Rabu, 26 Desember 2012

#Postcardfiction: Kemenangan



“Jangan Ma, jangan lakukan itu padaku,” Viet memohon sambil menatapku penuh harap.

“Tapi ini hadiahnya besar Viet. Lumayan kalau mama menang,” aku masih tetap dengan pendirianku.

“Viet tidak rela ma. Viet tidak suka mama melakukan itu,” seraya bangkit Viet meninggalkanku yang masih asyik di depan komputer.

**** 

“Viet cantik sekali. Rambutnya indah panjang terurai sampai bawah bahu,” kuperhatikan foto-foto Viet yang tersimpan di file picture satu persatu.

“Ah, yang ini manis sekali senyumnya.” Sosok Viet menambah indah pemandangan pantai di belakangnya. Gaya khas remaja begitu ceria. Mengingatkanku pada moment bahagia itu. Viet dan adiknya tertawa lepas menikmati pasir putih pantai Pangandaran. Viet mengenakan celana pendek biru dan T shirt putih. Cuaca cerah, panorama pantai dan kecantikan Viet... sebuah kolaborasi pemandangan yang indah sekali.

Aku hendak menulis perjalanan itu dan kuikutsertakan dalam sebuah kontes menulis yang bertema tentang obyek wisata. Dengan dokumentasi yang lengkap dan indah-indah itu, aku rasa bisa menjadi sebuah artikel yang bagus.

Tapi kata-kata Viet terus menggangguku. Sebetulnya dalam hatiku sendiri sejak semula sudah ada perdebatan hebat. Perdebatan dua kata hati yang berlawanan. Kata “jangan” dan “nekat saja” bagai berada di medan perang. Iming-iming hadiah uang dalam jumlah besar itu menguatkan kata “nekat saja”. Dan ketakutan akan melakukan kesalahan mendukung kata “jangan”.

Sesaat kupejamkan mata. Kuambil senjata keimanan untuk melawan kata hati yang menyerangku dengan nafsu. Dalam hati kuteriakkan kata,”Tidak...!” Aku tidak akan mengorbankan Viet hanya demi imingan hadiah. Tak mungkin kudzolimi anakku hanya demi sebuah artikel.

Kemenangan telah aku raih bahkan tanpa mengikuti kontes apapun.

“Viet... maafkan mama. Mama khilaf tadi. Terima kasih Viet ingatkan mama. Mama sayang kamu. Mama akan selalu melindungimu. Mama tidak mungkin mengumbar auratmu yang kini sudah kau tutup rapat, meski hanya dalam foto. Kebaikan hatimu menenangkan mama.”

Viet memelukku sambil berkata pelan ditelingaku,”Mama yang mengajarkan semua ini padaku. Terima kasih ma.”


20 komentar:

  1. Akhirnya, nafsu untuk meraih hadiah bisa terkalahkan.
    Saya jadi ingat kisah teman SMA saya pas baru mulai berhijab dulu. Ia dipaksa ibunya ikutan kontes model dan ia terpaksa patuh :(

    BalasHapus
    Balasan

    1. Banyak sekali peristiwa seperti itu disekitar kita. Demi ketenaran, akidah dikorbankan.

      Hapus
  2. Allhamdulillah si mama sadar ya. mbak niken apa kabar? maaf aku baru bisa bw nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mbak Lidya....
      Kabar baik... Kemana aja...?

      Hapus
  3. Sederhana temanya, dalam maknanya
    Oh ini tho namanya posrcard fiction..saya menamakan Cermin (Cerita Mini)
    Belajar mbuat ach

    Maju terus
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  4. Senjata kekuatan iman
    dahsyat terasa kata ini
    semoga itu saya miliki
    agar menjadi manusia kuat
    melawan godaan syaetan dan hawa nafsu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah kita memiliki itu ya Kang Haris...

      Hapus
  5. wah, makin sip aja goresan penanya nih mba.... singkat, padat dan mampu menyematkan pesan moral!

    keep writing and you will surprise to know how good you are at it!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...
      Thank you dear...
      You make me on fire...!

      Hapus
  6. Ungkapan hati tentang yang kemarin ya bund? Tulus dan jujur. Untuk ini aku haturkan salut buat seorang ibu seperti bunda. Saribu salut. Moga menang ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bunda seperti apa aku ini mas? :)
      Aku bungkus ya seribu salutnya. Dikasih pita ungu dan ditambah oseng terong campur teri... :D

      Hapus
  7. itu pertarungan antara hati dan nafsu ya mbak?
    alhamdulillah siputih dengan bersenjatakan iman mampu meluluh lantakkan si hitam... good job..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... siputih masih sadar dengan akidahnya.

      Hapus
  8. Wah kok ga jadi sih? Mupeng---baru aja mau menculik Fanni :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mupeng sama apa nih mas...? Pengen ke Pangandaran..?

      Hapus
  9. ringan tapi syarat akan makna :))
    keren Bund, hati nurani seorg Ibu lebih kuat dbding rasa ego nya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak...
      Kuatnya kasih sayang seorang ibu yang menyadari bahwa sekali menutup aurat pantang dibuka lagi sekalipun hanya dlm foto.

      Hapus
  10. banyak hikmah membaca tulisan ini,
    hati nurani selalu akan menjadi penolong ketika kita terjebak di antara 2 pilihan.
    Subhanallah sekali bunda. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga sang bunda dan putrinya istiqomah ya mas Banyu... :)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Pena Bunda © 2008. Design By: SkinCorner