembangkan karena sangat bermanfaat, positif dan kelak akan memunculkan karya yang ngedap-edapi.

    Di luar sana sudah banyak grup, misalnya genk motor, tawuran, dll yang negatif. So jangan biarkan anak-anak terpengaruh oleh mereka.

    Kisah yang menarik.

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul pakde. Terlalu banyak berita mengenai kenakalan anak remaja sekarang ini. Padahal yang berprestasi juga banyak.
      Tulisan ini semoga bisa mewakili apresiasi bagi remaja berprestasi yang jarang diangkat.

      Terima kasih pakde.

      Salam kembali dari Jakarta.

      Hapus
  5. Komentar saya:
    1. Ternyata gitu ya diam-diam sudah saling berkirim gambar diri anak masing-masing :(
    2. Ketahuan juga apa kepanjangan "S" si Om. Hahay..
    3. Kali pertama denger nama Devon, langsung teringat bos Michael dalam serial Knight Rider tahun 90-an dulu.
    4. Luar biasa kemampuan elektronika yang dimiliki Devondia.
    5. Selamat buat Cak Budhi dan Ning Fatma atas prestasi Devon yg membanggakan, baik secara akademis maupun keluhuruan pekerti.
    6. Saya (dengan berat hati & terpaksa) mendukung rencana apa pun yang digagas secara gerilya oleh kedua pihak yang bersangkutan.

    Akhirnya sebuah pantun cocok di pagi hari:

    Bila tak boleh, janganlah khianat
    Jika memaksa, tentulah celaka
    Anak saleh aset dunia-akhirat
    Orang tua pastilah bahagia.

    (mojok dan meras air mata--ihiks...)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawaban saya atas komentarnya:
      1. Lha masak kirim gambar aja harus pengumuman :)
      2. Kayaknya si om ngga ngumpetin kepanjangan "S" nya deh. Sebab namanya di bebe (maaf yaa...) huruf "S" itu dipanjangkannya.
      3. Kok inget aja sih nama artis itu. Dev ga perlu jadi rider dulu biar jadi knight.
      4. Setuju.
      5. Sama. Saya juga mengucapkan selamat buat papa mama nya Dev. Titip Dev, jagain yaaa... :D
      6. Terima kasih atas dukungannya, meskipun itu dilakukan dengan berat hati. Tapi jangan kuatir, kalau soal jengkie ngga akan nyampai ke Surabaya.

      Hapus
    2. ketahuan mas Belalang tidak pernah baca di profil penulis Media Robbani, disitu kan dibeberkan seluas2nya tentang profil saya.

      walau dengan berat hati dan terpaksa tapi yang penting mendukung kan..? hihihihi..

      Hapus
  6. Awal baca paragraf awal, pikiranku lgsg nebak, ini pasti akan cerita tentang Devon, eh ternyata bener! Hihi..

    Wah Devon luar biasa cemerlang pengetahuan dan kreatifitasnya ya mas Insan! Keren banget. Mudah2an kelak akan jadi salah satu aset penting dalam memajukan negeri ini ya nak!

    Trims for share mba Niken!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Alaika memang mengnal aku dengan baik... hehehe...

      Karena kemampuan Dev itulah yang bikin aku pengen nulis tentang dia. Semoga bisa menjadi motivasi buat anak-anak yang lain termasuk anak-anakku sendiri.

      Ur welcome mbak Al... Sampai mana nih sekarang?

      Hapus
    2. Aamiin..
      Itu harapan saya sbg orang tuanya mbak Al...

      Hapus
  7. MasyaAllah....
    pagi-pagi gini dah disuguhin menu istimewa oleh bunda,
    luas biasa, salut pada Dev, semoga lebih bnyk lg dev-dev yang lainnya.. amin ya Allah,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... pasti banyak Dev Dev yang lain di negeri ini.
      Selama orang tua sepakat memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknya.

      Hapus
  8. Weleh weleh,
    Begini rupanya kalau kang KM mendidik anaknya, jadi kreatif banget. Gimana kalau ntar aku punya anak kang KM yang jadi pendidiknya? ˆ⌣ˆ

    Selamat dah buat Dev, ortunya juga camernya. Salut juga sama orang tua seperti kang KM dan ibunya Dev. Aku jadi punya dua pasang ortu mengagumkan nih, kang KM dan bunda Lahfy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang KM..? Hmmmm....

      Jiaaaahhh... mau nitipin anak... wani piroo..? #diwakili jawabnya

      Hahaha.. camernya memetik hasil dari jerih payah ortunya.. enak banget yaaak...
      Naah kalo mau jadi anak kami, jangan lupa cuci kaki, cuci tangan dulu kalo mau bobok.. wkwkwk...

      Hapus
  9. orang tua memang harus pandai mengarahkan hobi dan kemampuan anaknya,
    agar anak tahu kemana arah selanjutnya yang harus dia ambil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Siti Murjanah... kadang kita hanya fokus pada prestasi akademis anak saja. Padahal kemampuan anak mungkin di bidang lain. Bisa menggali potensi anak dan mengarahkan adalah keharusan.

      Hapus
  10. Prinsip saya ketika mengajarkan anak2 sy belajar adalah :

    Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya belum menemukan metode belajar yang tepat

    Dan ternyata mas Insan pun berpikiran yang sama. Terbukti pada Devon, ketika menemukan metode belajar yang tepat dia terlihat berprestasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak Myra.
      Memang begitulah seharusnya sbg orang tua. Menggali dan mencari metode belajar yang pas buat anak2nya.

      Hapus
    2. Betul Mbak Myra sangat setuju itu
      pernah saya ulas disini http://mediaindara.blogspot.com/2012/10/kenali-putra-putri-sendiri.html

      Hapus
  11. Terima kasih bunda, udah share tentang devon.. Asli kagum saya..

    malu kl dibandingkan dengan diri ini.

    semoga semakin banyak devon2 lain yang menyusul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali mas Syafi'i...
      Jangan bandingkan diri sendiri dengan orang lain mas...
      Cerita ini juga tidak membuat saya berkecil hati pada ke5 anak saya yang berbeda dgn Devon. Mereka semua akan menjadi seseorang kelak.

      Hapus
  12. Sungguh, saya juga salut banget sama Mas Devondia Difa Indara. Usia 13 tahun, tapi kemampuannya sudah luar biasa. Semoga semakin kreatif, shalih, dan berhasul meraih cita-cita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur nuwun Pak Ustadz Azzet, doa teman2 yg shalih dan shalihah insyaAllah lbh mdh diijabahi

      Hapus
    2. Aamiin Ya Rabb...
      Bisa menjadi contoh yang baik ya pak Azzet.

      Makasih pak...

      Hapus
  13. Semoga Dev jd anak yg tambah sholeh dan berprestasi,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Rabb...
      itulah harapannya.
      Trimakasih mbak Dian.

      Hapus
  14. Wow devon keren ya Bun
    Semoga bisa terus berkembang dan menggunakan keahliannya untuk bangsa

    Beneran jadi besanan to *lirik Pak Belalang hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuih Esti malah manas2in, itu mas Belalang udah ngasah golok mainan Bumi

      Hapus
    2. Aamiin.. makasih mbak Esti...
      Mas Belalang ga bisa dilirik lhoo mbak... dia biasa dipelototin... wkwkwk...

      Hapus
  15. Do'a dan Kerja Keras.. Selamat untuk mas Insan, sudah bisa menikmati sedikit hasil dari permohonan dan jerih payahnya.. :)
    #pantas berbagi untuk kita semua, terlebih saya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini salah satu gurunya Devon, Devon sering merengek minta chat ke Om Andro untuk nanya2 tentang listrik. Kan Om Andro ini ahli bidang listrik

      Hapus
    2. Begitu ya mas Andro.
      Rupanya Dev juga dapat masukan dari mas Andro yaaa...
      Sering2 ngajarin Dev ya mas... biar tambah pinter Devonnya... :D

      Hapus
  16. kecil2 cabe rawit ini devon, tapi yaa kalau kopdar tak bilang om insan ajak devon lho ndak mau kok, padahal kan bisa tuh salign bagi2 informasi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Devon segede gitu kok kecil sih Niar... qiqiqi....piss mas Budhi...

      Hapus
    2. Sudah diajak tapi dia gak mau...

      Hapus
    3. kalau diajak ke Jakarta harus mau ya Devon...

      Hapus
  17. saya angkat topi untuk si devon..

    semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakai lagi topinya mas Affanibnu...ntar kehujanan... hehehe...
      Bisa menjadi inspirasi buat kita semua... itulah harapannya.
      Makasih ya.

      Hapus
  18. Salut buat Devon dan ortunya....
    Biasanya ortu tak akan membiarkan anaknya bermain dengan yang namanya listrik. Lah ini malah diberi dukungan untuk mengembangkan bakatnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya juga ya mbak Tarry...
      Ada lho foto Dev waktu SD yang sedang otak-atik lampu. Pernah dikasih lihat, tapi kemaren saya cari kok ga nemu...

      Hapus
    2. Yang penting tetap diawasi dan diberi pengertian ttg dasar2 listrik, terutama harus tetap di test pakai tespen dulu biar save

      Hapus
  19. Balasan
    1. Hai Devon...
      Lihat deh nak.. banyak yang kagum sama kamu...
      Teruslah belajar yaa... Semoga Dev akan mencapai harapan yang dicita-citakan. Aamiin.

      Hapus
  20. setiap anak itu unik jangan disama-sama kan dengan anak lainnya ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuup betul mbak Lidya...
      Kasihan anaknya kalau dibanding2kan. Kita juga ngga suka kan dibanding2kan...

      Hapus
  21. heummmm,devon hebat ya....
    **ngelus2 peyut,moga anakku pinter kyk devon ya aminn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ooowwh sedang hamil ya mbak...
      Selamat yaaa...
      Semoga kebaikan-kebaikan Devon bisa menular keanak2 lain.

      Hapus
    2. Jangan seperti Devon harus lebih dari Devon

      Hapus
  22. Cerita inspiratif, dibalik keberhasilan orang tua para sahabat blogger ternyata dapat menukarkan dan mengarahkan kretifitas anak dengan bijak. Hingga anak selalu dalam kehangatan kasih sayang yang tepat dengan inovasi kecerdasan yang dimilikinya.

    Selamat Kang Insan Robbani yang sampai hari ini bisa menjaga amanah Nya. Semoga dapat menjadi contoh nasehat kebaikan untuk sesama.

    Sukses selalu
    Salam Wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya yakin kisah Devon ini akan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Makanya saya menulisnya. Buat saya pribadi, ini merupakan motivasi untuk lebih memperhatikan minat dan bakat anak-anak saya.

      Makasih mas Indra...
      Salam sukses selalu.

      Hapus
  23. Dengan artikel ini aku jadi bisa tahu putranya mas insan,boleh donk aku berkenalan dengan mas devon, heheheheee
    Aku mau minta di ajarin biar pinter :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mau kenalan sama Devon harus nyamperin ke rumahnya mas.... Kalau udah pinter kasih tau saya ya mas Irfan... hehehe...

      Hapus
    2. waduh hehehee susah juga kalo begitu yah :D
      Bagi tips nya aja deh, katanya mas devon sudah menemukan cara belajar yang baik untuk menjadi anak yang pintar mungkin itu bisa di terapkan juga :)

      Hapus
    3. Owhh... soal cara belajar itu pernah dibahas sama papanya Dev. Coba baca ini... http://mediaindara.blogspot.com/2012/10/kenali-putra-putri-sendiri.html

      Hapus
  24. Yah, keren amat ma devon. Aku aja yang umur segini belum bisa kayak dia :D saluut dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren memang yaaa...
      Emang mas Rhaka umur berapa? hehehe...

      Hapus
  25. keren cara mendidiknya, saya masih berjuang menemukan metode belajar yang tpat bagi anak-anak saya, agar mereka bisa menemukan kemampuan terbaiknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mbak. Saya yang menulis ini saja juga masih mencari metoda belajar anak saya. Ada yg sudah ketemu ada yang belum pas kayaknya.

      Hapus
  26. wah, saya jadi pengen tahu gimana metode pembelajaran yang dilakukan oleh orang tuanya. karena kreatifitas anak tidak akan muncul kalau orang tuanya tidak memperhatikan masalah itu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Rochma... pastinya ini juga atas bimbingan dari kedua ortunya.
      Mas Budhi mungkin sebaiknya yang menjawab sendiri.

      Hapus
    2. Tidak ada yang istimewa kok...kenalin dulu jenis putra-putrinya, lebih lengkap baca disini http://mediaindara.blogspot.com/2012/10/kenali-putra-putri-sendiri.html

      Hapus
  27. Devon boleh dipinjem sebentar gak ya, pinter banget sih .. hehe
    Selamat buat mas Insan yg sudah menemukan kelebihan & berhasil mengarahkan Devon.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga udah ngumpulin alat elektronik yang rusak nih bu Dey... :D

      Hapus
    2. boleh Mbak pinjem berapa hari?
      sebetulnya setiap anak itu punya kelebihan dalam bidang tertentu, tinggal kejelian ortu aja, yang penting jangan memaksakan kepada sang anak...

      Hapus
  28. Balasan
    1. Iya mas Ahmad Saadilah.
      Salam kenal kembali.

      Hapus
  29. wah keren bisa mbeberin AC tuh.
    padahal AC ntu kompleks loh.
    kalo salah seting malah bisa nggak dingin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau buat saya setrikaan juga udah kompleks lo mas...
      hehehe...

      Hapus
  30. kerennn si abang Devon mah..pasti banagga sekali ortunya ya bun,

    siapa sih ortunya ? boleh kenal ga ? he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. lhaaa saya yang kenal seliwatan aja bangga kok Mi.. apalagi orang tuanya.

      Ini pasti ortunya baca. Biar dijawab. Kalau ngga ada yg ngaku ntar saya yg ngaku... wkwkwk...

      Hapus
    2. yuhuuuiiiii
      siapa sih orang tuanya... *clingak-clinguk

      Hapus
    3. masa punya satu masih mau diambil juga...
      mau di genapin setengah dosin..??

      Hapus
  31. Alhamdulillah, punya anak yang terlatih, mungkin dulu saat rasa ingin tahunya tersalurkan dari lomba robot dan otak-atik barang2 di rumah yaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya begitu. Mari kita tanya pada papanya saja. Saya juga kurang tau... :D

      Hapus
    2. dari kecil memang anak ini punya kecenderungan di bidang tehnik dan electro, setiap ada tukang datang mau betulin apapun harus ada dia

      Hapus
    3. kalau tukang tahu tek lagi ngulek bumbu juga harus ada dia ya mas..... hehhe...

      Hapus
  32. wah kalo masih SMP udah bisa kayak gini berati bakat ni nda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang demikian sprtinya mas Rinem...
      Ditambah mental dan akhlak yang kuat, dia akan jadi orang hebat kelak.

      Hapus
  33. Semangatnya itu loch...selama dia masih bisa dan belum menyerah kenapa harus orang lain yg membetulkan. Semoga saja ketika besar banyak bakat2 lainnya yg bisa dia gali...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas... semangat nya itu memang luar biasa.
      Kalau di rumah saja begitu banyak yang bisa dia dapat. Kalau di rumah saja dia bisa byk belajar. Why not?

      Hapus
  34. Luar bisa Dev ya Bun :)

    Salut deh, Mas Insan dan Istri tentu bangga :)

    Maaf sudah lama tak berkunjung...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Yunda...
      Dev memang beda.
      Kekompakan papa mamanya bisa tergambar pada sosok Dev.

      Trimakasih kunjungannya. :)

      Hapus
  35. Wahh bener2 hebat Devon, jarang lohh anak seusianya punya kemampuan spt itu..btw TV dikamar anakku ga muncul gambarnya tuh, padahal baru 2 tahun, kalo rumahnya deket mah minta tolong Devonnn...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... anterin aja mas ke Surabaya. Serivice gratis tapi ongkos tanggung sendiri.

      Hapus
  36. Dev anak cerdas ya, pengennya ngutak-ngatik barang terus

    BalasHapus
  37. Wah sepetinya ada tambahan posting ini....
    Siapa sih di Devon ini kok sampai ditulis disini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, tau aja kalau ada tambahannya.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Pena Bunda © 2008. Design By: SkinCorner